
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Shanika yang sedang berada di dalam kelasnya sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran yang diajarkan oleh Dosennya, karena ia terus terbayang dengan perkataan hingga sikap Nadine kepada dirinya.
Bagi Shanika, Nadine adalah satu-satunya teman yang berarti baginya walaupun ia tahu kalau ada banyak hal yang Nadine tidak sukai dari dirinya “Jadi… pada akhirnya Nadine memutuskan untuk menunjukkan sikapnya yang asli,” batin Shanika dengan perasaan sedihnya.
Hingga beberapa menit kemudian dan jam pelajaran selesai, tanpa berlama-lama lagi Shanika segera merapikan semua barangnya yang ada di atas meja ke dalam tas, setelah itu bergegas untuk keluar dari dalam kelas dan pergi membeli makanan.
Karena Shanika tidak ingin berada di antara lautan manusia, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari dalam kantin dan makan seorang diri di taman samping kampus, walaupun ada beberapa hantu yang berlalu-lalang seperti ingin mengganggunya.
“Pada akhirnya… aku mulai terbiasa dengan para hantu,” gumam Shanika yang bicara kepada dirinya sendiri sambil menyantap roti lapir yang ada di tangannya dengan sangat lahap.
Saat fokus menyantap makanannya tiba-tiba Shanika mendengar suara tawa wanita dari belakang tubuhnya, yang disusul juga dengan perasaan merinding “Ah... jangan ganggu aku dengan tawa anehmu itu,” ucap Shanika dengan nada santainya sambil terus melahap roti di tangannya tanpa henti.
“Aku tidak ingin mengganggu, aku hanya ingin menemanimu!” balas sosok hantu wanita berwajah pucat sambil duduk tepat di samping Shanika yang masih fokus dengan makanannya.
Hantu wanita yang sejak tadi sudah memperhatikan Shanika, tidak lama kemudian berkata “Kamu sedang ada masalah dengan temanmu, ya? sampai-sampai kamu tidak bisa fokus belajar,” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika.
“Ya, begitulah,” balas Shanika dengan nada bicaranya yang lemas dan ekspresi tidak pedulinya, sambil terus menatap ke arah lapangan luas di depannya.
“Hidup manusia memang sangat merepotkan, ya?” ucap hantu wanita itu lagi sambil menghela nafas panjangnya, seakan sedang prihatin dengan setiap manusia yang ia lihat.
Shanika yang mendengar perkataan hantu wanita itu pun langsung tersentak dan dengan reflek melirikkan matanya sekilas ke arah hantu wanita itu, setelah itu berkata “Dulu kamu juga pernah menjadi manusia, kan?” tanya Shanika dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
“Tentu saja. Tapi, aku sudah lupa! Nama bahkan hingga keluarga… tidak ada satu pun yang aku ingat. Alasanku bisa berada di sini, aku juga tidak tahu!” jawab hantu wanita itu sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya secara bersamaan.
Yang seketika itu juga membuat Shanika merasa iba dan dengan reflek berkata “Kasihan sekali,” sambil membersihkan tangannya dari rempahan roti yang sudah ia habiskan.
“Ey… tidak perlu merasa kasihan seperti itu!” keluh hantu wanita di samping Shanika dengan wajah seriusnya.
“Terkadang… setiap manusia juga perlu merasa kasihan, dengan begitu kita akan menjadi lebih bersyukur dan tidak merasa menyedihkan!” balas Shanika sambil bangkit dari duduknya dan merapikan pakaiannya yang sempat terlipat-lipat.
Sosok hantu wanita yang mendengarkan perkataan Shanika itu pun langsung menganggukkan kepalanya dan kembali bertanya “Hm? Sekarang kamu mau kemana?” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika yang sudah berdiri di hadapannya.
“Tentu saja mau pulang! Sudah, jangan bicara padaku lagi… kalau sampai ada yang melihatku bicara sendiri, aku bisa gawat!” balas Shanika sambil mengambil tasnya dan segera pergi meninggalkan hantu wanita itu sendirian di taman samping kampus.
