Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Pesona yang Mematikan


__ADS_3

Shanika yang tidak ingin terlarut dalam perasaan dan debarannya itu pun segera melepaskan dekapannya dari lengan Xyan dengan kasar sambil berkata “Untuk apa juga aku khawatir?! A-aku hanya takut kalau orang-orang sampai tahu tentang lukamu yang cepat sembuh!” dengan nada bicaranya yang meninggi dan penuh penekanan walaupun ia masih merasa gugup.


Xyan pun menganggukan kepalanya, sambil terus menahan senyumannya setelah mendengar perkataan dan melihat tingkah Shanika yang sangat kikuk “Ya, baiklah. Aku kira kamu sudah lupa kalau aku ini setengah Iblis,” balas Xyan sambil memberikan jaket milik Shanika yang sempat digunakan untuk menutupi lengannya yang tersiram air panas.


“Hm? Memangnya kamu tidak pernah menerima pertolongan dari siapapun?” tanya Shanika dengan tatapan bingungnya sambil menerima jaket miliknya yang terasa lembab.


“Aku lebih banyak membantu daripada menerima bantuan tuh,” jawab Xyan sambil merapikan pakaiannya yang basah dan agak berantakkan dihadapan Shanika dengan santainya.


“Cih, dasar sombong!” gerutu Shanika, yang lagi-lagi berhasil membuat Xyan tersenyum senang.


Dan pada saat pintu lift terbuka di lantai Apartement Shanika, saat itu juga Shanika melangkah keluar sambil berkata “Aku akan segera datang ke Apartementmu,” setelah itu, tanpa berlama-lama lagi Shanika segera berlari untuk memasuki Apartementnya sendiri.


Yang seketika itu juga membuat Xyan kebingungan dengan tingkah Shanika “Apa katanya barusan? Dia mau datang ke Apartementku?” pikir Xyan dengan ekspresi anehnya, karena ia benar-benar tidak habis pikir dengan keberanian Shanika.


“Sepertinya dia memang tidak ada takutnya kepadaku,” gumam Xyan sambil menekan tombol lift dihadapannya dengan cepat.


***


Sekitar tiga puluh menit kemudian, sesuai dengan perkataan Shanika. Saat ini ia benar-benar datang ke Apartement Xyan yang berada tepat di atas Apartementnya sambil membawa gulungan kain dingin yang ia bawa di dalam kotak “Untuk apa kamu membawa benda itu ke sini?” tanya Xyan saat ia membukakan pintu Apartementnya untuk Shanika.


“Tentu saja untuk membalut lukamu,” jawab Shanika dengan senyuman lebarnya, sambil melangkahkan kakinya untuk memasuki Apartement Xyan.

__ADS_1


Xyan yang mendengar jawaban Shanika itu pun segera menutup kembali pintu Apartementnya, setelah itu bergegas untuk berdiri dihadapan Shanika sambil menunjukkan kulit lengan hingga tangan kanannya yang mulus tanpa luka “Lihat ini dengan baik, tidak ada luka untuk apa dibalut?” kata Xyan dengan wajah seriusnya.


“Hah… Apa manusia setengah Iblis tidak tahu caranya berpura-pura ya?” keluh Shanika sambil membalas tatapan Xyan dengan tatapannya yang meremehkan.


“Apa katamu?” balas Xyan sambil mengerutkan dahinya.


Dengan perasaan frustasinya, Shanika pun meletakkan kotak kain yang ia bawa di atas meja setelah itu berkata “Besok pagi, orang-orang yang melihat kejadian tadi pasti akan mempertanyakan kondisimu! Setidaknya kamu harus pura-pura kesakitan. Iya, kan?” ucap Shanika panjang lebar, yang entah kenapa terasa cukup masuk akal di dalam pikiran Xyan.


“Kamu benar. Tapi, itu sangat merepotkan sekali!” balas Xyan dengan ekspresi memelasnya sekaligus malas.


“Cukup gunakan perban sementara saja, setelah itu kamu tinggal bilang kalau lukanya cepat sembuh karena Dokter yang mengobatimu sangatlah hebat!” ucap Shanika lagi dengan penuh pertimbangan.


“Apa mereka mudah dibodohi seperti itu?” tanya Xyan dengan tatapan ragunya kepada Shanika.


