
“Tampan dan sangat keren sekali!” ucap hantu wanita bergaun merah itu dengan ekspresi kagumnya kepada penampilan Xyan yang saat ini ia lihat dari kejauhan “Tidak hanya itu, dia juga sangat kuat?” sambungnya dengan senyuman lebarnya saat ia melihat kekacauan yang sudah Xyan lakukan kepada semua anak buahnya yang ada di
ruangan luar.
“Wah… kalau seperti ini, aku jadi semakin menginginkan mata manusia ini!” gumam hantu wanita bergaun merah itu sambil melirikkan matanya sekilas ke arah Shanika yang masih menahan rasa sakitnya dengan penuh derita.
“Menjadi pengantin Iblis… boleh juga,” gumam hantu wanita bergaun merah itu lagi sambil melangkahkan kakinya dengan sangat anggun untuk mendekati Xyan yang berada di ujung ruangan besar itu.
Saat Xyan sudah berhadapan langsung dengan hantu wanita bergaun merah itu, saat itu juga hantu di hadapannya berkata “Ah, ternyata setengah manusia?” dengan senyuman tipisnya kepada Xyan.
Sedangkan Xyan yang sama sekali tidak peduli kepada hantu bergaun merah, detik itu juga pandangannya langsung tertuju kepada Shanika yang terikat dan terlihat sangat menderita “Apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?” ucap Xyan sambil berusaha menahan amarahnya.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Xyan dengan benar, hantu wanita dihadapan Xyan justru segera memperkenalkan dirinya “Perkenalkan… namaku, Akh!” jerit hantu wanita itu secara tiba-tiba, karena tepat sebelum ia menyelesaikan perkataannya Xyan langsung mendorong tubuhnya hingga terbentur jeruji besi dengan sangat kencang.
“Akh!!! Beraninya kamu!” jerit hantu wanita bergaun merah itu dengan penuh frustasi.
Sedangkan Xyan yang sama sekali tidak memperdulikan hantu wanita bergaun merah itu langsung berlari mendekati Shanika dan memastikan kalau kondisi Shanika baik-baik saja sambil melepaskan ikatan pada kedua tangan Shanika dengan cepat “Shanika? Sial,” keluh Xyan saat ia melihat luka besar yang sangat parah pada pipi sebelah kiri Shanika.
Setelah ikatan kedua tangan Shanika sudah terlepas, saat itu juga dengan suaranya yang lemas Shanika berkata “Bawa aku pergi dari sini… aku mohon,” pintanya kepada Xyan sambil meneteskan air matanya.
“Tentu saja, ayo kita pergi,” balas Xyan sambil berusaha menopang tubuh Shanika menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Xyan bergegas membawa Shanika pergi. Tapi, tiba-tiba hantu wanita bergaun merah kembali menghadangnya sambil berkata “Kata siapa kalian bisa pergi dari sini?” dengan tatapan marahnya, setelah itu langsung menancapkan benda tajam yang sejak tadi masih ia genggam “Sruk!” tepat pada dada Xyan.
Yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut. Tapi, karena Xyan tidak menunjukkan reaksi apapun, saat itu juga hantu wanita bergaun merah dihadapan Xyan kebingungan “Sudah selesai?” tanya Xyan dengan wajah datarnya.
“Ba-bagaimana bisa kamu tetap baik-baik saja? padahal aku setengah manusia!” panik hantu wanita bergaun merah dihadapan Xyan sambil melangkah mundur.
“Sepertinya kamu belum pernah berhadapan langsung dengan Iblis sepertiku, ya?” balas Xyan sambil menarik benda tajam yang tertancap ditubuhnya dengan wajah santainya, setelah itu langsung membuang benda tajam itu kesembarang arah.
“A-apa katamu?” gumam hantu wanita bergaun merah itu dengan ekspresi takut sekaligus bingungnya kepada Xyan “Ah, benar… hantu penunggu tanah sepertimu hanya bisa menindas dari dalam kandang saja,” sambung Xyan sambil melepaskan Shanika dan berjalan mendekati hantu wanita dihadapannya dengan tatapan penuh amarah.
Sebelum hantu wanita bergaun merah itu kembali bicara, detik itu juga Xyan mencengkram lehernya “Ukh!” dan membuat hantu wanita dihadapannya itu hingga hangus terbakar oleh kekuatan Iblis yang sudah lama tidak ia gunakan.
