Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Sakit Tak Terkendali


__ADS_3

Detik itu juga, dengan reflek Shanika pun segera mendorong tubuh Xyan dan meminta Xyan untuk segera bertindak layaknya tamu atau tidak ia akan mendapatkan masalah dari Ayahnya yang kalau sudah marah lebih seram dari makhluk mana pun.


Hingga beberapa detik kemudian, Shanika dan Xyan kembali mendengar suara bel Apartement “Ting-Nung!” dan dengan cepat Shanika berlari untuk membukakan pintu Apartementnya dengan senyuman lebarnya.


Tapi, senyuman lebar Shanika langsung berubah menjadi wajah datarnya karena ternyata orang yang barusan menekan bel rumahnya bukan lah Ayahnya “Eh?” gumam Shanika dengan perasaan bingungnya.


“Pagi Nona!” sapa pria dihadapan Shanika, yang bukan lain adalah Gavin “Tuan ada di sini, kan?” sambung Gavin dengan wajah polos dan senyuman cerianya.


Xyan yang mendengar suara anak buahnya itu pun langsung bergegas menyusul Shanika dan menghela nafasnya dengan kasar, setelah itu berkata “Aku kira siapa! Kamu membuat orang panik saja sih… kenapa tidak tunggu di dalam Apartementku saja?!” ucap Xyan dengan nada bicaranya yang agak meninggi dan raut wajah yang terlihat kesal.


“Oh… panik kenapa? memangnya apa yang sedang Nona dan Tuan lakukan di sini?” balas Gavin dengan tatapan matanya yang nakal kepada Shanika dan juga Xyan.


“Haha! Kami hanya sedang sarapan bersama!” ucap Shanika dengan tawa canggungnya setelah mendengar godaan yang Gavin lontarkan kepadanya.


“Ck, mengganggu sekali!” keluh Xyan yang dengan sekuat tenaga berusaha menahan amarahnya kepada Gavin di depan Shanika.


Tanpa banyak bicara lagi, Shanika pun segera mempersilahkan Gavin untuk masuk ke dalam Apartementnya terlebih dulu sebelum ia memutuskan untuk berangkat Kuliah, yang seketika itu juga membuat Gavin merasa sangat senang dengan sambutan hangat yang diberikan oleh Shanika kepadanya.


***


Sekitar dua puluh menit kemudian, Shanika akhirnya sampai di Kampusnya setelah turun dari dalam mobil mewahnya Xyan “Terima kasih sudah mengantarku, hati-hati di jalan!” ucap Shanika kepada Xyan dan juga Gavin yang menyetirkan mobilnya.


“Ya, semangat belajarnya!” balas Xyan sambil melambaikan tangannya sekilas dan tanpa berlama-lama lagi, Gavin segera mengendarai mobilnya lagi untuk pergi bekerja.

__ADS_1


Sedangkan Shanika yang melihat kepergian Xyan dan Gavin dengan mobil mewahnya itu, langsung membalik tubuhnya dan melangkahkan kakinya dengan perasaan senangnya “Ah… apa aku boleh sebahagia ini?” gumam Shanika dengan senyum-senyum malunya di sepanjang jalan sebelum memasuki gedung Kampusnya.


Awalnya semua berjalan lancar. Tapi, sesuai dengan dugaan Shanika sebelumnya, hari ini ada cukup banyak orang yang membicarakannya dengan berbisik-bisik, karena tahu kalau dirinya lah yang sudah melaporkan pelatih basket kepada polisi soal pembunuhan terencana Nadine.


Hingga beberapa menit kemudian, tepat sebelum Shanika masuk ke dalam kelas ada beberapa senior yang menyapa dan menganggap Shanika sebagai pahlawan “Sejak awal dia menjadi pelatih bakset, aku memang tidak menyukai gayanya!” ucap salah satu senior pria.


“Kamu hebat dan berani sekali, Shanika!” puji salah satu senior wanita sambil mengacungkan dua jari jempolnya dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika mengangguk dan berkata “Ya, terima kasih Senior,” dengan senyuman canggungnya.


Jujur saja Shanika tidak bisa membedakan mana yang benar-benar pujian atau celaan, karena itu ia hanya bisa mengatakan terima kasih sambil tersenyum kepada semua orang yang bicara kepadanya.


Hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba ia merasa merinding dan saat menolehkan kepalanya ke arah lorong di dalam Kampusnya, dapat dengan jelas Shanika melihat Malaikat Maut bernama Karis yang sedang menatapnya dan melambaikan tangan kanannya kepadanya.


