Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kutukan untuk Shanika


__ADS_3

Selama beberapa detik Shanika pun memutar otaknya dengan sangat serius, hingga tidak lama kemudian ia mengajak hantu wanita berwajah pucat itu untuk ikut bersamanya ke taman belakang Kampus yang saat ini cukup sepi dan tidak lupa juga, Shanika bergaya seakan sedang menghubungi seseorang melalui telepon pribadinya.


Saat di rasa sudah siap semua, hantu wanita berwajah pucat di dekat Shanika itu pun menanyakan perasaan Shanika saat ini dan dengan perasaan serba salahnya Shanika berkata “Jujur saja, sepertinya aku menyukainya! Tapi, aku tidak tahu dengan perasaannya kepadaku,” dengan ekspresi murungnya.


“Terkadang aku berpikir kalau dia menyukaiku… Tapi, kadang aku juga berpikir kalau dia hanya menganggapku adik! Karena umurku sangat terpaut jauh dengannya,” sambung Shanika dengan ekspresi wajahnya yang semakin murung.


Hantu wanita yang ada di hadapan Shanika itu pun langsung menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Shanika, setelah itu berkata “Nyatakan saja perasaanmu kepadanya! Setidaknya kamu akan merasa jauh lebih lega,” dengan senyuman lebarnya kepada Shanika.


Shanika yang mendengar saran dari hantu wanita di hadapannya itu pun dengan reflek berkata “Masalahnya! Bukannya menyatakan perasaan lebih dulu… aku sudah melakukan suatu hal yang di luar nalar!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang sangat histeris dan penuh perasaan frustasinya.


“Eh? Memangnya apa yang kamu lakukan?” tanya hantu wanita dihadapan Shanika dengan ekspresi anehnya.


“Ugh… memusingkan sekali!” keluh Shanika dengan reflek juga sambil menundukkan kepalanya dan menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.


Hantu wanita yang melihat tingkah aneh Shanika itu pun langsung menghela nafas panjangnya dengan kasar dan kembali berkata lagi “Cukup pusing-pusingnya! Sekarang, katakan saja kalau kamu menyukainya! Karena seperti yang kamu tahu… hidup manusia itu sangat singkat! Dan kalau kamu sudah menjadi sepertiku… kamu tidak akan punya waktu untuk menyatakan perasaanmu lagi,” dengan nada bicaranya yang meninggi dan tiba-tiba semakin memelan kepada Shanika.


Setelah mendengar perkataan hantu wanita di dekatnya itu, Shanika pun terdiam selama beberapa detik dan tidak lama kemudian Shanika kembali mengangkat kepalanya sambil berkata “Jadi, saran yang kamu maksud adalah saran seperti ini?” dengan wajah datarnya.


“Kalau soal itu sih aku juga sudah tahu,” sambung Shanika sambil menghela nafasnya juga dengan cukup kasar.

__ADS_1


Saat Shanika sedang memandang langit dengan ekspresi sedihnya, tidak lama kemudian hantu yang ada di dekatnya mulai memasang senyuman lebarnya yang aneh sambil berkata “Katakan saja sekarang… lagipula, aku yakin… pria Iblis yang tampan itu juga menyukaimu!” dengan nada bicaranya yang sangat menggoda dan sedikit jahil kepada Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak, bahkan sedikit melompat dari tempat duduknya saat ini sambil berkata “Ka-kata siapa pria yang aku suka adalah dia?!” dengan ekspresi panik dan nada bicaranya yang sangat meninggi.


“Pft! Hihihi, memangnya siapa lagi? kalau aku perhatikan, kamu bukan tipe wanita yang bisa dekat dengan banyak pria tuh!” balas hantu wanita di dekat Shanika itu sambil tertawa dengan suara khas hantunya yang melengking dan terdengar sangat mengerikan.


“Ugh… berhenti tertawa seperti itu!” keluh Shanika sambil menutupi kedua telinganya dengan sangat rapat menggunakan kedua tangannya.


Tapi, bukannya berhenti tertawa. Hantu wanita berwajah pucat itu justru semakin kencang tertawanya bahkan sampai membuat beberapa hantu yang ada di sekitar taman ikut melihat dan menertawakan Shanika “Ugh, dasar parah hantu ini!” keluh Shanika bukannya dengan perasaan takut justru ia merasa sangat kesal.


