Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Shanika Menjadi Pahlawan


__ADS_3

***


Keesokan harinya, Shanika yang masih tertidur secara perlahan-lahan mulai membuka matanya dan melihat sinar matahari yang sudah menembus tirai jendela kamarnya, yang saat itu juga membuatnya segera terduduk dari tidurnya sambil mengusap kedua matanya.


Hingga beberapa detik kemudian, Shanika pun tersadar kalau saat ini ia tidak memakai pakaian apapun dan tubuhnya hanya tertutup dengan selimut “Ugh! Pantas saja rasanya dingin sekali!” panik Shanika sambil menarik selimut yang ada dihadapannya hingga menutupi bagian pundaknya.


Dan detik itu juga, ingatan-ingatan panasnya bersama Xyan kembali muncul di dalam kepalanya dan dengan reflek membuatnya menjerit di dalam selimut “Aku pasti sudah tidak waras!” ucap Shanika setelah menjerit dengan seluruh wajahnya yang memerah.


Tanpa berlama-lama lagi, dengan perasaan senangnya Shanika pun bergegas memasuki kamar mandi sambil merasakan seluruh tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat segar dan penuh tenaga “Ugh… senangnya!” ucap Shanika lagi sambil terus senyum-senyum sendiri di dalam kamar mandinya.


Sekitar lima belas menit kemudian, setelah rapi menggunakan pakaiannya Shanika juga segera merapikan kamarnya dan betapa kagetnya Shanika, karena pada saat ia membuka pintu kamarnya dapat dengan jelas ia melihat Xyan yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuknya “Eh?!” kaget Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar.


“Oh, kamu sudah bangun! Ayo, kita sarapan!” sapa Xyan dengan senyuman termanisnya, yang saat itu juga membuat Shanika berdebar-debar lagi dan merasa sangat malu.


“A-aku kira kamu sudah tidak ada di sini,” ucap Shanika dengan suara yang pelan sambil berjalan mendekati meja makan yang sedang Xyan tata dengan rapi.


“Aku ingin sarapan bersamamu! Jadi, aku tidak langsung pulang,” balas Xyan sambil menatap Shanika yang saat ini sudah berdiri di sampingnya dengan ekspresi malu sekaligus canggung.


Sedangkan Shanika yang merasakan tatapan lekat dari Xyan itu pun langsung merasa semakin gerogi dan dengan reflek bertanya “Kenapa menatapku begitu? A-apa ada yang aneh dengan wajahku?” dengan penuh tingkah yang serba salah dihadapan Xyan.


“Sangat cantik!” puji Xyan sambil mengusap kepala Shanika dengan sangat lembut dan penuh perhatian, yang lagi-lagi berhasil membuat Shanika berdebar tidak karuan dan merasa meleleh “Hm, cantik?” gumam Shanika sambil berusaha menahan senyuman senangnya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan pinggangmu? Apa ada yang terasa sakit?” tanya Xyan dengan tiba-tiba sambil terus menatap Shanika dengan penuh perhatian, yang seketika itu juga membuat Shanika menggelengkan kepalanya dan berkata “Semuanya baik-baik saja! Kemarin malam, kamu sangat hebat!” balas Shanika yang sengaja ia katakan untuk


menggoda Xyan.


“Pft! Ya… aku memang ahlinya!” ucap Xyan dengan reflek sambil menahan tawa sekaligus juga perasaan malunya dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika tertawa pelan.


Tidak lama kemudian, Xyan pun segera meminta Shanika untuk duduk dan menyantap sarapannya sebelum dingin bersama dengannya. Hingga beberapa menit setelah Shanika merasa kenyang, dengan reflek Shanika mengambil handphonenya yang ada di dalam tas dan melihat ada banyaknya notifikasi dari dalam forum Mahasiswa di Kampusnya.


“Hm? Ada berita heboh apa?” gumam Shanika sambil mengeklik notifikasi dari Forum Kampusnya yang sedang sangat ramai dibahas saat ini.


Dengan wajah seriusnya, Shanika menemukan beberapa berita mengenai kematian salah satu mahasiswa yang bukan lain adalah Nadine di dalam forum kampusnya, selain itu Shanika juga menemukan berita mengenai penangkapan pelatih basket yang ternyata sudah terkenal pria mata keranjang di Kampusnya.


Tapi, di antara berita-berita menggemparkan itu. Shanika lebih dikejutkan dengan salah satu berita yang entah bagaimana bisa menyeret namanya “A-apa ini?!” kaget Shanika sambil mengangkat handphone yang ia genggam menggunakan kedua tangannya dihadapan Xyan yang masih menyantap sarapannya.


