Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kehilangan Energi


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian, Gavin yang masih melihat Shanika menunggu di depan ruang operasi Xyan. Dengan perasaan khawatirnya segera berjalan mendekati Shanika dan berkata “Nona, lebih baik anda istirahat dulu… nanti jika operasinya sudah selesai, akan saya kabari,” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika.


Sambil terus menatap ke arah pintu ruang operasi, Shanika yang mendengar perkataan Gavin itu pun langsung menggelengkan kepalanya dan berkata “Aku ingin melihat sendiri saat Xyan dibawa keluar dari dalam ruang operasinya,” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lemah, karena kelelahan.


“Tapi, Nona kan juga butuh perawatan dan istirahat dengan baik, walaupun pengaruh racun dari Iblis ular itu sudah tidak ada lagi… tetap saja, saya masih khawatir,” balas Gavin dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius dan penuh dengan penekanan kepada Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Shanika menolehkan kepalanya dan membalas tatapan mata Gavin “Oya, bagaimana dengan Zoya?” tanya Shanika dengan tiba-tiba kepada Gavin “Ya? kenapa tiba-tiba Nona menanyakan soal Nona Zoya?” kaget Gavin dengan ekspresi bingungnya.


“Sebelumnya kamu bilang… kita bertiga bisa pergi dengan selamat dari Zoya, karena kedatangan Malaikat Maut bernama Karis itu, kan?” tanya Shanika lagi sambil bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap langsung ke arah Gavin.


“I-iya benar,” jawab Gavin sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.


“Saat pergi dari tempat terbengkalai itu, aku sempat mendengar suara jeritan Zoya. Kira-kira apa yang dilakukan oleh Karis kepadanya? Aku sangat penasaran,” sambung Shanika dengan wajah seriusnya.


“Di tambah lagi, saat ini aku sudah tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata lagi atau pun bicara dengan mereka!” sambung Shanika lagi, yang saat itu juga membuat Gavin dengan reflek berkata “Ya. Tapi, untungnya Nona masih bisa melihat makhluk yang punya raga di dunia seperti saya!” sambil memasang senyuman lebarnya dihadapan Shanika.


“Hm… benar juga, syukurlah!” balas Shanika sambil membalas senyuman Gavin dengan senyuman tipisnya.


Setelah melihat senyuman Shanika dan sedikit mencairkan suasana disekitarnya, tidak lama kemudian Gavin kembali berkata “Apa Nona ingin saya cari tahu soal Nona Zoya?” yang detik itu juga membuat Shanika kembali menatapnya dan berkata “A-apa kamu bisa melakukan itu?” dengan perasaan ragunya.

__ADS_1


“Tentu saja, serahkan semuanya kepada saya!” jawab Gavin dengan penuh semangatnya.


***


Keesokan harinya, Shanika pun diberi kabar oleh seorang Dokter pria yang mengatakan kalau operasi Xyan sudah berjalan lancar. Tapi, karena Xyan tidak kunjung sadarkan dirinya, Shanika terus menerus merasa khawatir sekaligus juga merasa sangat ketakutan.


Hingga beberapa menit kemudian Gavin datang dan memberitahu Shanika soal Zoya yang saat ini hilang tanpa jejak “Bagaimana bisa hilang tanpa jejak seperti itu? Dia kan Iblis yang sangat kuat!” kaget Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Soal itu saya juga tidak tahu, hanya Tuan Malaikat Maut itu saja yang kemungkinan tahu jawabannya. Tapi, saya juga tidak bisa menemuinya… karena dia adalah seorang malaikat,” jawab Gavin dengan ekspresi dan nada bicaranya yang sangat serius kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika terdiam dan berpikir “Setidaknya, Zoya tidak akan bisa mengganggu Xyan lagi,” dengan perasaan leganya.


