Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Membutuhkan Pengalaman


__ADS_3

***


Keesokan harinya, Shanika yang masih terbaring di atas tempat tidur secara perlahan-lahan mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya, yang seketika itu juga membuatnya merasa pusing sekaligus juga merasa sakit pada seluruh tubuhnya “Ugh… ada apa denganku?” keluh Shanika sambil memegangi kepalanya dan berusaha untuk terduduk dari posisi tidurnya.


Setelah memegangi kepalanya, dengan reflek Shanika juga memegangi pinggangnya sambil berpikir “Rasanya sakit sekali, seperti habis melakukan olahraga berat!” yang seketika itu juga membuat dirinya sendiri teringat dengan kejadian semalam.


Secara jelas Shanika mengingat saat dirinya masih berada di cafe mewah, hingga ingatan samar pada saat ia dibawa masuk ke dalam mobil oleh pria asing mulai menghantui kepalanya “Hah, benar! Kemarin aku diculik!” panik Shanika dengan wajah ketakutannya.


Setelah itu, Shanika segera menolehkan kepalanya ke segala arah dan berusaha memastikan dimana dirinya saat ini “Tapi, ini kan kamar Apartementnya Xyan,” gumam Shanika dengan perasaan bingungnya, yang tidak lama kemudian membuat dirinya merasa lega karena mengingat kalau Xyan lah yang sudah menolongnya dari penculik.


Tapi, perasaan lega Shanika juga menghilang dalam sekejap saat tiba-tiba ia mengingat ucapannya sendiri, hingga sentuhan-sentuhan intens yang dilakukan oleh Xyan kepadanya atas keinginannya sendiri “Uwak?!” kaget Shanika yang dengan reflek langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


“Tidak… mungkin! Apa yang sudah aku lakukan?!” panik Shanika dengan ekspresi tidak percayanya, sambil berusaha memastikan kondisi tubuh hingga tempat tidurnya saat ini “Ugh! Pinggangku!” rintih Shanika kesakitan lagi saat ia menggerakkan tubuhnya secara tiba-tiba.


“Ekh… aku pasti sudah tidak waras!” gerutu Shanika dengan perasaan kacaunya, setiap ingatan-ingatan panas dirinya bersama Xyan teringat di dalam kepalanya.


Sekitar lima menit kemudian, Shanika pun mulai memberanikan dirinya untuk mengintip terlebih dulu dari balik pintu kamar Apartement untuk memastikan kalau Xyan tidak ada di depan kamar dan setelah merasa aman, Shanika segera membuka melangkahkan kakinya untuk keluar.


Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil mendekati pintu keluar dari Apartement Xyan, tiba-tiba Shanika mendengar suara Xyan yang memanggil namanya dari belakang “Shanika?” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan secara perlahan-lahan mulai menolehkan kepalanya ke arah Xyan.


“Se-selamat pagi!” ucap Shanika dengan senyuman canggungnya sambil mengangkat tangan kanannya.

__ADS_1


“Kemarilah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,” balas Xyan dengan nada bicara dan ekspresi santainya, seakan-akan tidak ada yang terjadi di antara mereka sambil melangkah pergi menuju meja makannya.


Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun mau tidak mau mengikuti semua perkataan Xyan dan segera duduk di bangku meja makan, sambil berusaha menutupi perasaan gugupnya dihadapan Xyan.


“Aku harap makanan ini sesuai seleramu,” ucap Xyan sambil meletakkan semangkuk sup panas tepat dihadapan Shanika dengan penuh perhatian.


Sedangkan Shanika yang melihat pergerakkan tangan Xyan dihadapannya, detik itu juga langsung gagal fokus dengan pandangannya “Uwah… aku benci dengan pikiranku!” batin Shanika karena setiap ia melihat tangan Xyan yang indah sekaligus juga gagah, ia merasa sangat menyukainya dan terbayang dengan kejadian tadi malam.


“Aku pikir, karena itu adalah pengalaman pertamaku… aku akan merasa takut setelah kejadian kemarin malam! Tapi, kenapa sekarang aku justru merasa tergila-gila dengan sentuhan tangannya?!” batin Shanika lagi dengan wajah kesalnya.


“Sial!” ucap Shanika dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Xyan yang sedang menyiapkan makanan untuknya kebingungan.


