Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Energi Pemulihan Sang Iblis


__ADS_3

“Setelah ini, lebih baik kita tidak membicarakan soal energiku lagi. Aku tidak mau Shanika sampai mengetahui hal ini,” ucap Xyan lagi sambil mengambil gelas kaca yang ada di atas meja untuk ia berikan kepada Shanika yang masih belum sadarkan diri.


“Ya, saya mengerti Tuan,” balas Gavin sambil menundukkan kepalanya dengan penuh sopan santun, setelah itu Gavin pun segera berpamitan untuk pergi menyelesaikan tugas dari Xyan yang memintanya untuk mencari tempat persembunyian para Iblis berwujud hewan.


Dan setelah melihat kepergian Gavin dari Apartement Shanika, tanpa berlama-lama lagi Xyan segera menghampiri Shanika dan membuat Shanika yang masih memejamkan matanya untuk meneguk semua air di dalam gelas kaca yang sejak tadi sudah ia bawa-bawa sampai tidak tersisa sedikit pun.


“Semoga ini berhasil!” ucap Xyan sambil menggenggam tangan kiri Shanika dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya.


***


Sekitar setengah jam kemudian, Shanika pun mulai menggerakkan bola matanya dan secara perlahan membuka matanya, yang seketika itu juga membuat Xyan yang masih duduk di samping tempat tidur segera menatap wajah Shanika dan berkata “Kamu sudah sadar? Ah, syukurlah!” dengan perasaan leganya.


“Xyan? Kamu… menolongku?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lemas dan penuh perasaan cemasnya.


“Tentu saja! Karena aku akan selalu disisimu,” jawab Xyan sambil mengecup lembut tangan kiri Shanika yang hingga saat ini masih ia genggam dengan sangat erat.


Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung merasa sangat terharu dan dengan reflek kembali berkata “Hiks! A-aku kira… aku akan mati!” sambil menangis sesegukan dihadapan Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa kebingungan harus bereaksi seperti apa kepada Shanika.


“Tidak-tidak, kamu tidak akan mati. Tenanglah,” balas Xyan sambil mengusap air mata Shanika yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


“Saat pingsan, aku seperti melihat malaikat maut yang siap menjemputku! Hiks!” ucap Shanika lagi sambil terus menangis, yang saat itu juga membuat Xyan mau tidak mau segera memeluk tubuh Shanika dan mengusap kepala Shanika dengan penuh perhatian.


“Tenanglah, kalau ada malaikat maut yang mendatangimu… aku sendiri yang akan melawannya!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan, agar Shanika merasa jauh lebih tenang dan merasa aman, karena bersama Xyan.


“Hiks! Janji, ya!” pinta Shanika sambil mengusap kedua matanya secara bergantian, setelah itu langsung membalas pelukan hangat Xyan dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya dalam posisi yang masih tidur di atas tempat tidurnya.


Tidak lama kemudian, setelah Shanika sudah merasa jauh lebih tenang. Dengan wajah seriusnya, Xyan memeriksa kondisi tubuh Shanika dan detik itu juga ia merasa sangat lega karena racun yang berada di dalam tubuh Shanika sudah benar-benar menghilang “Sekarang sudah aman semua,” ucap Xyan dengan perasaan leganya lagi.


“Jadi, maksudmu… aku pingsan karena ada racun iblis ular di dalam tubuhku?” tanya Shanika dengan reflek, setelah ia mendengarkan cerita singkat yang Xyan ceritakan kepadanya.


“Iya… dan sepertinya Iblis ular itu bukannya sedang mengincar nyawamu, ia pasti ingin mengincar kepalamu. Tapi, karena racunnya hanya ada sedikit, pada akhirnya dia berusaha mengincar nyawamu,” jawab Xyan yang menjelaskan rencana Iblis ular itu dengan sangat detail.


Hingga beberapa detik kemudian, dengan perasaan yang sangat kacau, Shanika pun menghela nafas lelahnya dengan cukup kasar setelah itu kembali berkata “Maafkan aku, karena sudah membuatmu kerepotan dan terus merasa khawatir,” dengan tatapan bersalahnya kepada Xyan, yang saat ini sudah duduk di tempat tidur, tepat di sampingnya.


