Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Buktikan Dirimu Kepadaku


__ADS_3

Karena tidak mau menjadi tontonan orang-orang yang berlalu-lalang di depan gedung Apartement, tanpa bicara sedikit pun Xyan melangkah pergi meninggalkan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika yang masih kebingungan bergegas untuk mengikuti langkah Xyan hingga memasuki pintu lift.


“Jawab pertanyaanku, kamu bukan manusia?” tanya Shanika lagi sambil mengusap air matanya dan terus menatap Xyan dari samping dengan tatapan lekatnya.


“Kenapa diam saja? jelaskan padaku!” pinta Shanika yang saat itu juga membuat Xyan merasa kesal dan lampu di dalam lift pun berkedip-kedip “Uwa?! Apa yang terjadi?” kaget Shanika saat lift yang sedang ia masuki itu sedikit bergetar seakan ingin jatuh.


Sedangkan Xyan yang masih diam, detik itu juga menolehkan kepalanya ke arah Shanika sambil berkata “Sebagian dari diriku… bukan manusia. Apa jawabanku sudah cukup menjawab pertanyaanmu?” ucap Xyan dengan nada bicaranya yang sedikit ketus.


Dan tepat sebelum Shanika membalas perkataan Xyan, tiba-tiba pintu lift terbuka dan Xyan segera melangkah keluar dari dalam lift. Shanika yang masih merasa penasaran, tanpa banyak berpikir terus mengikuti Xyan hingga sampai di depan pintu Apartement pria itu.


“Kalau bukan manusia? Sebagian dari dirimu itu apa?” tanya Shanika sambil menahan pintu Apartement Xyan yang sudah setengah terbuka menggunakan tangan kirinya.


“Iblis,” jawab Xyan sambil membalas tatapan mata Shanika dengan tatapan lekatnya yang terlihat sangat serius.


Shanika yang mendengar jawaban Xyan itu pun dengan reflek bergumam “Iblis?” setelah itu mulai tertawa pelan, seakan sedang menertawakan sebuah lolucon “Bagaimana bisa kamu tertawa?” kaget Xyan saat ia melihat reaksi aneh dari Shanika.


“Haha! Hanya… aku merasa sangat tidak masuk akal! Setelah dapat melihat hantu… sekarang aku juga bertemu dengan manusia setengah iblis?! yang benar saja,” kata Shanika panjang lebar sambil terus tertawa dengan ekspresi tidak percayanya.


“Lupakan saja,” balas Xyan sambil mendorong tubuh Shanika yang sejak tadi sudah menghalanginya untuk masuk ke dalam Apartementnya.


Setelah di dorong oleh Xyan, dengan sigap Shanika menahan pintu Apartement Xyan lagi sambil berkata “Buktikan!” yang lagi-lagi membuat Xyan merasa kesal sekaligus frustasi “Apa katamu?” tanya Xyan sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Buktikan! Dengan begitu… aku bisa memutuskan, kedepannya aku akan percaya atau tidak kepadamu!” pinta Shanika tanpa perasaan takut sedikit pun kepada Xyan.


***


Xyan pun mengajak Shanika ke dalam Apartementnya dan segera mengambil benda tajam yang biasa ia gunakan untuk memasak, yang seketika itu juga membuat kedua bola mata Shanika melebar “A-apa yang akan kamu lakukan?!” panik Shanika.


Dan tanpa banyak bicara lagi, Xyan langsung menggoreskan benda tajam yang ia genggam itu pada telapak tangan sebelah kirinya “Srak!” yang saat itu juga membuat lantai Apartement disekitarnya terkena banyak tetesan darah.


“Kya! Kamu baik-baik saja?!” panik Shanika lagi yang dengan cepat segera mengambil tisu di dekatnya untuk menahan darah yang keluar dari telapak tangan Xyan.


“Aku memintamu untuk membuktikan, bukannya untuk melukai dirimu-“ perkataan Shanika tiba-tiba terhenti, karena di saat ia sedang berusaha menghentikan pendarahan pada tangan Xyan, luka pada tangan Xyan sudah sembuh dalam waktu yang singkat.


