
Tidak lama kemudian, Shanika pun menganggukkan kepalanya dan malaikat maut yang ada dihadapannya itu dengan reflek kembali berkata “Ah, Iblis itu sudah sangat keterlaluan! Seharusnya dia tidak menyeret sampai banyak orang mengalami kecelakaan begini,” keluh malaikat maut dihadapan Shanika dengan ekspresi kesalnya.
Sedangkan Shanika yang mendengarkan perkataan malaikat maut itu hanya bisa terdiam dan merasa bersalah, hingga beberapa detik kemudian Shanika kembali membuka mulutnya untuk bertanya “Apa kamu tahu caranya menghentikan Iblis jahat seperti dia?” dengan nada bicaranya yang memelan.
“Kalau soal itu, aku juga tidak tahu,” jawab malaikat maut dihadapan Shanika dengan tatapan prihatinnya kepada Shanika yang selama ini terus diincar keselamatannya oleh Iblis jahat seperti Zoya.
“Memangnya, kalau kamu tahu cara menghentikan Iblis jahat itu… kamu akan mau melakukannya?” balas malaikat maut dihadapan Shanika yang juga mengajukan pertanyaan, sambil terus menatap Shanika dengan tatapan lekatnya.
“Akan aku pikirkan lagi, saat aku tahu cara pastinya!” jawab Shanika sambil membalas tatapan mata malaikat maut dihadapannya itu dengan penuh percaya diri.
Setelah mendengar jawaban Shanika, malaikat maut yang masih berdiri dihadapan Shanika itu tiba-tiba teringat dengan kejadian saat Shanika berhadapan langsung dengan Iblis berwujud hewan dan dengan cepat berkata “Oya, saat itu… apa yang kamu lakukan sampai-sampai membuat mata Iblis berwujud hewan terluka dan meledak seperti bom?” tanya malaikat maut dengan tatapan lekatnya lagi.
Shanika yang sempat melupakan kejadian di hari itu, detik itu juga langsung teringat dan berkata “Apa benar aku yang sudah melakukan hal itu?!” dengan kedua bola matanya yang melebar dan ekspresi tidak percayanya kepada malaikat maut.
“Memang aneh sekali… kamu kan hanya manusia biasa,” balas malaikat maut yang merasakan keanehannya juga.
Saat Shanika akan melanjutkan perkataannya dengan malaikat maut, tiba-tiba handphone yang sejak tadi ia genggam pada tangan kirinya berdering dan saat Shanika melihat layar handphonenya, dapat dengan jelas Shanika melihat nama orang tuanya Nadine yang sedang menghubunginya.
“Sampai sini dulu kita bicaranya, aku harus mengurus Nadine sampai orang tuanya datang ke sini!” ucap Shanika sebelum ia mengangkat telepon dari orang tua Nadine, sambil melangkah pergi dari hadapan malaikat maut.
“I-iya,” balas malaikat maut itu sambil menganggukkan kepalanya perlahan dan terus memperhatikan langkah Shanika yang semakin jauh darinya.
__ADS_1
***
Sekitar satu jam kemudian, setelah kedua orang tua Nadine sampai di rumah sakit Shanika pun memutuskan untuk pulang ke Apartemennya, karena ia pikir saat Nadine sudah sadarkan dirinya, pasti Nadine tidak akan mau melihat wajahnya.
“Cara untuk menghentikan iblis jahat… rasanya tidak mungkin kalau aku tanyakan langsung kepada Xyan,” gumam Shanika saat ia sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil taksi.
“Hah… semakin hari semuanya semakin kacau! Apa yang harus aku lakukan?” keluh Shanika di dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya dan mengusap keningnya sendiri yang terasa sangat penat dengan kedua tangannya.
Tidak lama kemudian, Shanika pun sampai di depan gedung Apartementnya dan pada saat Shanika keluar dari dalam mobil taksi, saat itu juga ia langsung berhadapan dengan Iblis kejam yang sejak tadi ia pikirkan yaitu Zoya.
Dengan senyuman tipis yang mengerikan, detik itu juga Zoya terus menatap Shanika dengan sangat lekat. Hingga Shanika merasa kesal dan dengan reflek melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoya sambil berkata “Pertunjukkan yang sangat bagus!” ucap Shanika dengan ekspresi yang sangat menantang dan penuh keberanian.
