Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Mengkhawatirkan Xyan


__ADS_3

Setelah beberapa jam berlalu, Shanika yang sudah mondar mandir tanpa henti akhirnya menyadari kalau saat ini sudah sore hari “Waktu cepat sekali berlalu,” gumam Shanika yang saat ini sedang berdiri seorang diri di samping gedung kantor polisi.


Dan tiba-tiba Shanika merasakan hembusan angin yang cukup dingin tepat dibelakang tubuhnya, yang seketika itu juga membuatnya segera menolehkan kepalanya dan melihat arwah pria muda yang sebelumnya berhasil ia bantu, dalam kondisi yang sudah tidak berlumuran darah lagi.


“Terima kasih banyak,” ucap arwah pria muda dihadapan Shanika itu sambil menundukkan kepalanya, setelah itu menunjukkan senyuman cerianya kepada Shanika.


“Sama-sama, senang bisa membantumu! Walaupun aku tidak berbuat banyak… semoga pelakunya segera tertangkap!” balas Shanika sambil membalas senyuman arwah pria muda dihadapannya itu dengan sangat ramah.


“Jujur saja, aku sudah tahu siapa pelakunya! Tapi, biarkan polisi yang mengurusnya,” ucap arwah pria muda dengan ekspresi kecewanya, yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut “Ya?! jangan bilang,” balas Shanika lagi.


“Benar, orang yang merencanakan pembunuhanku sebagai kecelakaan di dalam video cctv adalah saudara kandungku sendiri,” sambung arwah pria muda dihadapan Shanika dengan senyuman tipisnya yang terlihat sangat miris.


“Astaga… bagaimana bisa?” gumam Shanika dengan perasaan sedihnya dan ekspresi tidak percayanya.


Arwah pria muda yang melihat reaksi Shanika itu pun langsung tertawa pelan dan kembali berkata “Tidak perlu khawatir, akan aku pastikan dia mendapatkan bayaran yang setimpal! Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih!” dengan senyuman lebarnya kepada Shanika.


Detik itu juga, saat sedang mengucapkan terima kasih dengan tiba-tiba arwah pria muda dihadapan Shanika berusaha menggapai tangan Shanika. Tapi, sebelum Shanika menghindar arwah pria itu sudah berhasil menggapai kedua tangan Shanika, yang seketika itu juga membuatnya merasa kesakitan seakan tersengat listrik.


“Akh! A-apa yang terjadi?!” kaget arwah pria muda itu sambil mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi bingungnya.


“Ah… maafkan aku! Kamu baik-baik saja? A-apa sangat sakit?” panik Shanika sambil melangkah mundur dan terus memperhatikan arwah pria muda dihadapannya yang masih menahan rasa sakit.


“A-ada yang aneh denganmu!” balas arwah pria muda sambil menunjuk Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika segera menolehkan kepalanya dan menatap benang putih yang masih terpasang di pergelangan tangan kanannya “Pasti karena benang ini,” batin Shanika dengan perasaan senangnya.

__ADS_1


“Sepertinya kamu punya perlindungan yang sangat kuat ya… aku tidak akan menyentuhmu lagi,” sambung arwah pria muda itu sambil mengusap kedua tangannya sendiri secara bergantian.


“Haha, maafkan aku!” balas Shanika sambil tertawa pelan.


Dan tanpa berlama-lama lagi, Shanika segera meminta kepada Arwah pria muda dihadapannya itu untuk tetap berada di sekitar tubuhnya saja yang saat ini masih terbaring lemas di rumah sakit, karena bagaimana pun juga ia masih belum mati dan tubuhnya harus tetap terjaga dengan sebaik mungkin.


Setelah itu Shanika memutuskan untuk pulang ke Apartementnya sebelum langit jadi semakin gelap dan setelah beberapa menit kemudian, sesampainya Shanika di depan gedung Apartementnya tanpa sengaja ia berpapasan dengan Xyan yang baru saja keluar dari dalam mobil mewahnya.


“Xyan!” panggil Shanika sambil melambaikan tangannya, setelah itu langsung berlari mendekati Xyan yang baru saja menolehkan kepalanya dan melihatnya.


“Jangan berlari, kamu bisa jatuh!” pinta Xyan dengan perasaan malunya karena sikap kekanak-kanakan Shanika di depan umum.


