
***
Di sisi lain, sang pelatih basket yang sejak tadi mengira kalau wanita yang ia ajak ke gedung studio masih di dalam kamar mandi, dengan santainya menerima telepon dari temannya dan membicarakan soal kematian Nadine yang sebelumnya sempat ia rencanakan dengan baik.
“Ya, wanita itu memang pantas mati karena sudah main-main denganku, tapi masih tetap mengharapkan Elvan!" ucap pelatih basket itu dengan nada bicaranya yang santai sambil tertawa pelan.
“Sudah-sudah, aku tidak bisa lama-lama teleponan denganmu!” sambungnya lagi sambil bangkit dari duduknya dan memeriksa keluar ruangannya untuk menghampiri wanita yang ia pikir masih di dalam kamar mandinya.
Tanpa banyak bicara lagi, ia pun mematikan telepon dari temannya dan berjalan menghampiri pintu kamar mandi sambil mengajukan pertanyaan “Mau sampai kapan kamu di dalam kamar mandi?” tapi tidak ada jawaban apapun. Tapi, ia hanya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Karena rasa penasarannya, pelatih basket itu pun mulai mengetuk pintu kamar mandi hingga beberapa detik kemudian ia mendengar suara wanita yang mengatakan “Duluan saja ke dalam kamar,” dari dalam kamar mandi, yang seketika itu juga membuatnya tersenyum senang “Hm, baiklah!” sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Tanpa banyak berpikir lagi, pelatih basket itu berjalan ke dalam sebuah kamar yang ada di dekat kamar mandi dan menunggu wanita yang masih berada di dalam kamar mandi itu dengan perasaan tidak sabarnya, hingga sekitar lima menit kemudian ada seseorang wanita memasuki kamarnya dan menghampirinya dengan pakaian tipisnya.
Pelatih basket yang berpikir kalau wanita di dekatnya itu sedang malu, karena tidak mau menunjukkan wajahnya dari balik rambutnya, tanpa berpikir panjang langsung memeluk tubuh wanita itu dan mulai memberikan sentuhan-sentuhan manja seperti yang biasanya ia lakukan dengan kedua tangannya.
***
Sedangkan dari sisi Shanika, dapat dengan jelas Shanika melihat arwah atau hantu Nadine yang beraura gelap memasuki salah satu kamar yang sebelumnya juga dimasuki oleh pelatih basket “Ugh, aku tidak berani mengintip!” gumam Shanika dengan perasaan takutnya.
Tapi, tiba-tiba ia teringat akan bacaan bukunya di masa lalu yang bertuliskan kalau hantu yang menjadi roh jahat membunuh manusia, sampai seterusnya ia akan menjadi roh jahat yang selalu memakan korban.
“Tidak-tidak, Nadine tidak boleh terus menerus menjadi roh jahat!” gumam Shanika lagi dengan ekspresi seriusnya.
__ADS_1
Detik itu juga, Shanika berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati pintu kamar yang sudah tidak jauh lagi dari tempatnya berdiri saat ini. Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil menggapai gagang pintu dihadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan pria yang disusul juga dengan suara wanita tertawa.
Dengan reflek, Shanika pun membuka pintu kamar dihadapannya itu dan benar saja, saat ini arwah atau hantu Nadine sedang mencengkram leher sang pelatih basket dengan sangat erat di atas tempat tidurnya, hingga pelatih basket itu merasa sangat sesak “Ukh!” sekaligus juga takut, karena ia juga dapat Nadine yang seharusnya sudah meninggal dunia.
“Nadine, hentikan!” pinta Shanika sambil berlari mendekati Nadine dan langsung menggapai pundak arwah Nadine, yang seketika itu juga membuatnya merasa tersengat dan semakin marah.
Arwah Nadine yang tidak bisa mengendalikan emosinya, saat itu juga menarik dan melempar tubuh pelatih basket yang ada di depannya ke sembarang arah “Brak!” setelah itu dengan tatapan tajamnya, arwah Nadine langsung menyerang Shanika yang berusaha menghentikannya.
“Ukh! Nadine… ini aku, Shanika!” ucap Shanika saat tiba-tiba Nadine mendorong tubuhnya ke tembok dan mulai mencengkram lehernya dengan kedua tangannya.
