
Xyan yang melihat reaksi diam wanita dihadapannya itu pun segera melangkahkan kakinya untuk kembali berhadapan dalam jarak dekat dengan wanita itu sambil berkata “Jangan bilang, selama ini kamu ingin aku anggap sebagai Kakak?” tanya Xyan dengan tatapan mata yang terlihat sangat merendahkan.
“Hah, lucu sekali! Aku jelas berbeda darimu yang memiliki darah campuran,” jawab wanita cantik dihadapan Xyan dengan nada bicaranya yang sinis, sambil mendorong tubuh Xyan dengan jari telunjuknya.
Setelah itu, tanpa banyak basa basi lagi wanita cantik itu melangkahkan kakinya untuk pergi sambil berkata “Kedepannya tidak akan semudah ini. Jadi, jangan terlalu kaget!” dan langsung menghilang dalam hitungan detik dari pandangan Xyan.
Beberapa detik kemudian, Xyan yang merasa jika energinya sudah terkuras banyak karena sejak tadi terus menahan emosinya langsung merasa sangat lemas dan dengan reflek langsung menghela nafas panjangnya dengan sangat kasar “Hah… kali ini kenapa harus wanita sakit jiwa itu yang diutus?” keluh Xyan sambil mengusap
keningnya yang terasa sangat penat.
“Ting-Nung!” tiba-tiba Xyan mendengar suara bel Apartementnya berbunyi dan tanpa banyak berpikir, Xyan segera membuka pintu Apartementnya dan melihat Shanika yang sedang berdiri di balik pintu Apartementnya itu.
“A-apa kamu baik-baik saja?” tanya Shanika dengan ekspresi khawatirnya kepada Xyan yang saat ini terlihat sedikit pucat “Seharusnya aku yang tanyakan itu kepadamu,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat santai dan terkesan tidak peduli, sambil melangkah masuk ke dalam Apartementnya lagi.
Detik itu juga, Shanika memasuki Apartement Xyan dan menutup pintu Apartement sambil berkata “Firasatku berkata buruk. Jadi, aku datang ke sini,” dengan nada bicaranya yang terasa penuh ketegangan.
“Memangnya siapa yang bisa melukaiku?” balas Xyan sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati lemari kulkas miliknya, setelah itu kembali berkata “Apa kamu mau aku buatkan susu cokelat lagi?” dengan senyuman tipisnya dan nada bicaranya yang sangat ramah kepada Shanika.
Tapi, bukannya merasa tenang setelah melihat senyuman Xyan. Saat itu juga, Shanika justru merasa semakin khawatir dan dengan reflek berkata “Sebenarnya ada apa? Ceritakan semuanya kepadaku,” pinta Shanika sambil berjalan mendekati Xyan yang saat ini masih membelakanginya.
__ADS_1
“Apa yang mau kamu ketahui?” tanya Xyan lagi dengan nada bicaranya yang santai.
“Hubunganmu dengan wanita cantik itu,” jawab Shanika dengan cepat, sambil menatap Xyan dengan tatapan tajamnya.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung tersentak dan dengan reflek menolehkan kepalanya untuk melihat wajah serius Shanika saat ini, yang seketika itu juga membuat Xyan kembali bertanya “Aku tahu isi pikiranmu… kamu pasti berpikir kalau wanita itu adalah kekasihku. Iya, kan?” dengan tatapan yang sangat lekat kepada Shanika.
Shanika yang mendapatkan pertanyaan inti dari Xyan, detik itu juga langsung melangkah mundur dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan sambil berkata “Ka-kalau wanita itu memang kekasihmu juga tidak masalah… bagiku,” dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar.
“Bukan,” balas Xyan singkat.
“Ya?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya.
Dengan reflek Xyan pun menutup pintu lemari kulkas yang ada di dekatnya dengan kasar sambil berkata lagi “Dia Kakak tiriku, namanya Zoya!” dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi, seakan sedang marah kepada Shanika.