Tidak lama kemudian, Xyan pun mempersilahkan Shanika untuk makan dan ia segera duduk tepat dihadapan Shanika, sambil terus memperhatikan Shanika yang sedang mencicipi makanannya secara perlahan-lahan karena panas.


“Ya, supnya sudah tidak panas, kan?” tanya Xyan lagi dengan tatapan bingungnya kepada reaksi yang ditunjukkan oleh Shanika kepadanya.


“Oh… supnya! Hangat… dan sangat menyegarkan sekali,” jawab Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar aneh, sambil terus berusaha menghindari tatapan matanya dengan tatapan mata Xyan.


Xyan yang memperhatikan tingkah canggung Shanika itu pun akhirnya paham apa yang sudah terjadi, yang seketika itu juga membuat dirinya segera melipat kedua tangannya di depan dada sambil berkata “Ah, benar juga… itu pasti pengalaman pertamamu,” dengan wajah datarnya.


“Uhuk-uhuk! Ukh… a-apa katamu?!” kaget Shanika yang tersedak dengan tatapan tajamnya kepada Xyan yang masih duduk dihadapannya itu.

__ADS_1


“Jangan salahkan aku, kemarin malam… kamu sendiri yang memohon bantuanku dan aku hanya melakukannya dengan tanganku saja,” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar seperti sudah sangat berpengalaman.


Sedangkan Shanika yang melihat tingkah Xyan yang terlihat seakan menyepelekannya, saat itu juga berkata “Uwah! Menyebalkan sekali!” keluh Shanika sambil memasang ekspresi kesalnya dan meletakkan peralatan makannya dengan kasar “Trak!” di atas meja makan.


“Ya, aku yang memintanya! Aku juga lah yang salah, karena sudah membiarkan pria sepertimu menyentuhku! Ugh… rasanya kotor sekali!” ucap Shanika panjang lebar sambil menepuk-nepuk lengan tubuhnya sendiri dengan sangat kasar.


“A-apaan dengan reaksimu itu? Seharusnya kamu berterima kasih, karena aku sudah menolongmu. Lagipula… kemarin malam kamu terlihat sangat menyukainya!” balas Xyan sambil berusaha menahan senyumannya dihadapan Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya dan segera bangkit dari duduknya walaupun seluruh tubuhnya terasa sangat kaku “Hm? Mau kemana?” tanya Xyan dengan tatapan bingungnya.


“Aku mau siap-siap untuk pergi kuliah!” jawab Shanika sambil melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan meja makan “Makanlah dulu,” pinta Xyan dengan reflek.


Sebelum melanjutkan langkah kakinya, Shanika pun kembali menolehkan kepalanya ke arah Xyan sambil berkata “Ugh, astaga! Mulai hari ini kita harus menjaga batasan kita! Dan saat ini aku sedang tidak ingin melihat wajahmu, ingat itu!” bentak Shanika dengan nada bicaranya yang tegas dan penuh penekanan kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak dan kehabisan kata-katanya.


“Ba-batasan?” gumam Xyan dengan wajah bingungnya, setelah ia melihat kepergian Shanika dari dalam Apartementnya “Kenapa aku jadi seperti penjahat?” gumam Xyan lagi sambil menggaruk kepalanya sendiri.


Sedangkan Shanika yang baru saja keluar dari dalam Apartement Xyan, dengan cepat segera berlari menuju pintu lift sambil memegangi pinggangnya dan saat Shanika sudah berada di dalam lift, saat itu juga ia memukul kepalanya sendiri dan menghela nafas panjangnya dengan sangat kasar.


Setelah itu, Shanika pun bicara kepada dirinya sendiri “Hanya aku yang merasa kacau… sedangkan dia terlihat biasa saja! Menyebalkan sekali,” dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat frustasi.


“Dan bodohnya… hanya dengan tangannya saja, dia berhasil membuatku tergila-gila! Ugh, memalukan sekali!” sambung Shanika sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Hah… inilah alasannya kenapa memiliki pengalaman sangat penting!” gerutu Shanika dengan wajah cemberutnya, sambil melangkahkan kakinya dengan lemas untuk keluar dari dalam lift, saat pintu lift dihadapannya sudah terbuka.


__ADS_2