Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Wanita yang Menarik


__ADS_3

***


Di sisi lain, karena tahun ajaran baru belum di mulai. Tentu saja Shanika memiliki banyak waktu luang dan hari ini ia memutuskan untuk makan siang diluar seorang diri, sambil ditemani oleh Ibunya melalui sambungan telepon pribadinya.


“Aku dengar semua makanan di Restoran ini sangat enak! Ibu harus coba,” ucap Shanika yang bercerita dengan wajah ceria kepada Ibunya melalui telepon.


“Bukannya Ibu sudah bilang kalau kamu harus mulai menabung? Dan juga… Apa makanan yang Ibu bawakan ke Apartement-mu masih kurang banyak?” balas Ibunya Shanika dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan.


Shanika yang mendengar pertanyaan Ibunya itu pun hampir saja tersedak air saat sedang minum dan dengan reflek berkata “Ukh, bukannya kurang banyak… hanya saja aku sedang tidak ingin di Apartement sendirian,” jawab Shanika dengan nada bicaranya yang manja.


“Ya itu kan sudah resikonya kalau ingin tinggal sendiri,” balas Ibunya Shanika sambil menghela nafas panjangnya.


Karena sedang membicarakan mengenai Apartement, akhirnya Shanika pun membicarakan suasana Apartementnya yang entah kenapa tiba-tiba menjadi sangat mengerikan “Belakangan ini aku sering merasa merinding, bahkan mendengar suara aneh dari sudut ruangan yang agak gelap!” ucap Shanika panjang lebar kepada Ibunya.


“Ibu tahu kan rasanya ketika duduk diam sendirian dan pandangan mata hanya tertuju pada satu tempat, seram sekali kalau tiba-tiba ada yang muncul!” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penghayatan dan dramatis.


“Jadi, apa maksudmu?” tanya Ibunya Shanika dengan nada bicaranya yang santai.


“Sepertinya… di Apartement-ku ada hantu!” jawab Shanika dengan penuh percaya diri, yang seketika itu juga membuat Ibunya sempat terdiam dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Bingung dengan respon Ibunya, Shanika pun bergegas mengangkat handphonenya dari atas meja Restoran sambil berkata “Hello Ibu? Kenapa diam saja?” tanya Shanika sambil berusaha mengatur earphonenya yang siapa tahu mengalami kerusakan.


Tapi, tiba-tiba Shanika dikejutkan dengan suara Ibunya yang secara mendadak meninggi “Bisa-bisanya kamu membicarakan hantu disiang bolong begini! Bukannya kamu pernah bilang, kalau kamu tidak percaya hantu?” yang seketika itu juga membuat Shanika dengan cepat melepas earphonenya dan mengeluh kalau telinganya sakit.


“Ugh, aku bicara begitu… bukan untuk menakut-nakuti Ibu di rumah!” balas Shanika sambil mengusap telinganya sekilas.

__ADS_1


“Pokoknya kamu tidak boleh minta kepada Ayah untuk pindah dari Apartement itu! Tahu sendiri kan berapa besar uang yang Ayahmu habiskan untuk Apartement itu,” sambung Ibunya Shanika lagi yang bicara tanpa jeda sedikitpun.


“Ya, aku tahu! Aku tidak akan pindah walaupun ada hantu dan tetangga yang menyebalkan, Ibu jangan khawatir!” balas Shanika lagi sambil menerima pesanan makanannya yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan wanita dengan penuh sopan santun.


Beberapa detik kemudian, Shanika yang tidak ingin mendengar perkataan Ibunya yang terasa semakin cerewet itu pun segera berkata “Sudah ya, aku mau menghabiskan makananku dulu dengan tenang! Nanti malam aku hubungi Ibu lagi, Dah!” setelah itu Shanika langsung mematikan sambungan teleponnya, sebelum mendengar Ibunya


bicara lagi.


“Huh… hampir saja Ibu mengeluarkan jurus mautnya!” gumam Shanika sambil memasukan handphonenya ke dalam tas dan tanpa berlama-lama lagi, ia segera menyantap makanan dihadapannya dengan perasaan puas “Hm! Dagingnya enak sekali!” puji Shanika sambil mengunyah makanannya dengan penghayatan.


***


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore, mau tidak mau Shanika yang sudah merasa lelah harus pulang ke Apartementnya “Hah… aku masih belum mau pulang! Tapi, aku sudah sangat lelah berkeliling,” gumam Shanika saat ia sudah berdiri tepat di depan gedung Apartementnya yang indah.


Shanika yang awalnya merasa sangat ciut, akhirnya berusaha memberanikan dirinya dengan mengatakan “Ayo Shanika, jangan takut pada hantu! Sekarang tempat ini kan rumahmu!” sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan penuh semangat.