“Hm? Sedang apa dia di sini?” batin Shanika dengan perasaan bingung sekaligus takutnya.


Shanika yang tidak ingin di anggap tidak waras oleh orang-orang, detik itu juga berusaha mencari ruang yang kosong untuk bicara berduaan saja dengan Malaikat Maut bernama Karis itu “Kita bicara di sini saja,” ucap Shanika sambil menutup dan mengunci ruangan belajar yang kosong itu.


“Tapi, ada urusan apa kamu denganku?” sambung Shanika sambil membalik tubuhnya dan menatap Malaikat Maut dengan sangat lekat.


“Aku butuh bantuanmu,” jawab Karis dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat serius dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika memiringkan kepalanya dan merasa semakin bingung.


“Bantuan? Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk malaikat sepertimu?” balas Shanika dengan wajah polosnya.


Karis yang juga sudah putus asa, detik itu juga hanya bisa menghela nafas lelahnya dan berkata “Semua ini karena ulah Iblis setengah manusia itu!” dengan ekspresi murungnya “Hm? Iblis setengah manusia… maksudmu Xyan?” kaget Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar.

__ADS_1


“Apa yang sudah ia lakukan kepadamu?” sambung Shanika dengan tatapan khawatirnya.


“Dia memasukkan mantra ke dalam kepalaku dan membuatku kembali mengingat… sebahagia memori semasa hidupku dulu,” jawab Karis dengan ekspresi yang masih sangat murung.


Shanika yang mendengar perkataan Karis itu pun langsung mengerutkan dahinya dan kembali mengajukan pertanyaan “A-apa rasanya seburuk itu?” dengan perasaan ragunya.


“Lebih baik tidak ingat apapun, daripada harus mengingat sebagian saja! Rasanya… bukan hanya buruk. Rasanya seperti lebih baik mati… Tapi, aku sudah tidak bisa mati lagi,” jawab Karis yang berusaha menjelaskan perasaan frustasinya kepada Shanika.


Karena Shanika bingung apa yang harus ia lakukan, detik itu juga Shanika menggaruk kepalanya dan kembali berkata “Ah! Kenapa Xyan melakukan hal seperti ini kepadamu?! Aku benar-benar tidak mengerti,” dengan ekspresi bingung dan frustasinya juga.


“Aku pikir… kamu bisa membantuku, karena kamu adalah pemilik dari mata pengantin Iblis. Jadi, cobalah lakukan sesuatu untuk mengembalikan seluruh ingatan semasa hidupku!” pinta Karis dengan sangat bersungguh-sungguh.


“Ada satu hal yang harus aku pastikan,” sambung Karis dengan nada bicaranya yang semakin memelan.


Tapi, bukannya tidak mau menolong, Shanika sama sekali tidak tahu apa yang bisa ia lakukan hanya dengan matanya itu “Mataku ini hanya berfungsi untuk melihat, bisa dibilang… hanya namanya saja yang menyeramkan!” sambung Shanika lagi sambil menolehkan kepalanya dan menatap Karis dengan lekat lagi.


“Jadi, aku tidak bisa… Ukh!” tiba-tiba perkataan Shanika terputus dan di bagian dadanya terasa sangat sakit, pada saat matanya bertatapan langsung dengan mata Karis “Ukh!!!” lenguh Shanika lagi sambil berusaha menahan rasa sakit di dadanya dan secara perlahan mulai jatuh terduduk di lantai.


Karis yang melihat Shanika kesakitan itu pun langsung panik dan dengan reflek mendekati Shanika sambil bertanya “A-ada apa denganmu?! Jangan bercanda!” dengan nada bicaranya yang meninggi dan mengeras kepada Shanika yang saat ini masih memegangi dadanya dengan kedua tangannya.


“Ukh! Apa yang terjadi… padaku?!” ucap Shanika dengan nafasnya yang terasa semakin berat dan sesak, sambil bertatapan langsung lagi dengan mata Karis yang terlihat sangat khawatir kepadanya.


Sedangkan Karis yang melihat kedua bola mata Shanika, detik itu juga langsung mengerutkan dahinya dan berkata “Shanika… warna matamu, menjadi merah!” dengan ekspresi panik sekaligus bingungnya kepada Shanika yang masih kesakitan seakan-akan sedang terhipnotis oleh sesuatu hal.

__ADS_1


__ADS_2