
Petugas keamanan yang melihat reaksi Shanika dan Xyan itu pun langsung menunjukkan ekspresi bingungnya, setelah itu kembali berkata “Sa-saya pikir Tuan dan Nona semakin akrab, karena sejak kemarin kalian sering terlihat bersama,” dengan nada bicaranya yang canggung sekaligus gugup.
“Tidak, kamu sudah salah paham!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang sangat tegas kepada petugas keamanan dihadapannya itu, yang seketika itu juga entah kenapa membuat Shanika merasa sedikit tersinggung.
“Ah… saya mengerti, Tuan. Oya, saya menghampiri Tuan untuk menanyakan keadaan lengan anda. Apa anda sudah baik-baik saja?” tanya petugas keamanan dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan.
Shanika yang mendengar perkataan petugas keamanan itu, dengan reflek langsung menolehkan kepalanya untuk memeriksa tangan kanan Xyan yang saat ini sudah dibalut dengan perban. Sedangkan Xyan dengan cepat berkata “Karena aku segera mendapatkan perawatan dari Dokter yang hebat, luka bakarnya dapat segera ditangani dan akan segera sembuh,” dengan nada bicaranya yang santai dan sangat meyakinkan.
“Syukurlah kalau begitu, kemarin… petugas yang menumpahkan air panas sudah mendapatkan peringatan dan hukuman yang berat, kemungkinan besar… dia tidak boleh bekerja disini lagi,” balas petugas keamanan dihadapan Xyan dan Shanika itu dengan wajah seriusnya.
“Kenapa begitu? Manusia mana pun kan bisa melakukan kesalahan. Aku harap, dia tetap bisa bekerja di sini seperti biasanya,” kata Xyan dengan senyuman ramahnya yang terlihat sangat menenangkan dan penuh perhatian.
Petugas keamanan yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung merasa terharu, sedangkan Shanika yang mendengar betapa palsunya Xyan, seketika itu juga langsung mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan “Ck, palsu sekali,” gerutu Shanika dengan suara yang sangat pelan.
Hingga beberapa menit kemudian, saat Shanika dan Xyan sudah masuk ke dalam lift, saat itu juga Shanika berkata “Tidak aku sangka, kamu menggunakan masukkanku!” sambil menekan tombol nomor di dalam lift, dengan nada bicaranya yang sangat santai kepada Xyan.
“Mau bagaimana lagi? tidak mungkin kan, aku terus menggunakan perban seperti ini!” balas Xyan dengan perasaan kesalnya sambil menunjukkan tangan kanannya yang diperban dengan sangat rapi.
“Pft! Benar juga. Tapi, saat di kampus tadi aku tidak menyadari perban itu, karena itu aku cukup panik saat petugas keamanan tiba-tiba membicarakan luka bakarmu!” kata Shanika lagi dengan panjang lebar sambil mengusap dadanya sendiri dengan kedua tangannya.
“Aku ini bukan orang yang ceroboh! Tidak perlu panik-panik begitu,” balas Xyan dengan ekspresi datarnya, yang seketika itu juga membuat Shanika kesal dan merasa kalau Xyan sudah terlalu sombong “Menyebalkan sekali,” gerutu Shanika dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Xyan tersenyum tipis.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka saat sudah sampai di lantai Apartement Shanika dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera melangkah keluar dari dalam lift, setelah itu berdiri menghadap ke arah Xyan sambil berkata “Kalau begitu, selama istirahat… Paman!” dengan nada bicaranya yang penuh penekanan, yang sengaja ia
lakukan untuk menggoda Xyan.
“A-apa katamu?” kaget Xyan dengan ekspresi kesalnya.
Tapi, tanpa bicara lagi Shanika segera membalik tubuhnya dan melangkah pergi, bersamaan dengan pintu lift yang kembali tertutup “Wah… wanita itu. Hah! Yang benar saja,” keluh Xyan sambil bertolak pinggang di dalam lift dan terus berusaha menahan emosinya karena ejekkan Shanika.
