
***
Di sisi lain, walaupun sudah sangat malam Shanika yang merasa khawatir memutuskan untuk menunggu Xyan di lorong Apartement dan tepat di depan pintu Apartement milik Xyan seorang diri sambil terus waspada dengan lingkungan sekitarnya yang saat ini sangat sepi dan sunyi.
Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, Shanika mendengar suara pintu lift terbuka dan melihat kemunculan Xyan dari dalam lift yang berjalan keluar “Shanika?” gumam Xyan saat ia melihat Shanika yang berdiri di depan pintu Apartementnya.
“Akhirnya kamu pulang juga! Aku khawatir padamu,” ucap Shanika dengan reflek sambil berjalan mendekati Xyan.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun dengan reflek juga langsung tersenyum dan berkata “Untuk apa juga kamu mengkhawatirkan aku?” tapi tiba-tiba senyuman Xyan berubah menjadi datar, karena Xyan sadar kalau Shanika lah yang bisa berada dalam bahaya karena menunggunya seorang diri di tengah lorong.
“Tunggu, seharusnya aku yang khawatir kepadamu! Kenapa kamu malah menungguku di sini? Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pulang ke apartementmu sendiri?” sambung Xyan dengan panjang lebar dan tatapan tajamnya kepada Shanika yang saat ini masih berdiam diri dihadapannya.
Shanika yang memahami apa maksud dari perkataan Xyan itu pun langsung menundukkankepalanya dan bergumam “Ini… karena aku sangat khawatir kepadamu,” dengan suara yang sangat pelan.
“Tapi, memangnya kamu pergi kemana? Dan menemui siapa?! Kenapa kamu pergi lama sekali?” balas Shanika yang juga mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak dan merapatkan bibirnya.
Selama beberapa detik, karena Xyan tidak menjawab pertanyaan Shanika sedikit pun, Shanika pun kembali bertanya “Kenapa diam saja? kamu tidak mau memberitahuku?” dengan tatapan matanya yang semakin tajam kepada Xyan.
“Hm, menurutku… kamu tidak perlu tahu,” jawab Xyan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika, setelah itu langsung bergegas melangkahkan kakinya untuk melewati Shanika dan pergi menuju depan pintu Apartementnya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Xyan pun menekankan kode sandi pada pintu Apartementnya sambil berkata “Karena sudah melihatku, sekarang kamu pulang lah… ini sudah sangat malam,” tanpa menolehkan kepalanya lagi ke arah Shanika dan membuka pintu Apartementnya.
Tapi, bukannya menuruti perkataan Xyan, detik itu juga Shanika berjalan mendekati Xyan lagi dan menahan pintu Apartement yang Xyan buka dengan tangan kanannya, seakan sedang menghadang jalan Xyan sambil berkata “Kamu yakin mau merahasiakan hal itu dariku?” dengan ekspresi kesalnya.
Xyan yang sama sekali tidak ingin kalau Shanika sampai mengetahui pertemuannya dengan malaikat maut bernama Karis, saat itu juga berusaha menggoda Shanika denga teknik merayunya “Kamu yakin akan tetap seperti ini?” dengan suara yang sangat berat dan penuh karisma.
“Bagaimana kalau aku sampai melakukan sesuatu yang lebih… dari apa yang kemarin kamu lakukan kepadaku?” sambung Xyan sambil memasang senyuman tipisnya dan mulai menghimpit tubuh Shanika ke pintu apartementnya
Shanika yang melihat ekspresi dan mendengar perkataan Xyan itu pun dengan reflek menelan ludahnya dengan sangat kasar, setelah itu berusaha memberanikan dirinya untuk berkata “Me-memangnya apa yang sudah aku lakukan kepadamu?!” dengan perasaan gugupnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Xyan mendekatkan wajahnya pada wajah Shanika sampai ia dapat dengan jelas merasakan hembusan nafas Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika bergegas untuk menghidar dari hadapan Xyan dan berkata “A-aku pulang sekarang!” dengan nada bicaranya yang meninggi dan terkesan panik.