“Kamu tidak merepotkan sama sekali. Mau bagaimana pun juga Iblis-iblis itu memang sudah mengincarmu,” balas Xyan sambil memasang senyuman manisnya kepada Shanika dan membalas tatapan mata Shanika dengan sangat lekat.


“Hm… kamu benar,” gumam Shanika dengan wajah lelahnya dan saat Shanika melirikkan matanya, tanpa sengaja matanya tertuju kepada telapak tangan kanan Xyan yang dibalut oleh kain putih “Ada apa dengan tanganmu?!” panik Shanika.


Dan saat itu juga, Shanika langsung menarik tangan kanan Xyan “Apa tanganmu terluka?!” tanya Shanika lagi dengan nada bicaranya yang semakin meninggi “A-aku baik-baik saja,” jawab Xyan dengan senyuman canggungnya.

__ADS_1


Detik itu juga, Xyan pun berpikir tidak mungkin baginya untuk bercerita kepada Shanika kalau belakangan ini energi pemulihannya terhadap luka sudah semakin memakan waktu yang lama, karena itu ia berusaha menutupi bekas lukanya yang tidak langsung hilang dengan kain putih.


Tapi, karena tiba-tiba Shanika menyadari kain putih yang membalut lukanya, saat itu juga Xyan merasa kebingungan. Xyan bahkan dibuat lebih terkejut lagi saat tangan Shanika langsung bergerak untuk membuka kain putih yang membalut lukanya.


Yang seketika itu juga membuat Shanika, dapat dengan jelas melihat luka goresan benda tajam yang  cukup dalam di telapak tangan Xyan “Ke-kenapa tanganmu terluka seperti ini? dan kenapa lukanya tidak langsung sembuh?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Ah, soal itu,” gumam Xyan sambil berusaha menutupi lukanya kembali dengan kain putihnya.


“A-apa kamu sudah bukan setengah Iblis lagi?!” tanya Shanika tiba-tiba dengan ekspresi anehnya kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak dan langsung tertawa “Ha? Tentu saja aku masih setengah Iblis! Memangnya kalau lukaku tidak langsung sembuh… aku akan menjadi manusia seutuhnya?” balas Xyan sambil terus tertawa pelan dihadapan Shanika.


Tapi, karena perkataan Xyan itu Shanika pun langsung tersentak dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya seakan tidak percaya kalau Xyan bisa kehilangan kekuatannya “Kamu akan menjadi manusia, sama sepertiku?!” ucap Shanika dengan kedua bola matanya yang membelalak.


Sedangkan Xyan yang berusaha mencerna obrolan di antara dirinya dan Shanika, detik itu juga langsung kembali menatap Shanika dengan lekat dan dengan reflek berkata “Tidak buruk juga,” dengan senyuman manisnya, yang seketika itu juga membuat jantung Shanika berdebar-debar dan wajahnya pun memerah.


“Haha! Ada apa dengan ekspresimu?! Aku kira kamu akan khawatir, karena melihat lukaku dan mengetahui kalau energi pemulihanku sudah berkurang! Tidak aku sangka, kamu akan terlihat senang begitu,” sambung Xyan sambil tertawa pelan karena reaksi manis yang Shanika tunjukkan kepadanya.


“Tentu saja aku khawatir pada lukamu! Tapi, aku tetap senang bagaimana pun keadaanmu saat ini,” balas Shanika sambil mengusap lembut kain putih yang menutupi luka di telapak tangan Xyan dengan jari jemarinya.


“Walaupun itu artinya aku tidak bisa melindungimu lagi dengan kekuatanku?” tanya Xyan dengan reflek lagi, yang saat itu juga membuat Shanika menganggukkan kepalanya dan berkata “Yang penting kamu terus bersamaku!” dengan wajah cerianya, yang detik itu juga membuat Xyan tersenyum lebar dan langsung memeluk Shanika dengan erat, sambil mengucapkan kata terima kasihnya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2