***
Di sisi lain, Shanika yang sudah berada di dalam Apartementnya. Dengan perasaan puasnya segera bergegas untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah, setelah itu sambil menyiapkan makan malamnya Shanika bergumam “Paman? Pft, lucu sekali!” tawa Shanika setiap ia mengingat-ingat ekspresi Xyan saat marah.
Walaupun merasa takut, dengan reflek Shanika memeriksa benang putih yang ada di pergelangan tangannya. Setelah itu, secara perlahan-lahan ia mulai menolehkan kepalanya dan menatap pintu kamar tidurnya yang tertutup rapat.
“A-apa tadi aku salah dengar?” gumam Shanika dengan perasaan tidak nyamannya.
Karena merasa sangat penasaran, mau tidak mau Shanika harus memeriksa kamar tidurnya dan tanpa banyak berpikir lagi Shanika segera melangkahkan kakinya untuk mendekati pintu kamar tidurnya. Setelah itu Shanika mulai menggapai gagang pintu kamar tidurnya dan membuka pintu dihadapannya itu dengan sangat waspada.
Shanika yang tidak ingin dikejutkan dengan sosok hantu, detik itu juga mendorong pintu kamar tidurnya dengan sangat kasar sampai terbuka dengan sangat lebar dan sesuai dugaan Shanika, di dalam kamar tidurnya itu tidak ada siapapun.
“Ah… mengganggu sekali!” gerutu Shanika sambil menggaruk kepalanya sendiri dengan perasaan frustasinya.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian, tepat pada saat Shanika membalik tubuhnya saat itu juga ia dikejutkan dengan hantu wanita bermata merah yang sedang menatapnya dalam posisi tubuh yang tergantung terbalik di atas plafon Apartementnya.
“Kya!!!” Shanika pun menjerit dengan sangat kencang dan keseimbangan kakinya mulaihilang yang seketika itu juga membuat tubuhnya jatuh kebelakang “Bruk!” saat hantu wanita bermata merah itu mendekati wajahnya dengan sangat cepat.
Karena kepala Shanika sempat terbentur lantai, ia pun merasa pusing dan pandangannya mulai menjadi gelap seakan-akan ia sedang jatuh pingsan. Tapi, bukannya jatuh pingsan atau kehilangan kesadarannya, saat ini Shanika merasa kalau tubuhnya mengambang dan pandangannya yang gelap secara perlahan-lahan menjadi terang karena cahaya kuning seperti lilin yang menyala disekitar tubuhnya.
“A-aku ada dimana?” pikir Shanika sambil menolehkan kepalanya ke segala arah dengan perasaan bingung sekaligus juga takut.
Shanika pun dibuat semakin takut lagi, saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang dan mulai melihat sosok wanita yang sedang berdiri diujung lorong gelap dihadapannya “Sudah lama aku ingin bicara denganmu,” kata wanita itu dengan suara yang agak bergetar.
“Ka-kamu siapa?” tanya Shanika dengan suara yang sedikit mengeras.
Wanita yang mendengar pertanyaan Shanika itu pun kembali melanjutkan langkah kakinya hingga ia berada cukup dekat dari tempat Shanika berdiri “Kamu!” kaget Shanika saat ia dapat dengan jelas melihat wajah wanita dihadapannya itu, karena wanita yang ada dihadapannya itu adalah hantu wanita bermata merah yang selama ini terus mengikuti Elvan.
Tapi, kali ini sosok wanita yang Shanika lihat tidak terlihat mengerikan, justru sosok hantu wanita yang saat ini Shanika lihat, terlihat sangat menyedihkan dan penuh akan rasa menderita.
“Kamu harus membantuku,” pinta hantu wanita itu dengan wajah memelasnya.
“Membantumu melakukan apa?” tanya Shanika sambil terus berusaha menunjukkan sikap beraninya.
“Membunuh pria kotor itu!” jawab hantu wanita dihadapan Shanika dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah menjadi ekspresi yang penuh amarah dan dendam, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan merasakan aura yang sangat mencekam disekitar tubuhnya.
__ADS_1