
Di sisi lain, tanpa banyak berpikir dan berlama-lama lagi Shanika segera memanggil mobil taksi dan meminta kepada supir taksi dihadapannya itu untuk mengantarnya ke rumah sakit, tempat seniornya bernama Elvan di rawat saat ini.
Hingga sekitar lima belas menit kemudian, sesampainya Shanika di depan gedung rumah sakit, dengan penuh keberanian ia melangkahkan kakinya ke dalam dan mencari kamar rawat Elvan, untuk menemui hantu bermata merah yang dendam dan terus mengikuti Elvan.
Beberapa menit kemudian, Shanika pun sampai di depan pintu kamar rawat Elvan dan saat ia membuka pintu di hadapannya itu, dapat dengan jelas ia melihat Elvan yang sedang duduk melamun menghadap jendela “Kak Elvan!” panggil Shanika sambil memasuki kamar rawat itu.
“Apa kakak yang sudah membuat Nadine hamil?” tanya Shanika to the point kepada Elvan. Tapi, sesuai dengan dugaannya, Elvan sama sekali tidak memperdulikannya dan terus melamun menatap keluar jendela.
“Akh, sial!” keluh Shanika sambil mengusap keningnya sendiri yang terasa sangat penat.
Saat sedang mengeluh pada dirinya sendiri, tidak lama kemudian Shanika merasa sangat merinding dan pada saat ia menolehkan kepalanya, saat itu juga ia melihat hantu pendendam dengan mata merahnya yang sudah lama mengikuti Elvan “Kamu? Aku kira kamu tidak akan mau datang ke sini lagi,” ucap hantu wanita bermata merah itu dengan wajah datarnya kepada Shanika.
“Sebenarnya, aku datang ke sini karena ingin menemuimu,” balas Shanika dengan reflek sambil berdiri menghadap ke arah hantu wanita bermata merah itu, tanpa perasaan takut sedikit pun.
Hantu wanita bermata merah di hadapan Shanika itu pun langsung memiringkan kepalanya setelah mendengar perkataan Shanika, setelah itu berkata “Ah, temanmu pasti sudah bunuh diri ya!” dengan senyuman menyeringainya yang sangat mengerikan di mata Shanika.
“A-apa? Bagaimana kamu bisa tahu?” kaget Shanika dengan ekspresi tidak percayanya.
“Sekitar beberapa hari yang lalu dia datang ke sini dan menangis-nangis, entah karena apa!” balas hantu wanita bermata merah itu sambil mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi santainya.
Shanika yang mendengar perkataan hantu wanita bermata merah itu, dengan reflek kembali berkata “Temanku hamil,” yang seketika itu juga membuat hantu dihadapannya tersentak dan melebarkan kedua bola matanya “Menurutmu… siapa pelakunya?” sambung Shanika dengan tatapan tajam dan nada bicaranya yang sangat tegas.
Setelah mendengar perkataan Shanika, hantu wanita bermata merah itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Elvan yang saat ini masih melamun dan dengan sangat yakin, hantu itu berkata “Kali ini pelakunya bukan Elvan,” yang seketika itu juga membuat Shanika semakin pusing.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Shanika yang tidak mendapatkan jawaban apapun itu pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi, tepat sebelum Shanika keluar dari dalam kamar rawat Elvan, tiba-tiba hantu wanita bermata merah itu kembali berkata “Mungkin pria itu!” yang seketika itu juga membuat Shanika berhenti dan kembali
menolehkan kepalanya.
“Dari yang aku ingat, pria itu sering mengambil kesempatan dalam kesempitan selama bergaul dengan Elvan yang berasal dari keluarga kaya. Sudah pasti dia pelakunya!” sambung hantu wanita bermata merah itu sambil membalas tatapan mata Shanika.
“Maksudmu siapa?” tanya Shanika yang masih belum paham arah dari pembicaraan hantu di hadapannya itu.
“Pria itu seorang pelatih basket di Kampusmu, kamu pasti sudah sering bertemu dengannya!” jawab hantu wanita bermata merah itu, yang seketika itu juga membuat Shanika teringat dengan wajah dari pelatih basket yang dulu pernah memasukkan obat ke dalam minumannya dan juga pernah menghadang jalannya saat di Kampus.
Dengan perasaan marahnya, tanpa banyak bicara lagi Shanika segera keluar dari dalam kamar rawat Elvan dan memutuskan untuk pergi ke Kampusnya menggunakan mobil taksi lagi.
