Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Ujian dari Iblis Jahat!


__ADS_3

Tepat pada saat Xyan sudah keluar dari dalam ruangan di ujung lorong itu, saat itu juga Xyan mendengar suara pecahan barang yang disusul juga dengan suara teriakan frustasi Zoya yang sangat kencang dari balik tembok “Ah, emosinya itu masih saja tidak bisa terkontrol!” gumam Xyan dengan wajah datarnya sambil berjalan mendekati salah satu pelayan pria yang juga terkejut setelah mendengar suara teriakan Zoya dari luar ruangan.


Xyan pun mengambil dompet dari kantung pakaiannya dan segera memberikan sejumlah uang yang sangat besar kepada pelayan pria yang ada dihadapannya itu sambil berkata “Ini uang ganti ruginya, tolong berikan kepada atasanmu,” dengan nada bicaranya yang santai.


“Ya?! Ah, baik!” balas pelayan pria dihadapan Xyan sambil menerima uang yang Xyan berikan.


“Kamu pasti anak baru, jangan terlalu terkejut… karena wanita di dalam ruangan itu, akan selalu seperti itu,” sambung Xyan sambil menunjukkan senyuman tipisnya dan menepuk sekilas pundak pelayan pria dihadapannya itu sebelum melanjutkan langkah kakinya untuk pergi.


Sedangkan pelayan pria yang mendengar perkataan Xyan, saat itu juga langsung terdiam dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar, saat ia kembali mendengar suara barang yang terbanting tanpa henti dari dalam ruangan yang Zoya tempati saat ini.


***


Keesokan harinya, Shanika yang menginap di rumah sakit karena harus terus menemani Ibunya akhirnya membuka matanya dan mengangkat kedua tangannya untuk meredakan rasa kaku di tubuhnya “Ugh, tidak aku sangka. Aku bisa tidur nyenyak di rumah sakit penuh hantu ini,” gumam Shanika dengan perasaan lelahnya.


“Oh, kamu sudah bangun!” sapa Ibunya Shanika yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi rumah sakit “Pagi, Bu!” balas Shanika dengan senyuman lebarnya.


“Pagi apanya? Sekarang sudah siang tahu!” ucap Ibunya Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika segera melihat jam dari layar handphonenya “Astaga! Untung saja tugas kuliahku sudah selesai semua!” ucap Shanika dengan perasaan leganya, yang berhasil membuat Ibunya tertawa pelan.


Tanpa berlama-lama lagi, Shanika segera bergegas merapikan dirinya untuk pergi ke kampusnya “Aku pergi ke Kampus dulu ya, Bu!” pamit Shanika, setelah menunggu kedatangan Neneknya di rumah sakit.

__ADS_1


Tapi, seperti biasanya entah kenapa keinginan Shanika selalu tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya, karena tepat Shanika melangkah keluar dari dalam kamar rawat Ibunya tiba-tiba lorong rumah sakit menjadi sangat gelap dan sunyi “Hm? Rumah sakit tidak mungkin mengalami mati lampu, kan?” ucap Shanika sambil berusaha untuk tetap tenang.


Detik itu juga, Shanika berusaha memanggil Ibu atau Neneknya bahkan memanggil para perawat yang seharusnya berada di sekitar lorong rumah sakit itu. Tapi, udara yang sangat dingin dan membuatnya merinding berhasil menyadarkan Shanika kalau saat ini dirinya sedang memasuki dunia lain “Sial!” ucap Shanika dengan reflek.


“Xyan… Xyan! Aku mohon datanglah! Ugh, kalau begini… aku benar-benar tidak akan lulus kuliah!” ucap Shanika lagi sambil mengusap kedua tangannya yang terasa semakin dingin.


Tidak lama kemudian, Shanika pun kembali dikagetkan dengan kemunculan cahaya yang sangat terang menyinari jalannya yang gelap “Akh! Bikin kaget saja!” ucap Shanika sambil mengusap dadanya.


“Ha-haruskah aku mengikuti cahaya ini?” gumam Shanika dengan perasaan ragu sekaligus bingungnya.