“Hm, baiklah! Sampai jumpa lagi!” ucap hantu wanita itu sambil memperhatikan kepergian Shanika yang semakin jauh darinya.
Dan tepat pada saat Shanika akan menghentikan mobil taksi, saat itu juga ia mendengar suara pria yang memanggil namanya “Nona Shanika!” yang seketika itu juga membuat pergerakkan Shanika terhenti “Nona?” gumam Shanika dengan wajah bingungnya, sambil bergegas menolehkan kepalanya ke arah sumber suaranya.
Saat Shanika menoleh, dapat dengan jelas Shanika melihat wajah anak buah Xyan “Gavin?” yang saat ini sedang berdiri di dekat parkiran mobil. Tanpa pikir panjang, Shanika segera berjalan menghampiri Gavin dan bertanya “Sedang apa kamu di sini?” dengan tatapan bingungnya.
Dan sebelum Gavin menjawab, dengan cepat Shanika bicara lagi “Tunggu! Jangan bilang Xyan juga datang bersamamu ke sini?!” dengan ekspresi cerianya.
“Tidak Nona, hanya saya saja!” balas Gavin dengan reflek, yang seketika itu juga membuat wajah ceria Shanika berubah menjadi wajah datarnya “Ya? ah… begitu,” gumam Shanika.
__ADS_1
Gavin yang melihat reaksi Shanika itu pun langsung memiringkan kepalanya dan kembali berkata “Nona terlihat kecewa,” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika.
“Siapa yang kecewa?! A-aku? Tidak tuh!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi secara tiba-tiba dan membuat Gavin tersenyum tipis.’
“Tuan meminta saya untuk menjemput Nona. Sepertinya Tuan takut kalau-kalau pria kemarin memaksa anda lagi!” kata Gavin lagi, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sedikit senang dengan perhatian Xyan.
“Be-begitu ya,” balas Shanika sambil berusaha menyembunyikan perasaan senangnya dari Gavin.
Tanpa banyak bicara lagi, Gavin pun segera membukakan pintu mobil untuk Shanika dan meminta kepada Shanika untuk tidak bersentuhan dengannya, mau itu secara sengaja atau tidak karena ia masih trauma dengan rasa sengatan dari benang putih yang ada di pergelangan tangan Shanika.
“Ya, aku mengerti! Tenang saja,” balas Shanika dengan tawa pelannya sambil memasuki mobil mewah berwarna hitam milik Xyan yang ada dihadapannya saat ini.
Tidak lama kemudian, saat Gavin mulai menyalakan mesin mobilnya dan Shanika memakai sabuk pengamannya, saat itu juga Shanika bertanya “Apa kamu akan sering-sering menjemputku seperti ini?” dengan tatapan matanya yang berbinar-binar kepada Gavin yang duduk di bangku kemudi.
“Entahlah Nona, nanti saya akan coba bertanya kepada Tuan,” balas Gavin yang seketika itu juga membuat Shanika mengangguk, setelah itu berkata “Pft! Apa Xyan juga menyuruhmu untuk memanggilku Nona?” tanya Shanika lagi dengan perasaan yang berbunga-bunga.
“Tidak, itu hanya kebiasaan saya,” jawab Gavin yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan perasaannya yang berbunga-bunga menghilang “Ah, baiklah!” balas Shanika sambil mengalihkan pandangannya dan membuat Gavin kembali tersenyum.
Saat Gavin mulai mengendarai mobilnya, saat itu juga tiba-tiba pandangan mata Shanika tertuju kepada Nadine yang saat ini sedang bicara empat mata bersama Elvan di depan pintu masuk gedung Kampusnya.
“Hm? Mereka berdua,” gumam Shanika dengan perasaan khawatirnya, saat ia melihat Nadine yang dengan cerianya merangkul lengan Elvan dan melangkah pergi bersama dengan sangat akrab.
__ADS_1
Tapi, perasaan khawatir Shanika tiba-tiba terhenti saat ia mengingat perkataan yang Nadine katakan kepada dirinya “Ya, biarkan saja… aku yakin Nadine bisa menjaga dirinya sendiri,” batin Shanika sambil berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.