***
Dan sesampainya di Kampus, dengan langkah kakinya yang cepat Shanika berjalan menuju lapangan basket dan berusaha mencari pelatih basket yang sudah sangat meresahkan itu. Hingga beberapa menit kemudian, ada seorang anggota basket menghampiri Shanika dan menanyakan siapa yang sedang ia cari.
“Oh, terima kasih!” balas Shanika, setelah itu Shanika langsung berlari dengan sangat kencang untuk memasuki gedung C.
Sesampainya di dalam gedung C, Shanika segera berjalan di lorong gedung sambil mencari pintu ruangan ganti pakaian bagi para pemain basket. Tapi, belum sampai di ujung lorong tiba-tiba Shanika berpapasan dengan orang yang sejak tadi ia cari-cari.
“Hm? Sedang apa kamu di sini?” tanya pelatih basket itu dengan tatapan sinisnya kepada Shanika.
Dan dengan santainya Shanika berkata “Aku datang ke sini untuk mendapatkan pertanggung jawabanmu!” jawab Shanika dengan nada bicaranya yang sangat ketus.
__ADS_1
“Hah? Apa maksudmu?” balsas pelatih basket itu dengan ekspresi bingungnya.
Shanika yang sudah tidak tahan menahan amarahnya, detik itu juga langsung mencengkram kerah pakaian pelatih basket dihadapannya itu dengan kedua tangannya sambil berkata “Beraninya kamu melakukan hal kotor kepada temanku!” dengan nada bicaranya yang sangat kencang.
“Kamu pantas mati! Sial… gara-gara kamu temanku bunuh diri! Tanggung jawab sekarang!” jerit Shanika dengan sangat brutal, sambil terus menarik-narik kerah pakaian pelatih basket dihadapannya itu.
Pelatih basket yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung tersentak dan dengan reflek bergumam “Di-dia… sudah mati?” dengan ekspresi tidak percayanya. Tapi, entah kenapa dari raut wajahnya yang kaget itu terlihat juga perasaan leganya, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa semakin marah dan langsung memukul kepala pria dihadapannya itu secara berulang kali.
Sampai orang-orang yang melihat keributan di lorong gedung segera berlari dan berusaha memisahkan Shanika dari pelatih basket yang merasa kesakitan, karena pukulan yang Shanika layangkan kepadanya “Akh! Dasar tidak waras! Aku akan menginjak tubuhmu sampai hancur! Akh!!!” jerit Shanika saat beberapa orang berusaha menariknya keluar dari dalam gedung C.
***
Sekitar lima menit kemudian, Shanika yang masih kesal akhirnya memutuskan untuk menenangkan dirinya di depan pintu masuk gedung C sambil meneguk air dingin pemberian seorang mahasiswa wanita yang sebelumnya berusaha menahannya.
“Ah… aku benar-benar ingin mengamuk!” ucap Shanika sambil meremas botol air yang sudah kosong menggunakan satu tangannya dengan sangat kasar.
Shanika yang ingin kembali menghampiri pelatih basket itu pun segera bangkit dari duduknya. Tapi, tepat pada saat ia bangkit dari duduknya, saat itu juga Shanika mendengar suara jeritan wanita dari dalam gedung C yang disusul juga dengan suara lampu yang pecah secara bersamaan.
“Eh? Ada apa ini?” kaget beberapa orang yang ada di depan pintu masuk gedung C juga.
“Sepertinya ada listrik yang konslet ya,” balas seorang mahasiswa dengan perasaan takutnya, karena saat ini kondisi di seluruh gedung C menjadi sangat gelap.
Beberapa detik kemudian, Shanika yang masih berada di depan pintu gedung C melihat banyak mahasiswa termasuk juga dosen yang berlari keluar dari dalam gedung C dan bebarapa dari mereka bersaksi kalau mereka sempat mendengar suara wanita misterius yang menjerit di tengah-tengah lorong gedung C.
__ADS_1
Yang seketika itu juga membuat Shanika segera berlari ke dalam gedung sambil menyalakan senter pada handphonenya. Dengan perasaan khawatirnya Shanika menelusuri lorong gedung C yang gelap gulita seorang diri dan sesuai dugaannya, suara jeritan wanita yang sempat ia dan beberapa orang dengar adalah suara jeritan Nadine yang saat ini sudah berubah menjadi hantu gentayangan.
“Na-nadine,” gumam Shanika dengan suaranya yang pelan saat ia melihat punggung Nadine di tengah lorong yang dikelilingi aura gelap.