Shanika pun terdiam dan otaknya seakan membeku dengan apa yang barusan ia lihat, karena untuk yang kedua kalinya ia merasakan hal yang sangat tidak masuk akal setelah ia bisa melihat hantu.


Dengan cepat Xyan mencuci benda tajam yang ia pegang di wastafel, setelah itu mengambilkan handuk kering untuk Shanika dan tidak lupa juga untuk segera membersihkan tetesan darah yang menodai lantai Apartementnya.


Sedangkan Shanika yang masih terdiam, saat ini terduduk lemas di atas sofa sambil memegang erat handuk pemberian Xyan untuknya. Tidak lama kemudian, pandangan Shanika mulai mengarah pada Xyan yang saat ini masih membersihkan lantai sambil berpikir “Manusia setengah Iblis,” dengan tatapan lekatnya.


Xyan yang merasakan tatapan Shanika itu pun segera menghela nafas panjangnya sambil bergumam “Sekarang… kamu pasti takut padaku,” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan sadar dari lamunannya “Takut?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Semua manusia yang aku beritahu pasti akan ketakutan… atau mencari kesempatan untuk melakukan hal buruk!” sambung Xyan dengan wajah datarnya yang terlihat penuh perasaan tertekan.

__ADS_1


“Bagiku… kamu bagaikan pelindung!” balas Shanika yang saat itu juga membuat Xyan terkejut dan segera menatapnya dengan tatapan tidak percaya “Pelindung katamu?” tanya Xyan sambil menaikkan salah satu alisnya.


“Ah! Pantas saja para hantu langsung menghilang jika aku berada di dekatmu! Mereka pasti takut padamu, karena kamu setengah Iblis!” kata Shanika dengan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi sangat ceria, sambil menepuk tangannya sendiri.


Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun menggelengkan kepalanya dan kembali berkata “Aku ini Iblis dan Iblis jauh lebih berbahaya daripada hantu! Apa kamu masih tidak paham? Kapan saja aku bisa melukaimu! Seharusnya kamu takut kepadaku!” dengan nada bicaranya yang meninggi sambil membanting kain lap yang ia gunakan untuk membersihkan lantai dihadapan Shanika.


Shanika yang sempat terdiam, beberapa detik kemudian kembali berkata “A-apa kamu ingin aku takut padamu?” dengan tatapan memelasnya kepada Xyan yang saat ini sedang berusaha menahan amarahnya.


“Kamu memang Iblis… Tapi, sebagaian dirimu juga manusia, sama sepertiku!” sambung Shanika dengan suaranya yang sedikit bergetar, seakan sedang berusaha menahan tangisannya.


“Apa?” gumam Xyan dengan suaranya yang memelan.


“Lagipula, saat ini hanya kamu yang bisa aku andalkan,” sambung Shanika lagi sambil bangkit dari duduknya dan kembali memberanikan dirinya untuk menatap Xyan.


Xyan yang tidak ingin berdebat atau membuat Shanika semakin menangis itu pun kembali menghela nafas panjangnya, setelah itu berkata “Ya, cepat atau lambat… kamu akan segera berubah pikiran,” dengan nada bicaranya yang terdengar seperti tidak peduli.


“Gunakan handuk itu dengan benar, tadi kamu pasti kehujanan! Rambutmu masih basah,” sambung Xyan sambil mengambilkan kotak obat untuk Shanika “Setelah itu, obati lukamu!” ucap Xyan tanpa mau melihat wajah Shanika sedikit pun.


“Hm, terima kasih.” Balas Shanika sambil menganggukkan kepalanya.


Walaupun sempat merasa takut pada Xyan pada saat pertama kali bertemu, saat ini Shanika benar-benar ingin menjadi akrab dengan pria yang sok tidak peduli dihadapannya itu, karena Shanika yakin kalau Xyan adalah sosok pria yang hangat dan satu-satunya orang yang bisa melindunginya.

__ADS_1


“Sepertinya… pria ini berhasil menumbuhkan sesuatu di dalam diriku,” batin Shanika setiap ia melihat pesona tersembunyi pada diri Xyan yang tidak mudah dilihat oleh orang lain.


__ADS_2