“Apa hubungannya?” gerutu Xyan yang selalu meragukan semua perkataan Shanika.


Shanika yang tidak ingin banyak bicara lagi, dengan cepat menarik tangan Xyan dan menyuruh pria itu untuk duduk di atas sofa, sedangkan dia segera merapikan kain yang akan ia pasang di tangan hingga lengan Xyan.


“Kamu yakin bisa melakukannya?” tanya Xyan yang lagi-lagi meragukan Shanika “Dulu… aku sempat menjadi anggota PMR tahu!” jawab Shanika dengan wajah seriusnya.


“Berikan tanganmu!” pinta Shanika sambil duduk tepat di samping Xyan, yang saat itu juga membuat Xyan mau tidak mau segera mengulurkan tangannya ke arah Shanika.

__ADS_1


Tapi, bukannya langsung memperban. Detik itu juga, Shanika terpesona dengan bentuk jari-jemari Xyan yang terlihat sangat lentik dan indah “Wah… bagaimana bisa jari pria terlihat seperti ini? Apa kamu melakukan perawatan?” tanya Shanika dengan perasaan kagumnya sambil terus menatap tangan Xyan yang sangat mulus.


“Perawatan apanya? Jangan buat aku tertawa!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat malas.


Beberapa detik kemudian, Xyan pun dikejutkan dengan gerakkan Shanika yang dengan tiba-tiba mengusap kulit tangannya “Hei!” keluh Xyan sambil menahan rasa geli yang ia rasakan.


“Sebagai wanita, aku benar-benar merasa kalah! Ugh!” ucap Shanika sambil menelusuri jari jemari Xyan dengan kedua tangannya, yang seketika itu juga membuat Xyan menghela nafas panjangnya dan kembali berkata “Cepat lakukan, jangan membuang waktuku! Sekarang sudah semakin malam,” keluh Xyan lagi.


Shanika yang mendengar keluhan demi keluhan yang dilontarkan oleh Xyan itu pun dengan reflek tertawa pelan, setelah itu berkata “Memangnya kenapa kalau sudah semakin malam?” sambil mengaitkan jari-jemari tangan kanannya pada tangan Xyan yang ada dihadapannya itu.


“Lihat! Tanganku benar-benar tenggelam di dalam tanganmu!” sambung Shanika dengan wajah polos dan kagumnya, karena untuk pertama kalinya ia bergandengan tangan dengan seorang pria selain Ayahnya sendiri saat kecil.


Sedangkan Xyan yang melihat tingkah Shanika, saat itu juga kembali terkejut dan entah kenapa ia mulai merasakan getaran aneh di dalam dirinya, hanya karena sentuhan kecil yang diberikan oleh Shanika.


“Lepaskan tanganmu,” pinta Xyan sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika.


Tapi, karena Shanika sama sekali tidak mendengarkan perkataannya. Detik itu juga Xyan mempererat genggaman tangannya pada tangan Shanika sambil berkata “Kamu benar-benar tidak ada takutnya padaku ya?” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan melebarkan kedua bola matanya.


“Xyan… kenapa tiba-tiba?” tanya Shanika dengan suaranya yang sedikit bergetar, saat Xyan terus menatapnya dengan sangat lekat dan genggaman tangannya semakin terasa intens.


“Sudah pernah aku bilang, kan? aku dapat dengan mudah melukaimu,” sambung Xyan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika berdebar-debar dan merasakan hembusan nafas Xyan yang semakin dekat pada wajahnya.

__ADS_1


“Oya, apa aku pernah bilang? Setiap wanita yang terpesona kepadaku… mereka tidak akan bisa menghindar lagi dan mulai tenggelam dalam hasrat terkotornya,” bisik Xyan tepat pada telinga sebelah kiri Shanika, yang saat itu juga berhasil membuat Shanika merinding dan merasa sesak.


Xyan yang belum puas dengan reaksi Shanika, saat itu juga kembali menatap mata Shanika dengan sangat intens dan dekat, setelah itu kembali berkata “Bagaimana? Apa kamu tertarik untuk mencobanya?” dengan senyuman tipisnya yang terlihat sangat menggoda sekaligus juga berbahaya di mata Shanika.


__ADS_2