
Malaikat maut yang berlari mendekati Shanika, beberapa detik kemudian langsung menghentikan langkahnya saat melihat monster serigala yang hampir menginjak Shanika tiba-tiba hancur menjadi butiran debu dan seorang pria tampan berlari dari balik debu yang berterbangan sambil memanggil nama Shanika.
Yang seketika itu juga membuat Shanika segera menolehkan kepalanya dan secara samar melihat Xyan yang sedang berlari ke arahnya “Xyan?” gumam Shanika dengan perasaan leganya.
“Kamu baik-baik saja, kan?!” tanya Xyan saat ia sudah berdiri tepat dihadapan Shanika dan dengan cepat langsung membantu Shanika untuk bangkit dari jatuhnya “Ugh, aku baik-baik saja. Karena kamu datang di waktu yang tepat,” jawab Shanika sambil membersihkan pakaiannya yang penuh debu.
Xyan yang mendengar jawaban Shanika itu pun langsung menghela nafas panjangnya, setelah itu segera mengusap kepala Shanika dengan penuh perhatian, yang saat itu juga membuat hati Shanika kembali goyah.
Dengan reflek Shanika pun menghindari sentuhan tangan Xyan, setelah itu berkata “Bawa aku keluar dari sini sekarang juga,” yang seketika itu juga membuat Xyan merasa bingung dan tanpa banyak berpikir lagi ia segera mengembalikan keadaan seperti sebelumnya.
Tapat pada saat Shanika sudah kembali di dalam lobi rumah sakit, lagi-lagi ia merasakan mual pada perutnya “Ugh… perpindahan dunia membuatku mual!” keluh Shanika sambil memegangi perut dengan kedua tangannya.
“Biar aku periksa,” balas Xyan dengan tatapan khawatirnya. Tapi, untuk sekali lagi Shanika menghindari sentuhan tangan Xyan dan berkata “Tidak perlu, aku harus segera pergi ke Kampus!” dengan wajah seriusnya, setelah itu langsung bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan Xyan untuk keluar dari dalam gedung rumah sakit.
Sedangkan Xyan yang kebingungan dengan tingkah Shanika, detik itu juga merasakan aura keberadaan malaikat maut dan langsung melirikkan tatapan tajamnya ke arah pria berpakaian serba hitam yang sejak tadi sudah memperhatikannya dari kejauhan.
“Eh? Kenapa dia menatapku seperti itu? Memangnya aku salah apa?” gumam pria berpakaian serba hitam yang merupakan malaikat maut itu, setelah ia melihat tatapan tajam Xyan kepadanya dan melihat kepergian Xyan yang ingin menyusul Shanika keluar dari dalam gedung rumah sakit.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Xyan yang berusaha menyusul Shanika. Sebelum Shanika berhasil memanggil mobil taksi di pinggir jalan, dengan cepat Xyan menarik lengan tangan Shanika dan mengajukan pertanyaan “Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kamu mengabaikan aku?” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika.
“Kata siapa aku sedang mengabaikanmu?” balas Shanika dengan tatapan yang sangat berani, yang seketika itu juga membuat Xyan kehabisan kata-katanya.
Shanika yang sudah lelah menahan isi kepalanya, detik itu juga menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya setelah itu kembali menatap Xyan yang ada di dekatnya sambil berkata “Aku dengar… mataku ini ada kaitannya denganmu!” dengan nada bicaranya yang sangat serius.
“Apa?” kaget Xyan yang dengan reflek langsung melepaskan tangannya dari lengan Shanika.
“Mataku saat ini seharusnya bukan milikku. Tapi, milik pengantinmu yang sudah meninggal dunia. Iya, kan?” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang memelan dan terdengar sedih.
Xyan yang mendengar pertanyaan Shanika itu pun langsung mengerutkan dahinya dan bukannya menjawab pertanyaan Shanika, detik itu juga Xyan justru berkata “Apa malaikat maut itu yang sudah memberitahumu?” dengan nada bicara yang agak meninggi dan ekspresi marahnya.