Tidak lama kemudian, saat hantu wanita bergaun merah sudah menjadi abu, saat itu juga Xyan kembali membawa Shanika untuk pergi keluar dan tidak lupa juga untuk membakar seluruh tempat di dunia lain itu tanpa tersisa sedikit pun.
Karena energi Shanika sudah benar-benar habis terserap aura gelap di dunia lain, Shanika pun jatuh pingsan dan Xyan memutuskan untuk menjaga Shanika di dalam Apartemennya hingga Shanika sadarkan diri.
Sampai dua hari kemudian, Shanika masih belum sadar juga dan dengan perasaan khawatirnya Xyan terus memikirkan cara untuk memulihkan energi Shanika dengan secepat mungkin di ruang tamu Apartementnya.
“Jika hari ini Nona Shanika tidak sadar juga, mungkin keluarganya akan segera mencarinya, Tuan.” Ucap Gavin dari belakang tubuh Xyan dengan ekspresi khawatirnya juga.
“Hah… padahal aku sudah memberikan sebagian energiku untuknya,” balas Xyan dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
“Sepertinya bukan hanya energinya yang terserap habis… Nona Shanika pasti merasakan syok berat, selama berada di dunia gelap itu!” ucap Gavin lagi dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat serius.
Xyan yang mendengarkan perkataan Gavin itu pun langsung memegangi keningnya, setelah itu segera memerintahkan Gavin untuk pergi dan kembali bekerja di perusahaan tanpa memperdulikan kondisi Shanika, yang seketika itu juga mau tidak mau membuat Gavin harus menurut dan pergi keluar dari Apartement Xyan.
Sedangkan Xyan yang saat ini sudah sendirian, tiba-tiba mendengar suara gelas pecah dari dalam kamarnya dan tanpa banyak berpikir lagi Xyan langsung berlari ke dalam kamarnya “Shanika, kamu sudah sadar?” ucap Xyan dengan wajah cerianya saat melihat Shanika yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.
“Xyan? Ah, maafkan aku… barusan, tanpa sengaja aku memecahkan gelas,” ucap Shanika dengan suara yang tidak bertenaga, sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat penat.
“Tidak masalah,” balas Xyan dengan reflek sambil terduduk tepat di samping tubuh Shanika dan kembali memastikan kondisi Shanika dengan menggenggam tangan Shanika dengan kedua tangannya.
Dapat dengan jelas Xyan merasakan energi Shanika yang sudah mengalir secara teratur, yang seketika itu juga membuat Xyan menghela nafas leganya dan bergumam “Syukurlah,” sambil terus menggenggam tangan Shanika dengan erat.
“Xyan? Kamu baik-baik saja, kan? Sa-saat itu… hantu itu menusukmu, kan?” tanya Shanika yang baru teringat dengan segala hal yang terjadi kepada dirinya dan Xyan, sambil mengusap bagian dada Xyan yang sempat tertancap benda tajam dengan tangan kanannya.
Dan dengan senyuman manisnya, Xyan pun menggapai tangan kanan Shanika dan berkata “Aku baik-baik saja, luka seperti tidak ada apa-apanya untukku,” yang saat itu juga membuat Shanika ikut merasa lega dan bersyukur.
“Bodoh sekali, untuk apa juga kamu mengkhawatirkan aku? Seharusnya aku yang khawatir… untungnya luka pada wajahmu dapat menghilang dengan sempurna,” sambung Xyan sambil mengusap wajah Shanika dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
“Hiks! Aku takut sekali!” balas Shanika yang tiba-tiba menangis dihadapan Xyan “A-aku pikir... aku akan mati!” sambung Shanika sambil memukul dada Xyan sekilas “Akh… maafkan aku,” balas Xyan sambil menahan kedua tangan Shanika.
“Maaf?” gumam Shanika sambil berusaha menghentikan tangisannya dan mulai menatap Xyan dengan sangat lekat.
__ADS_1
“Hm, maafkan aku karena sudah telat menolongmu,” ucap Xyan sambil membalas tatapan Shanika dengan penuh kasih sayangnya, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa jauh lebih tenang dan merasa betapa pedulinya Xyan kepada dirinya.