Sekitar lima menit kemudian, para hantu di sekitar taman belakang kampus itu tiba-tiba berhenti tertawa dan hantu wanita berwajah pucat yang ada di dekat Shanika berkata “Ada yang datang,” sambil melihat ke belakang tubuh Shanika yang masih terduduk di bangku taman.


“Ada yang harus kita bicarakan, Shanika.” Ucap Nadine dengan wajahnya yang sangat serius kepada Shanika, yang saat itu juga mau tidak mau membuat Shanika bangkit dari duduknya dan segera mengikuti langkah kaki Nadine.


***


Nadine pun mengajak Shanika ke salah satu cafe dekat kampus mereka yang cukup sepi, untuk bicara secara empat mata dan setelah minuman pesanan mereka berdua datang, tanpa berlama-lama lagi Nadine berkata “Belum lama ini aku datang menjenguk Kak Elvan di rumah sakit,” sambil mengeluarkan handphonenya dari dalam tas


selempangnya.

__ADS_1


“Dan anehnya, Kak Elvan terus menyebutkan namamu,” sambung Nadine sambil menunjukkan rekaman video di handphonenya, yang ia ambil saat sedang menjenguk Elvan kepada Shanika.


Dengan reflek, Shanika pun melihat isi rekaman video itu dan benar saja, di dalam rekaman video itu Elvan terus menyebut nama Shanika dan berulang kali mengucapkan maaf dengan ekspresi ketakutannya yang sangat ekstrim “Kondisinya semakin buruk dari terakhir kali aku menemuinya,” batin Shanika.


Nadine yang melihat ekspresi khawatir dari wajah Shanika itu pun segera menarik kembali handphonenya dari hadapan Shanika dan mematikan rekaman video itu sambil berkata “Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan kepada Kak Elvan? Lebih baik, kamu jujur saja kepadaku,” dengan naada bicaranya yang sangat ketus.


Yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya dan menatap Nadine dengan tatapan tidak percayanya “A-apa katamu? Aku tidak melakukan apapun kepada Kak Elvan dan seharusnya pertanyaanmu bukan seperti itu… seharusnya kamu bertanya, apa yang sudah Kak Elvan lakukan kepadaku!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang agak meninggi kepada Nadine.


Tapi, dengan perasaan kesalnya Nadine pun kembali berkata “Ah, benar juga. Aku dengar… kamu juga sudah menfitnah pelatih basket, kamu bilang kalau dia sudah memasukkan obat ke dalam minumanmu. Hah… Shanika, mau sampai kapan kamu mengacaukan hidup orang lain?” dengan nada bicaranya yang sangat ketus dan sinis kepada Shanika.


Shanika yang mendengar perkataan Nadine itu pun langsung tersentak dan hatinya terasa sangat perih bagaikan tersayat duri yang sangat tajam “Nadine… mau sampai kapan kamu menyalahkan aku seperti ini?” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar.


“Ayolah Shanika, kenapa kamu bicara seakan kamu korbannya? Menyebalkan sekali,” balas Nadine dengan tatapan tajam dan gerak geriknya yang terlihat sangat sombong.


Untuk beberapa detik Shanika pun terdiam, ia terus berusaha mengatur nafas hingga perasaannya yang terluka agar tidak menangis dihadapan Nadine. Hingga tidak lama kemudian, Shanika kembali membuka mulutnya untuk berkata “Saat ini aku sedang ada banyak masalah. Jadi, aku mohon… jangan tambahkan beban pikiranku,” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang sangat sopan.


“Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, aku pergi!” sambung Nadine sambil mengambil tas miliknya yang ada di tempat duduknya saat ini.


Tapi, tepat sebelum Shanika berdiri tiba-tiba Nadine berkata “Kamu pikir, hanya kamu saja yang punya masalah? Asal kamu tahu saja… di sini, sumber masalahnya adalah kamu!” yang seketika itu juga kembali membuat Shanika tersentak dan terdiam kaku.

__ADS_1


“Kelak, aku harap kamu ditinggal oleh semua orang yang kamu sayang sendirian!” sambung Nadine yang seakan sedang mengutuk hidup Shanika, sambil bangkit dari duduknya dengan cepat dan langsung melangkah pergi dari hadapan Shanika dengan tatapan sinisnya.


__ADS_2