Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Butuh Pertolongan!


__ADS_3

***


Di sisi lain, Xyan yang saat ini masih berada di kantor perusahaannya tiba-tiba merasakan firasat yang sangat buruk dan dengan reflek menolehkan kepalanya ke arah jendela kantornya sambil bergumam “Apa Shanika sudah pulang ke Apartemennya?” dengan ekspresi khawatirnya setelah ia melihat langit yang sudah semakin gelap.


Tidak lama kemudian, anak buah Xyan yaitu Gavin dengan langkah kakinya yang cepat memasuki kantor Xyan dan tanpa basa basi langsung mengatakan “Tuan, saat ini ada yang tidak beres!” dengan wajah seriusnya kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan mengerutkan dahinya dan membalas tatapan mata Gavin dengan lekat.


“Ada apa?” tanya Xyan dengan wajah seriusnya juga.


“Saat ini ada aura yang sangat gelap mengelilingi gedung Kampusnya Nona Shanika,” jawab Gavin dengan ekspresi khawatirnya, yang saat itu juga membuat Xyan segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kantornya untuk merasakan aura gelap yang Gavin maksud.


Selama beberapa detik Xyan terdiam sambil memejamkan matanya, setelah itu kembali membuka matanya sambil bergumam lagi “Sepertinya ada yang membangkitkan penunggu terkuat di tanah itu,” dengan wajah seriusnya.


“Sekarang, kamu pergilah ke Apartement… dan pastikan Shanika sudah pulang ke Apartementnya!” perintah Xyan kepada Gavin dengan reflek dan nada bicaranya yang sangat tegas, yang seketika itu juga membuat Gavin menundukkan kepalanya dan segera pergi keluar dari dalam kantor perusahaan Xyan tanpa banyak bicara lagi.


Sedangkan Xyan yang merasakan getaran aneh dengan aura gelap yang mengelilingi gedung kampus Shanika, saat itu juga segera memakai jas hitamnya dan mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja kerjanya untuk pergi sendiri ke gedung kampus Shanika.


Tapi, sesampainya Xyan di tempat parkiran mobilnya, saat itu juga ia melihat Gavin yang sedang terkapar kesakitan “Tuan,” sambil menatap Xyan dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


Dan tanpa bicara sedikit pun, Xyan langsung menolehkan kepalanya dan menatap tajam sosok wanita yang bukan lain adalah kakak tirinya yaitu Zoya “Oops, tanpa sengaja aku mendorong anak buahmu,” ucap Zoya sambil melambaikan tangannya kepada Xyan dan memasang senyuman yang menyebalkan.

__ADS_1


“Berani-beraninya kamu datang ke sini!” balas Xyan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat marah kepada Zoya.


Tapi, bukannya merasa takut. Saat itu juga Zoya tertawa dan kembali berkata “Aku yakin, tanpa mengatakan apapun… kamu pasti sudah tahu maksud dari kedatanganku ke sini,” dengan tatapan tajam dan senyum sinisnya yang terlihat penuh ancaman.


“Kamu,” perkataan Xyan pun terputus dan pikirannya langsung tertuju kepada Shanika, yang saat itu juga membuat Zoya kembali berkata “Benar! Saat ini, wanita itu berada di dalam kegelapan!” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat puas.


Xyan yang merasa semakin marah, detik itu juga langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoya, setelah itu langsung menarik kerah pakaian Zoya dengan sangat kasar menggunakan tangan kanannya sambil berkata “Beraninya kamu mengancamku!” dengan tatapan matanya yang sangat intens.


“Apa maksudmu? Aku melakukan hal ini kan hanya untuk menyadarkannya… kalau mata yang ia miliki sangatlah berbahaya,” balas Zoya dengan senyuman tipis dan tatapan mata yang penuh dengan ketidakwarasannya.


Yang seketika itu juga membuat Xyan semakin kesal dan dengan reflek langsung menghempaskan tubuh Zoya dengan sangat kasar “Brak!” hingga menubruk pada mobil yang ada di belakangnya “Akh, sial!” keluh Zoya sambil tertawa cekikikan sendiri.