Tidak lama kemudian, setelah bicara mengenai Zoya dengan Shanika. Gavin pun berjalan mendekati Xyan yang saat ini masih tidur terbaring di atas ranjangnya dan memakai infus di sekitar pergelangan tangannya, bagaikan orang yang sedang sakit parah.


“Sial!” ucap Gavin dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Shanika kebingungan dan bergegas melangkahkan kakinya untuk mendekati Gavin.


“A-ada apa?” tanya Shanika dengan perasaan khawatirnya, setelah ia melihat reaksi Gavin yang penuh dengan perasaan frustasinya.


Gavin yang tadinya tidak ingin membicarakan kondisi Xyan kepada Shanika, saat itu juga mau tidak mau harus memberitahu Shanika setelah ia menarik dan menghenbuskan nafasnya secara teratur “Karena energi Iblis Tuan habis, jiwa atau energi dari alam bawah sadar Tuan sebagai Iblis mulai menggerogoti jiwa manusia Tuan,” ucap Gavin secara perlahan-lahan agar mudah dipahami oleh Shanika.


“Ya? Tapi, Dokter bilang… semua baik-baik saja!” ucap Shanika dengan wajah paniknya.

__ADS_1


“Dokter tidak akan bisa mendeteksi hal seperti ini dengan alat secanggih apapun, Nona.” Balas Gavin dengan nada bicaranya yang penuh penekanan kepada Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Shanika semakin merasa gugup sekaligus juga takut dan sambil mengusap kedua tangannya yang mulai berkeringat, Shanika pun kembali berkata “Ja-jadi… apa yang harus kita lakukan?” dengan tatapan memelasnya kepada Gavin.


Selama beberapa detik Gavin pun terdiam dan berusaha untuk memutar otaknya, hingga ia kembali mengatakan “Ritual!” sambil menjetikkan jari tangan kanannya “Ritual? Apa maksudmu?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Saya harus membuka portal ke dunia kegelapan dengan ritual, untuk membawa masuk Tuan ke sana! Karena dari yang saya tahu, Iblis yang kehilangan kekuatannya bisa kembali pulih dengan cepat jika berada di dunia kegelapan!” ucap Gavin panjang lebar kepada Shanika dengan ekspresi wajahnya yang penuh dengan keyakinannya sendiri.


“A-apa hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Xyan?” tanya Shanika lagi dengan tatapan matanya yang semakin lekat kepada Gavin.


“Benar… walaupun saya harus mengorbankan keselamatan saya dan kehilangan jiwa manusia Tuan seutuhnya,” jawab Gavin dengan nada bicaranya yang semakin memelan saat bicara dengan Shanika, sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika juga.


Shanika yang masih bisa mendengar perkataan Gavin secara samar itu pun, dengan reflek kembali berkata “Tu-tunggu-tunggu! Apa katamu barusan? Jelaskan dengan lebih baik!” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang secara mendadak agak meninggi.


“Saya bilang… Tuan bisa selamat. Tapi, kemungkinan besar… Tuan akan menjadi Iblis seutuhnya!” balas Gavin dengan nada bicaranya yang keras dan dapat terdengar sangat jelas di telinga Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika sedikit tersentak dan dengan reflek langsung menolehkan kepalanya ke arah Xyan yang masih terbaring lemas di atas ranjangnya rumah sakit.


Detik itu juga, Shanika terdiam. Sejak awal dia memang menerima Xyan sebagai manusia setengah Iblis. Tapi, ia tidak pernah membayangkan sosok Xyan yang menjadi Iblis seutuhnya, Shanika bahkan merasa sedikit takut kalau-kalau Xyan akan berubah sikapnya menjadi seperti Kakak tirinya yaitu Zoya.


“Aku tidak mau merelakan Xyan. Tapi,” batin Shanika yang dipenuhi dengan perasaan ragu sekaligus sedih karena tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


“Ba-bagaimana ini?” batin Shanika lagi dengan perasaan yang menjadi sangat sesak dan detik itu juga membuat kaki Shanika tiba-tiba menjadi sangat lemas.


__ADS_2