Tapi, tepat sebelum Shanika menginjak jalan yang bercahaya itu, tiba-tiba ia mendengar suara pria yang berteriak “Sedang apa kamu di sini?!” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan dengan reflek menolehkan kepalanya.


“Oh! Pria yang kemarin!” ucap Shanika saat dengan jelas ia melihat wajah pria berpakaian serba hitam yang sempat ia temui kemarin di taman rumah sakit, sambil menunjuk wajah pria dihadapannya itu.


“Apa katamu?!” bentak Shanika dengan tatapan tajamnya dan perasaan tidak terimanya.


Saat Shanika sedang menahan amarahnya, saat itu juga pria berpakaian serba hitam dihadapan Shanika berbalik badan dan mempersilahkan beberapa arwah manusia yang harus berjalan menelusuri jalan bercahaya “Hm? Mereka mau kemana?” tanya Shanika dengan wajah polosnya.


“Jalan cahaya ini akan mangantarkan mereka ke alam berikutnya setelah kematian,” jawab pria berpakaian serba hitam itu dengan nada bicaranya yang terdengar sangat malas kepada Shanika.

__ADS_1


“Oh… begitu,” gumam Shanika sambil menganggukkan kepalanya.


“Hah, seharusnya manusia yang masih hidup tidak boleh melihat hal ini! Aku pasti akan kena sanksi,” keluh pria berpakaian serba hitam itu lagi, sambil menjentikkan jarinya yang seketika itu juga membuat Shanika kembali berada di dunia manusia atau lorong rumah sakit yang seharusnya.


“Ugh, kamu membuatku mual!” ucap Shanika yang tiba-tiba merasa sangat mual, sambil memegangi perutnya sendiri dengan satu tangannya yang menopang tubuhnya pada tembok rumah sakit.


Pria berpakaian serba hitam yang melihat reaksi mual dari Shanika itu pun langsung menggelengkan kepalanya dan kembali berkata “Aku harap, kita tidak bertemu dan berurusan lagi!” dengan nada bicaranya yang penuh penekanan di setiap katanya.


Setelah itu, tanpa banyak bicara lagi kepada Shanika, pria berpakaian serba hitam itu segera melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan Shanika. Tapi, entah kenapa tiba-tiba firasat buruknya muncul setelah ia berjalan meninggalkan Shanika, yang seketika itu juga membuatnya segera berlari ke lobi rumah sakit dan melihat ke sekeliling langit-langit rumah sakit.


“Iblis… aku merasakan aura Iblis yang sudah tidak asing lagi!” batin pria berpakaian serba hitam itu dengan perasaan tidak nyamannya.


Dan di sisi lain, Zoya yang sejak tadi memperhatikan pria berpakaian serba hitam itu dari kejauhan langsung bergumam “Ternyata benar… dia menjadi malaikat maut,” dengan ekspresi datar dan perasaan yang sedikit sedih.


“Sial sekali, seharusnya aku tidak kembali ke dunia manusia ini dan melihatmu lagi!” batin Zoya sambil mengeluarkan satu bulu burung gagak miliknya dari dalam kantung pakaiannya.


Beberapa detik kemudian, Zoya pun juga melihat kehadiran Shanika dari kejauhan yang sedang bergegas keluar dari dalam gedung rumah sakit, yang seketika itu juga membuat Zoya berkata “Kebetulan sekali,” ucap Zoya dengan senyuman sinisnya.


“Kali ini, haruskah aku menguji kalian berdua secara bersamaan?” sambung Zoya sambil melemparkan bulu burung gagak yang ada ditangannya itu dan memastikan kalau bulu burung gagaknya itu akan jatuh tepat dihadapan Shanika.

__ADS_1


Yang seketika itu juga membuat langkah kaki Shanika terhenti dan dengan sangat jelas, Shanika melihat bulu burung berwarna hitam pekat jatuh dihadapannya “Hm?” dan karena bulu burung hitam itu sangat indah di mata Shanika, seperti tersihir Shanika segera menggapai bulu burung gagak milik Zoya itu dengan tangan kanannya.


“Jangan di sentuh!” bentak pria berpakaian serba hitam sambil berlari ke arah Shanika dengan sangat cepat.


__ADS_2