“Ah, kenapa aku harus berpapasan dengannya di lift sih?” batin Shanika sambil mengalihkan pandangannya dari Xyan yang saat ini sudah berdiri diam dan menatapnya dari dalam lift.


Shanika terus menunggu sampai pintu lift yang dinaiki oleh Xyan tertutup. Tapi, siapa sangka kalau Xyan sedang menunggunya “Kamu! Tidak mau masuk?” tanya Xyan yang saat itu juga membuat Shanika kembali menolehkan kepalanya ke arah Xyan dan memasang senyuman palsunya.


“Ya?” balas Shanika dengan wajah polosnya.


“Kamu mau naik ke lantai atas juga, kan? kenapa malah diam saja di sana?” tanya Xyan dengan tatapan tajamnya yang lagi-lagi berhasil membuat Shanika merasa terintimidasi.


“A-haha! Padahal kamu bisa naik duluan tanpaku,” jawab Shanika sambil melangkahkan kakinya ke dalam lift dengan perasaan ragu dan canggung, setelah itu Shanika pun berdiri sangat jauh dari Xyan dan tidak lupa juga menekan nomor lantai yang ia tuju.

__ADS_1


Entah kenapa Shanika mulai keringat dingin, padahal Xyan tidak melakukan apapun kepadanya dan entah kenapa juga Shanika merasa kalau saat ini lift bergerak dengan sangat lambat “Apa-apaan dengan situasi menyebalkan ini?” batin Shanika sambil mengusap tangannya sendiri dengan sangat kasar.


Di tengah-tengah keheningan, tiba-tiba Xyan berkata “Jangan bilang, kamu sedang berusaha menghindariku?” yang seketika itu juga membuat jantung Shanika seperti terbentur “Dheg!” dan dengan reflek Shanika berkata “A-aku menghindar? Untuk apa?!” dengan nada bicaranya yang sangat canggung, tanpa mau melihat mata Xyan


secara langsung.


“Ya, siapa tahu saja.” balas Xyan yang tanpa sadar melihat ke arah pergelangan tangan kanan Shanika “Ah, soal yang waktu itu… aku minta maaf, seharusnya aku tidak menarik tanganmu dengan kasar,” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dewasa di telinga Shanika.


“Hm, ternyata dia tahu caranya minta maaf!” batin Shanika sambil menganggukkan kepalanya singkat kepada Xyan.


Beberapa detik kemudian, saat Shanika merasa jauh lebih nyaman berada di dekat Xyan. Tiba-tiba Xyan kembali berkata “Oya,” yang membuat Shanika berpikir kalau pria itu akan meminta maaf lagi, karena kemarin ia sudah memberinya peringatan yang tidak masuk akal.


“Hari ini jangan lupa, untuk tidak menyalakan volume TV di atas angka lima!” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang penuh penekanan dan tatapan yang sangat tajam kepada Shanika.


Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung menghela nafasnya dengan kasar “Hah!” dan tepat pada saat pintu lift terbuka, dengan santainya Shanika berkata “Dasar cerewet!” yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak dan dengan reflek melebarkan kedua bola matanya ke arah Shanika yang sedang keluar dari


dalam lift.


“Ce-cerewet?!” kata Xyan dengan ekspresi tidak percayanya.


Sebelum pintu lift tertutup kembali, entah apa yang merasuki Shanika. Detik itu juga Shanika membalas tatapan Xyan dan kembali berkata “Asal tahu saja, kamar Apartement yang sepi sangat menyeramkan bagi wanita lemah sepertiku! Jadi, jika tidak mau dibilang cerewet… mohon maklumi aku!” pinta Shanika dengan tatapan matanya yang menajam dan penuh ancaman kepada Xyan yang masih kebingungan.


“Kalau begitu, aku permisi!” sambung Shanika sambil menundukkan kepalanya sekilas, bertepatan dengan pintu lift yang langsung tertutup rapat.


Sedangkan Xyan yang pertama kalinya berhadapan langsung dengan manusia yang berani melawannya, detik itu juga langsung menghela nafasnya dengan kasar dan menatap langit-langit lift dengan ekspresi tidak percayanya “Hah! Tidak aku sangka… sepertinya aku sudah meremehkannya!” gerutu Xyan dengan perasaannya yang campur

__ADS_1


aduk.


“Ting!” pintu lift pun kembali terbuka dan Xyan yang berhasil menenangkan emosinya kembali berkata “Cukup menarik!” dengan senyuman menyeringainya yang cukup mengerikan di mata manusia normal.


__ADS_2