
Karena selama seharian ini Shanika hanya memikirkan kondisi atau kesehatan keluarganya saja, ia sama sekali tidak menyadari kalau saat ini langit sudah sangat gelap dan tanpa perasaan takut sedikit pun Shanika terus melanjutkan langkah kakinya di tempat-tempat yang dipenuhi dengan aura gelap.
Hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba Shanika mendengar suara Xyan yang memanggil namanya “Shanika,” yang seketika itu juga membuat Shanika menatap lurus ke depan dan melihat bayangan seorang pria yang bukan lain adalah Xyan.
Tepat pada saat Xyan mendekati Shanika, saat itu juga semua hantu pemilik aura gelap di sekitar jalan pergi menghilang “Yang benar saja!” ucap Xyan dengan ekspresi marah dan tatapan khawatirnya kepada Shanika.
“Jangan bilang… kamu sudah tahu, apa yang hari ini aku alami?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lemas kepada Xyan yang saat ini sudah berdiri tepat dihadapannya.
Xyan yang mendengar pertanyaan Shanika sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu dan dengan reflek segera melepaskan jaketnya untuk ia pakaian di pundak Shanika “Ayo kita pulang,” ajak Xyan sambil menggandeng tangan Shanika dan mengajak Shanika untuk melanjutkan langkah kakinya kembali.
Dengan perasaan kacaunya Shanika pun mengikuti langkah kaki Xyan, hingga beberapa detik kemudian air matanya kembali mengalir dan dengan reflek berkata “Bantu aku,” yang seketika itu juga membuat Xyan menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba.
“Aku rela memberikan jiwaku kepadamu, asalkan kamu mau membantuku,” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang sangat bergetar, seakan sedang berusaha menahan tangisannya.
“Jangan bicara begitu, aku tidak pernah meminta jiwamu!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang sangat tegas.
Detik itu juga, dengan kasar Shanika menghempaskan tangan Xyan dan kembali berkata “Aku tidak bisa hidup tanpa kedua orang tuaku, Xyan!” ucap Shanika dengan dadanya yang terasa sangat sesak.
“Aku juga tidak sanggup melihat mereka menderita,” sambung Shanika lagi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya “Apa yang harus aku lakukan?! Hiks!” tangis Shanika dengan suara yang semakin meninggi.
Xyan yang melihat kondisi menyedihkan yang ditunjukkan oleh Shanika itu pun hanya bisa terdiam dan dengan perasaan ragunya, ia memutuskan untuk memeluk Shanika dan menepuk punggung Shanika dengan lembut agar wanita itu merasa lebih tenang.
__ADS_1
“Maafkan aku. Tapi, saat ini aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu,” pikir Xyan karena ia sendiri juga belum tahu cara yang tepat untuk menolong Shanika.
***
Sekitar setengah jam kemudian, Shanika yang saat ini berada di dalam Apartement Xyan akhirnya merasa jauh lebih tenang setelah menghabiskan satu gelas susu cokelat panas buatan Xyan “Kamu sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya,” ucap Xyan sambil mengambil gelas kosong yang masih Shanika genggam.
“Mau aku buatkan lagi?” tanya Xyan sambil menunjukkan senyuman ramahnya kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa canggung dan dengan reflek berkata “Tidak perlu,” sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
“Hm, baiklah.” Balas Xyan sambil meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya itu di atas meja.
Beberapa detik kemudian, Shanika pun kembali menolehkan kepalanya kepada Xyan dan memberanikan dirinya untuk bertanya “Apa kamu tidak bisa membantu Ayahku sembuh atau mengembalikan arwah Ibuku ke dalam tubuhnya?” tanya Shanika dengan wajah memelasnya.
“Tentu saja bisa. Tapi, jika salah sedikit saja… nyawa keluargamu bisa menjadi taruhannya,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang santai.
Xyan yang mendengar gerutuan Shanika itu pun langsung mengerutkan dahinya dan dengan reflek kembali berkata “Pada intinya, kamu harus tahu… kalau Iblis itu hanya bisa melakukan hal jahat bukannya hal baik! Kecuali ada imbalannya,” ucap Xyan panjang lebar dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.
“Tapi, aku tidak mau seperti itu! Karena aku juga memiliki sisi kemanusiaanku, mengerti?” sambung Xyan dengan tatapan matanya yang sangat lekat kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya dengan perasaan bersalahnya.
Setelah bicara panjang lebar Xyan pun terdiam dan terlihat sedang berusaha untuk menenangkan emosinya kepada Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika berkata “Maafkan aku, karena sudah membuatmu kerepotan,” dengan wajah sedihnya.
“Kalau aku adalah kamu… pasti aku sudah pergi dan tidak mau menolong,” sambung Shanika yang detik itu juga berhasil membuat Xyan kebingungan dan langsung menggaruk kepalanya sendiri dengan kasar.
__ADS_1
“Akan aku coba cari caranya,” ucap Xyan tiba-tiba dengan suara yang sangat pelan, tanpa mau menatap wajah Shanika “Ya?!” kaget Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar dan berbinar-binar.
“Kamu akan membantuku?!” tanya Shanika dengan wajah yang ceria.
“Tapi, jangan terlalu banyak berharap!” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang meninggi lagi kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika tersenyum dengan sangat lebar dan berkata “Setidaknya kamu sudah berusaha, Terima kasih!” dengan nada bicaranya yang sangat ceria dan penuh syukur kepada Xyan.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika dan melihat ekspresi ceria Shanika itu pun langsung bergegas untuk mengalihkan pandangannya lagi sambil bergumam “Sepertinya ada yang salah denganku!” saat ia merasakan debaran aneh di dalam dadanya setiap melihat senyuman Shanika.
Tidak lama kemudian, Shanika yang ceria itu pun kembali berkata “Hm… bagaimana kalau besok kamu pergi menemui Ayah dan Ibuku?!” yang seketika itu juga membuat Xyan terbatuk dan dengan reflek berkata “Besok?!” dengan ekspresi kagetnya.
“Ya, karena kalau lebih cepat… akan lebih baik!” balas Shanika sambil menganggukkan kepalanya dihadapan Xyan.
“Jika aku menemui Ayah dan Ibumu… kamu akan memperkenalkan aku sebagai apa?” tanya Xyan tiba-tiba dengan tatapan matanya yang sangat lekat dan terasa sangat intens bagi Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika kehabisan kata-katanya.
Detik itu juga, Shanika segera memutar otaknya dengan sangat serius karena ia paham betapa sensitifnya Xyan jika membicarakan identitasnya “Hm… te-tetangga?” tanya Shanika dengan penuh keraguan.
“Hah! Yang benar saja!” ucap Xyan dengan suara yang sangat kencang, yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut “Ah… kalau begitu apa?! Se-seumur hidupku… aku belum pernah mengenalkan pria kepada kedua orang tuaku!” balas Shanika dengan penuh frustasi.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung menghela nafas panjangnya dan kembali berkata “Pacar,” dengan suara yang sangat pelan.
“Hm? Apa katamu barusan?” tanya Shanika yang tidak mendengar perkataan Xyan dengan ekspresi bingungnya.
__ADS_1
Dengan perasaan gugupnya, Xyan pun kembali menatap Shanika dan berkata “Perkenalkan aku sebagai pacarmu!” dengan nada bicaranya yang sangat tegas dan ekspresi yang serius.
“Hah?” kaget Shanika dengan ekspresi kagetnya yang terlihat sangat aneh, setelah mendengar perkataan Xyan yang sangat diluar dugaannya itu.