***


Sedangkan Shanika yang saat ini masih terjebak di dunia lain, benar-benar sudah tidak bisa berkutik lagi karena para hantu penunggu tanah mengikat kedua tangannya pada sebuah kayu dan dengan perasaan campur aduknya Shanika berpikir “Kenapa? kenapa mereka menginginkan mataku?” dengan wajah paniknya.


“Dan… apa maksudnya dengan mata pengantin Iblis?” pikir Shanika lagi dengan nafasnya yang sedikit bergetar karena perasaan takutnya yang tidak kunjung hilang atau pun mereda.


Beberapa detik kemudian, Shanika pun kembali mendengar suara ketakutan dari para hantu yang terkurung di balik jeruji besi dan disusul juga dengan suara langkah kaki hantu wanita bergaun merah yang semakin dekat padanya, yang seketika itu juga membuat Shanika memberanikan dirinya untuk melihat lurus kehadapannya.

__ADS_1


“Lepaskan aku,” ucap Shanika dengan sisa keberanian yang ia miliki kepada hantu wanita bergaun merah itu “Pft! Apa katamu?” tawa hantu wanita bergaun merah itu dengan kedua bola matanya yang melebar dan senyuman anehnya yang terlihat sangat mengerikan.


“Baiklah, aku akan melepaskanmu… Tapi, setelah aku berhasil mendapatkan matamu!” sambung hantu wanita bergaun merah itu sambil mengeluarkan benda tajam kesukaannya dari dalam saku gaun merah yang ia gunakan saat ini.


Shanika yang melihat benda tajam yang digenggam oleh hantu wanita di hadapannya itu pun langsung tersentak dan segera berkata “A-apa yang akan… kamu lakukan?!” dengan nada bicaranya yang panik dan sangat bergetar karena perasaan takutnya yang sulit untuk ia kendalikan lagi.


“Ka-kamu pasti sudah tidak waras!” jerit Shanika yang saat itu juga membuat para hantu lemah yang memperhatikannya ikut merasa ketakutan.


“Hah… kamu sama saja dengan para warga di Kotaku dulu,” balas hantu wanita bergaun merah itu sambil menyentuh lembut benda tajam yang saat ini ia genggam dengan jari jemarinya yang lentik “A-apa?” gumam Shanika sambil mengerutkan dahinya.


“Padahal aku hanya melakukan hobiku seperti biasanya saja,” sambung hantu wanita bergaun merah itu sambil memasang ekspresi sedihnya.


Tapi, dalam hitungan detik wajah sedih hantu bergaun merah itu berubah menjadi wajah datarnya dan sambil menolehkan kepalanya ke arah Shanika, ia kembali berkata “Pertama-tama, biarkan aku memperindah wajahmu!” dengan senyuman lebarnya yang terlihat sangat mengerikan di mata Shanika.


“Tidak… pergi dariku! Tidak!” panik Shanika saat hantu wanita itu berjalan mendekatinya dan mulai memegangi wajahnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya lagi sudah siap untuk menggoreskan wajah Shanika dengan benda tajam yang ia genggam erat.


“Aku paling benci melihat wajah wanita lain yang lebih cantik dariku,” ucap hantu wanita bergaun merah itu dan tanpa berlama-lama lagi langsung menekan benda tajam yang ada ditangannya pada pipi sebelah kiri Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika menjerit kesakitan dengan sangat kencang dan menangis sejadi-jadinya, sedangkan hantu wanita bergaun merah dihadapan Shanika merasa sangat senang.


Tapi, kesenangan hantu wanita bergaun merah itu tidak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian ia mendengar suara anak buahnya yang berada diluar ruangan itu menjerit memanggil namanya “Akh! Siapa yang berani menggangguku!” bentak hantu wanita bergaun merah itu sambil menghentikan tindakan kejamnya kepada Shanika dan berdiri dengan tegak dihadapan Shanika yang masih menangis kesakitan.

__ADS_1


Dan detik itu juga, pintu ruangan aula yang sangat besar itu terbuka dan bayangan seorang pria muncul dari kejauhan, yang tidak lama kemudian berhasil membuat hantu bergaun merah itu terpikat dan dengan ekspresi terkejutnya berkata “Iblis?” saat melihat wajah Xyan yang dipenuhi dengan aura kematian yang sangat mencekam.


__ADS_2