“Hm? Barusan… kamu memujiku?” tanya Zoya dengan tatapan bingungnya, sambil terus memasang senyuman lebarnya kepada Shanika.
Zoya yang melihat reaksi santai dari Shanika itu pun langsung mengerutkan dahinya sekilas, setelah itu kembali berkata “Apa-apaan ini? kenapa reaksimu tidak seru begitu? Menyebalkan sekali, kamu membuatku semakin ingin melakukan hal berbahaya!” goda Zoya dengan nada bicaranya yang terdengar cukup mengancam.
“A-apa katamu?!” balas Shanika dengan ekspresi wajahnya yang dengan reflek berubah menjadi ekspresi marah.
Tapi, bukannya membalas pertanyaan Shanika. Detik itu juga Zoya kembali berkata “Oya, kamu pasti mau tahu kan caranya menghentikan aku?” sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika dan kembali menatap Shanika dengan tatapan tajamnya lagi.
Shanika yang mendengar perkataan Zoya itu pun langsung tersentak “Apa dia membaca pikiranku?!” batin Shanika sambil berusaha menahan perasaan panik sekaligus takutnya, agar tidak ketahuan oleh Zoya.
__ADS_1
Zoya pun kembali berkata “Ada cara mudahnya… cukup berikan saja matamu itu kepadaku!” yang seketika itu juga membuat Shanika bergumam “Mataku?” dengan tatapan lekatnya kepada Zoya.
“Dan relakan Xyan untuk selamanya! Lebih tepatnya, buatlah perjanjian denganku untuk mengorbankan setengah jiwa manusia Xyan,” sambung Zoya, yang saat itu juga membuat Shanika langsung terdiam dan kehabisan kata-katanya.
Zoya yang melihat ekspresi ragu sekaligus takut dari wajah Shanika, saat itu juga langsung memiringkan kepalanya dan kembali berkata “Hm? Ada apa denganmu? Jadi, kamu tidak masalah kehilangan pengelihatan… Tapi, tidak rela kehilangan Xyan?” tanya Zoya dengan nada bicaranya yang meninggi dan ekspresi tidak percayanya kepada Shanika.
“Jangan bilang… kamu sudah jatuh cinta kepada darah campuran itu?!” sambung Zota lagi sambil tertawa pelan dihadapan Shanika, yang sengaja ia lakukan untuk merendahkan Shanika.
Shanika yang tidak suka diremehkan, dengan reflek membalas perkataan Zoya “Tutup mulutmu! Iblis kejam sepertimu tidak pantas membicarakan cinta!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan kepada Zoya.
Zoya pun menghentikan tawanya, setelah itu mulai mengangkat tangannya untuk menggapai rambut Shanika dengan jari jemarinya, yang seketika itu juga membuat seluruh tubuh Shanika secara perlahan menjadi sangat kaku “Ugh, apa yang kamu lakukan?” ucap Shanika dengan perasaan takutnya.
“Dengarkan aku Shanika… cinta bukanlah soal saling melindungi. Tapi, soal pengorbanan! Itu artinya… salah satu di antara kalian harus ada yang berkorban. Aku benar, kan?” ucap Zoya sambil tersenyum menyeringainya, dengan tatapan matanya yang sangat intens kepada Shanika.
Yang seketika itu juga membuat Shanika kehabisan kata-katanya dan merasa semakin takut untuk melawan perkataan Zoya. “Kenapa sekarang malah diam saja? Ukh!!!” perkataan Zoya terputus, karena tiba-tiba Xyan datang dan langsung mencengkram kerah pakaian Zoya dengan kasar sampai membuat Zoya tercekik sekaligus juga merasa sesak.
“Ka-kamu! Ukh,” lenguh Zoya yang berusaha menahan rasa sakit, saat Xyan semakin memperkuat cengkraman tangannya.
“Tutup mulutmu, jika tidak ingin mati di tanganku!” ancam Xyan dengan amarahnya yang sudah sangat meledak-ledak kepada Zoya.
Sedangkan Shanika yang sudah tidak merasa kaku lagi pada seluruh tubuhnya, dengan reflek langsung melangkah mundur dari hadapan Zoya dan merasa terkejut dengan kelakuan Xyan kepada Zoya di depan umum “Xyan?!” panik Shanika karena saat ini mereka bertiga sudah menjadi pusat perhatian dari semua orang di depan gedung
__ADS_1
Apartement.