“Tapi, siapa sangka juga? keajaiban ini membawa banyak kesialan kepadaku,” sambung Shanika lagi sambil menundukkan kepalanya dan melangkah mundur dari hadapan Xyan, seakan sedang berusaha menyembunyikan prasaan sedihnya dari Xyan.
Beberapa detik kemudian, Xyan pun berusaha mengatur emosinya dan kembali berkata kepada Shanika “Jadi, kenapa? kamu ingin mengembalikan mata itu kepada pengantinku yang sudah meninggal?!” tanya Xyan dengan nada bicaranya yang agak meninggi dan keras kepada Shanika.
Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan merasa terpukul di dalam hatinya “Sial!” gumam Shanika dengan reflek sambil menggigit bibir bawahnya sendiri “Aku harap kamu bisa membuang semua rasa kasihan dan tanggung jawabmu untuk melindungiku!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.
“Aku tidak membutuhkanmu lagi!” sambung Shanika lagi sambil membalik tubuhnya dan langsung bergegas pergi ke dalam mobil taksi yang baru saja berhenti di pinggir jalan setelah menurunkan penumpang lain.
__ADS_1
Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung merasa sangat kacau dan serba salah. Xyan sangat paham kalau tadi ia sudah salah bicara kepada Shanika "Akh, bodoh sekali!” gerutu Xyan.
Saat Xyan sedang merasa kesal kepada dirinya sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara pria dari belakang tubuhnya “Seharusnya kamu jelaskan yang benar soal matanya itu,” yang seketika itu juga membuat Xyan semakin kesal dan dengan reflek menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang barusan bicara kepadanya.
“Ck, malaikat maut sepertimu tidak akan tahu apapun soal hidupku!” balas Xyan dengan nada ketus dan tatapan sinisnya.
“Aku memang tidak tahu soal hidupmu dan tidak akan mau tahu! Tapi, manusia tadi… dia sudah terlalu banyak berharap kepadamu, bodoh sekali!” ucap pria berpakaian serba hitam itu kepada Xyan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Xyan dengan ekspresi prihatinnya.
Xyan yang mendengar perkataan malaikat maut itu pun langsung memasang ekspresi bingungnya dan bergumam “Berharap?” yang seketika itu juga membuat pria yang merupakan malaikat maut itu kembali berkata “Wanita… memang makhluk yang paling sulit dipahami, aku sangat memahamimu!” sambil menepuk pundak Xyan.
Yang seketika itu juga membuat Xyan kembali merasa kesal dan langsung menepis tangan malaikat maut dari pundaknya dengan kasar “Tutup mulutmu, jika tidak ingin mati lagi!” ucap Xyan dengan tatapan tajamnya, setelah itu langsung bergegas melangkahkan kakinya melewati malaikat maut dihadapannya untuk pergi menghampiri mobil mewahnya.
Sedangkan malaikat maut yang ditinggalkan oleh Xyan langsung membalik tubuhnya dan kembali berkata “Sepertinya kita akan bertemu lagi, ingatlah namaku Karis!” dengan cukup kencang kepada Xyan yang sudah semakin jauh dari pandangannya.
“Tentu saja, kita akan bertemu lagi!” balas Xyan di dalam hatinya sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil mewahnya.
Malaikat maut bernama Karis itu pun terus memperhatikan kepergian Xyan dengan mobil mewahnya dan hingga beberapa detik kemudian, ia kembali menolehkan kepalanya untuk melihat ke atas gedung rumah sakit sambil bergumam “Iblis, ya? entah kenapa… aku merasa seperti ada ikatan khusus yang belum selesai,” dengan perasaan
bingungnya.
__ADS_1
Setelah itu, tiba-tiba Karis mengingat perkataan yang sebelumnya Shanika katakan kepadanya “Apa kamu tidak penasaran dengan kehidupan masa lalumu?” dengan perasaan hampanya, yang seketika itu juga membuat Karis kembali melanjutkan langkah kakinya dan memutuskan untuk mencari tahu siapa dirinya sebelum menjadi seorang malaikat maut.