“Kami satu Ayah. Tapi, beda Ibu… Ibuku adalah manusia, kalau Ibunya Zoya adalah salah satu putri Iblis terkejam di alam bawah,” sambung Xyan yang berusaha menjelaskan silsilah keluarganya dengan sangat jelas kepada Shanika yang penasaran.
Shanika yang mendengarkan penjelasan Xyan itu pun dengan reflek berkata “Uwa!!” sambil memasang ekspresi kagum sekaligus tidak percayanya “Uwa katamu?” tanya Xyan sambil mengerutkan dahinya dan menatap Shanika dengan tatapan anehnya.
“Selama ini, aku kira hal-hal seperti itu hanya ada di film-film fantasy saja!” jawab Shanika dengan ekspresi terkagum-kagumnya.
__ADS_1
“Aneh sekali, seharusnya kamu takut bukannya malah kagum!” balas Xyan yang tidak kuat untuk menahan senyumannya, setelah melihat tingkah aneh Shanika.
Dengan rasa penasarannya, Shanika pun kembali mendekati Xyan yang saat ini sedang meracik minuman susu cokelat di atas meja makannya sambil bertanya “Jadi, kenapa dia datang ke sini?” yang saat itu juga membuat Xyan menghentikan pergerakkan tangannya dan kembali menatap Shanika.
“Dia ingin aku bergabung bersamanya, karena itu ia berusaha mengganggu dan mencelakaimu,” ucap Xyan dengan tiba-tiba yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan kehabisan kata-katanya tanpa tersenyum sedikitpun.
“Karena aku tidak mau bergabung dengan mereka dan kamu selalu berada di dekatku, kedepannya… mungkin akan semakin berbahaya untukmu,” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang memelan dan terasa penuh dengan rasa sakit yang mendalam.
Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun, tanpa banyak berpikir langsung menggapai tangan kanan Xyan dan menggenggam tangan kanan Xyan dengan erat sambil berkata “Xyan… kamu tahu kan kalau aku sangat membutuhkanmu? Seharusnya aku yang bersyukur karena kamu berada di dekatku,” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang sangat lembut.
Tapi, bukannya membalas perkataan Shanika. Detik itu juga, Xyan hanya terdiam sambil terus membalas tatapan mata Shanika dengan sangat lekat dan penuh kesedihan “Ja-jangan bilang, kamu ingin aku pergi meninggalkanmu?!” panik Shanika sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan kanan Xyan dengan cepat.
Xyan pun tertawa pelan, setelah itu berkata “Justru, kamu akan selalu aman jika berada di jangkauanku! Lagipula, mau dekat atau jauh dariku… para hantu dan Iblis di luaran sana akan terus mengganggumu,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat santai. Tapi, terasa sangat menakutkan bagi Shanika “Cara bercandamu keterlaluan sekali!” ucap Shanika dengan wajah paniknya lagi.
Walaupun begitu Shanika tetap senang karena artinya Xyan masih mengizinkan dirinya untuk berada didekatnya. Saat ini Shanika benar-benar tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya, yang ia pikirkan hanyalah kebersamaannya dengan Xyan.
Dan beberapa detik kemudian, Xyan kembali berkata “Oya, soal Ibumu… aku akan segera membuatnya kembali ke dalam tubuhnya,” yang seketika itu juga membuat Shanika menjadi ceria “Benarkah?! Syukurlah,” balas Shanika dengan senyuman lebarnya.
“Tapi… sejak kapan Ibumu ada di sini?” tanya Xyan dengan tiba-tiba kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat senyuman lebar Shanika menghilang “Ibuku ada di sini?” tanya Shanika dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
Xyan pun segera menolehkan kepalanya ke arah tirai jendela Apartementnya sambil berkata “Keluarlah,” dan benar saja, beberapa detik kemudian arwah Ibunya Shanika melangkah keluar dari balik tirai Apartement Xyan dengan senyuman canggungnya, yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut bukan main “I-ibu?!” kaget Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar.
“Hehe, hai semuanya!” sapa arwah Ibunya Shanika dengan sangat canggung kepada Shanika dan Xyan.