Sedangkan Xyan yang melihat tingkah Shanika yang sangat kikuk dihadapannya itu pun kembali yakin kalau Shanika masih seorang anak kecil yang tidak boleh sembarangan ia perlakukan “Menjaganya adalah prioritas nomor satuku,” gumam Xyan sambil menekan kembali nomor sandi di pintu apartementnya.
“Hebat sekali Xyan… kamu bisa menahan nafsumu!” gumam Xyan lagi sambil mengusap dadanya sendiri dan berjalan masuk ke dalam apartementnya dengan perasaan leganya.
***
Di lain sisi, Shanika yang merasa kalau seluruh tubuhnya memanas langsung memasuki apartementnya dan meneguk satu botol air dingin dari dalam kulkasnya, dengan sangat cepat “Hah! Segar sekali,” ucap Shanika sambil berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar-debar karena Xyan.
__ADS_1
“Wah… berbahaya sekali,” ucap Shanika lagi saat ia kembali teringat betapa dekat tubuhnya dengan tubuh Xyan.
“Tapi, tunggu! Kalau aku menghindarinya seperti ini… dia pasti menganggapku sangat cupu, kan?!” panik Shanika setelah beberapa detik merenungkan tingkah anehnya dihadapan Xyan, sambil berjalan ke dalam kamar tidurnya “Akh! Bodoh sekali!" sambung Shanika sambil melompat ke atas tempat tidurnya dengan perasaan frustasi.
Sekitar lima menit kemudian, saat Shanika sedang fokus pada dirinya sendiri tiba-tiba ia mendengar suara handphonenya berdering dan saat ia memeriksanya, dapat dengan jelas Shanika melihat nama temannya yaitu Nadine.
Walaupun sempat ragu untuk mengangkatnya, pada akhirnya Shanika mengangkat telepon dari Nadine dengan mengatakan “Halo?” dengan suara yang sangat tenang.
“Shanika,” panggil Nadine dengan suara yang sedikit bergetar, seakan sedang merasa sangat ketakutan yang seketika itu juga membuat Shanika khawatir “Halo, Nadine?! Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang mengencang.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Shanika dengan benar, detik itu juga Shanika mendengar suara tangisan Nadine yang disusul dengan perkataan “Maaf, seharusnya sejak awal kita tidak menjadi teman… dengan begitu, aku tidak akan sampai seperti ini,” yang seketika itu juga membuat Shanika terbangun dari duduknya dan memasang ekspresi bingungnya.
Di tengah-tengah suara tangisan dan suara perkataan Nadine, secara jelas Shanika juga mendengar suara kendaraan yang sangat ramai di sekitar Nadine, yang saat itu juga membuat Shanika merasakan firasat buruk “Tu-tunggu, Nadine! Saat ini kamu ada dimana?!” tanya Shanika sambil bergegas mengambil jaket dan dompetnya.
“Kamu masih di rumah sakit atau sudah pulang di rumahmu?” sambung Shanika sambil melangkah keluar dari dalam kamar tidurnya.
Tapi, lagi-lagi. Bukannya menjawab pertanyaan Shanika, Nadine justru kembali berkata “Aku memang bukan teman yang baik! Aku harap… kita tidak bertemu lagi,” sambil terus menangis sesegukkan.
“Tunggu, Nadine?” panggil Shanika saat ia terus mendengar temannya itu menangis tanpa henti, hingga beberapa detik kemudian ia mendengar suara klakson mobil yang disusul juga dengan suara tabrakkan “Ugh, astaga!” kaget Shanika sebelum telepon yang menghubunginya terputus.
__ADS_1
“Tut-tut-tut!” saat Shanika mendengar suara telepon yang terputus, saat itu juga Shanika terdiam kaku di depan pintu masuk Apartementnya dan firasat buruknya kepada Nadine semakin menguasai dirinya.