“Pelaku pembunuhan terencana ini dapat tertangkap, karena salah satu Mahasiswa wanita bernama Shanika melaporkannya dengan sangat berani?!” baca Shanika dengan nada bicaranya yang semakin meninggi disetiap katanya.


“Bagaimana mereka bisa tahu kalau aku yang melapor?! Dan seharusnya mereka tidak menuliskan namaku di forum seperti ini!” sambung Shanika dengan sangat panik, sambil terus mengescroll layar handphonenya untuk melihat reaksi Mahasiswa yang lainnya “Ugh… bagaimana ini?” gerutu Shanika dengan perasaan khwatirnya.


Sedangkan Xyan yang melihat tingkah panik Shanika, detik itu juga berusaha memutar otaknya dan dengan reflek berkata “Bagaimana dengan responnya?” tanya Xyan dengan tatapan lekatnya kepada Shanika.


“Hm… untungnya si semua orang menganggapku sebagai pahlawan! Tapi, tetap saja! Kalau begini… bagaimana bisa aku pergi ke Kampus dengan tenang?!” jawab Shanika dengan merengek seperti anak kecil dihadapan Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa Shanika sangat lucu dan mulai tertawa pelan.

__ADS_1


Dengan cepat, Shanika pun segera mematikan layar handphonenya dan meletakkan handphone di atas meja makan dengan ekspresi murungnya, setelah itu ia kembali berkata kepada Xyan “Apa kamu bisa membuat semua orang di Kampus melupakan namaku? Hm?! Kamu bisa, kan?” pinta Shanika kepada Xyan dengan sangat memelas.


“Tentu saja bisa. Tapi, percuma saja kalau di forum itu masih tetap ada namamu! Iya, kan?” balas Xyan dengan senyuman menggodanya yang dengan sengaja ia tunjukkan kepada Shanika.


Shanika yang melihat ekspresi Xyan itu pun langsung menyipitkan matanya dan dengan reflek berkata “Bilang saja tidak bisa!” dengan nada bicaranya yang penuh kekesalan.


“Jejak di dunia maya itu adalah hal yang paling sulit untuk dihapus! Aku yakin kamu juga tahu soal itu,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang serius dan tegas kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika menghela nafas lelahnya yang panjang.


Beberapa detik kemudian, Xyan yang tidak mau terus melihat ekspresi murung Shanika dengan reflek langsung menggenggam tangan kanan Shanika dengan tangan kirinya di atas meja makan sambil berkata “Tenang saja, kalau ada yang sampai membuatmu tidak nyaman! Aku sendiri yang akan menghadapinya untukmu,” dengan nada bicaranya yang penuh semangat.


“Jangan bilang kamu akan melakukan sesuatu yang berbahaya!” balas Shanika dengan wajah paniknya lagi.


“Hm, kalau memang itu maumu!” ucap Xyan lagi dengan senyuman lebarnya, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sedikit takut “Ti-tidak perlu! Biar aku urus sendiri saja,” balas Shanika sambil bergegas bangkit dari duduknya dan melepas genggaman tangan Xyan dari tangan kanannya.


“Haha! Aku aku seseram itu di matamu?” tanya Xyan dengan reflek sambil tertawa, setelah itu langsung bergegas untuk bangkit dari duduknya juga dan berjalan menghampiri Shanika yang sedang memeriksa isi tasnya untuk dibawa kuliah.


Shanika yang mendengar pertanyaan Xyan, detik itu juga dengan reflek menghela nafasnya lagi dan berkata “Berhenti bicara yang tidak-tidak! Atau tidak, kamu akan membuatku takut!” dengan nada bicaranya yang penuh ancaman.


“Ey… dari caramu bicara, sepertinya kamu tidak punya niat untuk takut kepadaku tuh!” goda Xyan sambil memeluk pinggang Shanika dari belakang, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa merinding dan tidak bisa bergerak karena sentuhan lembut bibir Xyan pada telinga hingga pundaknya.


“Xyan, hentikan! Aku harus berangkat kuliah sekarang,” pinta Shanika sambil berusaha melepaskan kedua tangan Xyan yang melingkar di pinggangnya “Hm… sebentar saja,” balas Xyan sambil terus memberikan kecupan ringan di leher Shanika, yang membuat Shanika merasa kegelian dan hanya bisa pasrah sambil tertawa pelan.

__ADS_1


Dan tiba-tiba suasana romantis di antara Shanika dan Xyan pun buyar, karena tiba-tiba mereka berdua mendengar suara bel pintu Apartement “Ting-Nung!” dan membuat mereka berdua tersentak sekaligus panik “Siapa yang datang?” tanya Xyan.


“Apa… ayahku?!” balas Shanika dengan wajah paniknya kepada Xyan.


__ADS_2