Sedangkan pelatih basket yang tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat, dengan ekspresi dan perasaan takutnya ia langsung berusaha bangkit dari jatuhnya, setelah itu langsung berlari keluar dari dalam kamar dengan kondisi kaki yang sakit.
“Ugh… hantu! Ada hantu!” paniknya sambil memegangi perutnya yang sakit dan juga berusaha menuruni tangga gedung studionya.
“Eh? Kamu siapa? Uwak!” belum selesai mengajukan pertanyaannya, dengan cepat Xyan menyelengkat kakinya dan membuatnya jatuh pingsan hanya dengan sekali pukulan pada bagian belakang lehernya.
“Dasar penjahat bodoh,” ucap Xyan sambil berusaha mengikat kedua tangan pria dihadapannya itu di besi pegangan tangga.
Setelah fokus dengan penjahat utamyanya, tiba-tiba Xyan mendengar suara Shanika secara samar yang membuatnya mendapatkan firasat kalau saat ini Shanika ada di lantai atas gedung studio.
Tanpa berlama-lama lagi, Xyan pun berlari ke lantai atas dan saat ia berhasil menemukan Shanika, dapat dengan jelas ia melihat Shanika yang sedang memeluk arwah Nadine yang sudah sadar dari pengaruh aura gelapnya, sambil menangis tersedu-sedu.
“Ah… syukurlah,” ucap Xyan dengan reflek sambil menghela nafas leganya.
__ADS_1
***
Setelah kejadian yang cukup mengerikan itu, Shanika yang baru mengetahui kalau Nadine meninggal bukan karena bunuh diri dari Xyan. Tanpa banyak berpikir langsung memanggil polisi dan melihat secara langsung penangkapan sang pelatih basket di gedung studionya, dengan keadaan yang sedikit linglung.
“Apa dia sudah kehilangan akalnya, sama seperti Kak Elvan?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya kepada Xyan “Sepertinya begitu,” jawab Xyan dengan senyuman tipisnya yang ia tunjukkan kepada Shanika.
“Hm? Kenapa kamu tersenyum dengan aneh begitu?” tanya Shanika lagi setelah ia melihat senyuman Xyan yang memiliki banyak arti tersembunyi.
“Aku sangat bangga padamu! Bagaimana bisa kamu membuat hantu yang menjadi roh jahat kembali normal?” balas Xyan dengan ekspresi bingung dan tatapan lekatnya kepada Shanika.
“Entahlah… padahal aku hanya menatapnya! Apa mungkin… mataku ini punya kekuatan tersembunyi? Apa kamu tahu sesuatu?” tanya Shanika lagi dengan penuh penasaran kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan berpikir “Hm… seingatku tidak ada hal seperti itu,” sambil menggelengkan kepalanya dengan ragu.
Shanika yang mendengar jawaban Xyan itu pun, dengan reflek bergumam “Aneh sekali, terakhir kali… hanya dengan bertatapan, mata iblis berwujud hewan juga langsung meledak seperti bom!” dengan perasaan bingungnya.
“Tidak mungkin,” balas Xyan setelah mendengar gumaman Shanika “Aku serius!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi.
Dan beberapa detik kemudian, tiba-tiba Shanika menyadari kalau arwah Nadine sudah tidak ada di dekatnya lagi “Eh?! Tapi, kemana perginya Nadine?” tanya Shanika dengan ekspresi paniknya saat melihat ke sekitarnya.
“Sepertinya… tadi dia pergi bersama polisi,” jawab Xyan sambil menunjuk mobil polisi yang sudah cukup jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
“A-apa?! Kalau begitu, kita juga harus mengikutinya!” panik Shanika lagi sambil menarik Xyan untuk segera mengendarai mobil mewahnya “Mau sampai kapan kamu mengikuti hantu temanmu itu?” keluh Xyan saat melihat betapa khawatirnya Shanika kepada temannya.
“Aku tidak mau dia menjadi roh jahat lagi! Ayo, cepat!” pinta Shanika sambil bergegas memasuki mobil mewah Xyan yang kuncinya baru saja dibuka “Kamu memang terlalu baik,” gumam Xyan sambil tersenyum tipis dan mau tidak mau harus mengikuti keinginan Shanika.
__ADS_1