“Hehe! Soal benang ini… ternyata benar-benar sangat ampuh ya!” ucap Shanika sambil menunjukkan benang putih dipergelangan tangannya kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan menaikan salah satu alis matanya dan merasa semakin percaya diri “Ekhem, tentu saja.” balas Xyan dengan penuh percaya diri.


“Hebat sekali!” puji Shanika sambil mengikuti langkah kaki Xyan yang saat ini sedang berjalan memasuki gedung Apartement.


“Eh?! Bagaimana kamu bisa tahu?!” kaget Shanika sambil menolehkan kepalanya dan membelalakkan kedua bola matanya kepada Xyan.


“Aku memberimu benang putih itu sebagai perlindungan, bukan agar kamu bisa berkeliaran!” sambung Xyan sambil membalas tatapan mata Shanika dengan tatapan tajamnya.


“A-aku tidak bermaksud untuk berkeliaran,” sebelum Shanika selesai bicara, dengan cepat Xyan kembali berkata “Ya, aku tahu. Kamu bolos kuliah untuk ikut campur dengan urusan arwah gentayangan itu, kan?” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat menyebalkan dan penuh penghakiman.


“I-ikut campur katamu? Aku ini sedang berusaha membantunya!” balas Shanika tanpa perasaan takut sedikit pun kepada Xyan “Ya, anggap saja seperti itu!” ucap Xyan lagi sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika.

__ADS_1


“Hah, yang benar saja!” gerutu Shanika dengan perasaan kesalnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Tidak lama kemudian, pintu lift dihadapan Shanika dan Xyan itu pun terbuka dan “Permisi!” saat itu juga, Shanika dikejutkan dengan seorang petugas kebersihan yang sedang membawa panci besar berisikan air panas, karena petugas itu hampir saja menumpahkan air panas di dalam panci besar itu kepada dirinya.


“Kya!” jerit Shanika sambil menundukkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Tapi, bukannya mengenai tubuh Shanika, detik itu juga Xyan menarik Shanika dan air panas yang tumpah langsung mengenai lengan hingga tangan sebelah kanan Xyan secara keseluruhan, yang seketika itu juga membuat semua orang di lobi Apartement menjerit dan panik.


“Astaga! Maafkan saya, Tuan!” panik petugas kebersihan yang saat itu juga segera dibantu oleh para petugas keamanan.


Detik itu juga, suasana di lobi Apartement menjadi sangat ricuh, sedangkan Shanika yang melihat betapa mengebulnya lengan tangan Xyan segera melebarkan bola matanya “Kamu baik-baik saja?!” tanya Shanika kepada Xyan dengan tatapan khawatirnya.


“Cepat panggil ambulan!” jerit beberapa orang yang melihat kejadian mengerikan itu.


“Luka bakarnya pasti parah sekali!” panik para petugas yang saat ini berdiri di dekat Xyan dan Shanika.


“Aku baik-baik saja, tenanglah.” Pinta Xyan sambil memasang senyuman canggungnya.


Shanika yang sangat memahami kondisi Xyan, saat itu juga berpikir kalau luka pada lengan Xyan pasti akan segera sembuh, karena itu Shanika langsung melepas jaketnya dan membungkus lengan hingga tangan kanan Xyan sambil berkata “Tidak perlu panggil ambulan! Biar aku yang mengobatinya!” ucap Shanika sambil menarik Xyan untuk segera memasuki lift.


“Ta-tapi, Nona!” panik para petugas keamanan sebelum pintu lift yang Shanika dan Xyan naiki tertutup rapat.


Dengan perasaan leganya, Shanika pun menghela nafas panjangnya sambil terus mendekap lengan kanan Xyan dengan kedua tangannya yang bergetar “Hampir saja ketahuan!” ucap Shanika dengan nafas yang sedikit terengah-engah.

__ADS_1


“Pft!” tawa Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika menatapnya dengan tajam “Bagaimana bisa kamu tertawa di saat seperti ini?!” bentak Shanika dengan ekspresi marahnya.


“Melihatmu yang gemetar… sepertinya kamu sangat khawatir kepadaku, ya?” balas Xyan sambil membalas tatapan mata Shanika dengan sangat lekat, yang seketika itu juga membuat Shanika terdiam dan merasakan debaran aneh di dalam dirinya lagi “Dheg!” karena tatapan Xyan.


__ADS_2