Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Keajaiban Terjadi Lagi!


__ADS_3

Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah Shanika mencari ke seluruh tempat di rumah sakit untuk mencari arwah Ibunya tiba-tiba Xyan mengajaknya untuk pergi ke rooftop gedung rumah sakit yang sepi dan benar saja, sesampainya di Rooftop Shanika melihat arwah Ibunya yang sedang duduk sendirian.


“Itu Ibumu, kan?” tanya Xyan sambil menunjuk arwah Ibunya Shanika dengan jari telunjuknya, yang seketika itu juga membuat Shanika berkata “Iya, benar. Terima kasih sudah membantuku menemukannya,” sambil menganggukkan kepalanya dengan perasaan leganya dihadapan Xyan.


“Hm, sama-sama,” balas Xyan dengan wajah datarnya.


Setelah itu Shanika pun kembali teringat mengenai kondisi tubuh Ibunya yang Xyan bilang terkunci dan dengan reflek bertanya “Jadi… Bagaimana bisa tubuh Ibuku terkunci? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Shanika dengan tatapan lekatnya kepada Xyan.


Xyan yang mendengar pertanyaan Shanika itu pun langsung tersentak, karena ia kira Shanika sudah melupakan soal tubuh Ibunya yang terkunci dan dengan cepat Xyan berkata “Tenanglah, aku akan segera menemukan cara untuk memperbaiki semuanya seperti semula,” sambil menyentuh pundak kiri Shanika dengan sangat lembut dan penuh perhatian.


Yang seketika itu juga membuat Shanika menjadi jauh lebih tenang “Aku… percaya kepadamu,” balas Shanika sambil membalas tatapan mata Xyan yang sangat lekat kepadanya.


Setelah itu, Xyan pun menurunkan tangannya dari pundak Shanika dan kembali berkata “Sekarang, kamu temani saja Ibumu dan jangan lupa untuk mengecek kondisi Ayahmu lagi,” pinta Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dewasa.


“Aku mengerti,” balas Shanika lagi sambil memasang senyuman manisnya dihadapan Xyan, yang saat itu juga membuat Xyan ikut tersenyum walaupun sangat tipis.


“Kalau begitu, aku pergi dulu,” ucap Xyan sebelum ia bergegas melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Shanika bersama dengan anak buahnya Gavin dari rumah sakit itu.


Sedangkan Shanika yang melihat kepergian Xyan dengan wajah seriusnya itu pun hanya bisa berdiam diri dengan perasaan bingungnya sambil bergumam “Semoga masalahnya tidak begitu serius,” dengan ekspresi khawatirnya sambil menekan-nekan kedua tangannya sendiri secara bergantian.

__ADS_1


Saat Shanika sedang berada dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara Ibunya dari belakang tubuhnya yang berkata “Siapa pria tampan itu?” yang seketika itu juga membuat Shanika melompat dan menjerit “Kya! Bikin kaget saja!” paniknya sambil mengusap dadanya sendiri setelah melihat wajah Ibunya.


“Jangan mengalihkan topik pembicaraan! Siapa pria itu? Ibu belum pernah melihatnya,” tanya arwah Ibunya Shanika lagi dengan nada bicara dan ekspresi yang secara mendadak menjadi sangat serius.


Dengan perasaan ragu dan serba salahnya, Shanika pun berkata “Di-dia tetanggaku di Apartement… dia yang selalu membantuku semenjak aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, Bu.” Jawab Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit gugup.


“Hm, itu artinya… dia juga bisa melihat Ibu, kan?” balas Ibunya Shanika sambil menganggukkan kepalanya dan memasang ekpresi seriusnya lagi.


Beberapa detik kemudian, Shanika pun mulai memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Ibunya “Tapi, menurut Ibu… dia bagaimana?” dengan tatapan lekat dan senyuman tipisnya yang penuh banyak arti.


“Bagaimana apanya? Jangan bilang… kamu menyukai pria itu?” balas Ibunya Shanika dengan pertanyaan juga, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan merasa terjebak dengan perkataannya sendiri “A-apa maksud Ibu,” gumam Shanika dengan reflek sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin kencang.


Arwah Ibunya Shanika yang melihat putrinya itu malu-malu saat sedang membicarakan pria, detik itu juga tertawa pelan dan kembali berkata “Astaga… putri Ibu sekarang sudah dewasa ya!” goda Ibunya Shanika yang seketika itu juga membuat wajah Shanika memerah bagaikan kepiting rebus.


Karena Shanika tidak mengatakan apapun, saat itu juga arwah Ibunya Shanika berhasil memastikan kalau putrinya itu sudah benar-benar jatuh hati kepada pria tampan yang tadi ia lihat “Kalau kamu sangat menyukainya… tentu saja Ibu juga menyetujuinya!” goda Ibunya Shanika lagi.


Yang seketika itu juga membuat Shanika menatap Ibunya dengan tatapan tajamnya dan kembali berkata “Lupakan saja soal itu, kenapa Ibu malah berada di sini seorang diri? Bagaimana kalau Ibu sampai bertemu hantu jahat? Yang benar saja,” ucap Shanika panjang lebar dengan wajah cemberutnya.


“Ya ampun, kamu lebih menyeramkan daripada hantu jahat yang ada di sekitar sini!” balas Ibunya Shanika lagi dengan penuh candaan, sambil melangkah pergi dan berkata “Ibu mau bertemu dengan Ayahmu saja, yang saat itu juga membuat Shanika mau tidak mau tersenyum dan langsung mengikuti langkah Ibunya.

__ADS_1


“Tunggu aku!” pinta Shanika sambil berusaha menyusul langkah Ibunya yang sangat cepat seperti sedang melayang.


***


Beberapa jam kemudian, saat semua saudara Ayahnya Shanika sudah datang ke rumah sakit lagi, saat itu juga Shanika meminta pemeriksaan keseluruhan tubuh Ayahnya kepada Dokter dan seperti perkataan Xyan sebelumnya, setelah pemeriksaan Ayah Shanika selesai semua orang di rumah sakit itu menjadi sangat heboh.


Beberapa Dokter hingga perawat memasang ekspresi kaget mereka setelah melihat hasil akhir pemeriksaan tubuh Ayahnya Shanika, bahkan Dokter sampai memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang.


“Ba-bagaimana bisa tulangnya kembali sehat secepat ini?” kaget seorang perawat wanita dengan kedua bola matanya yang melebar.


Paman Shanika yang sejak tadi ikut menemani dengan reflek berkata “Bukannya Dokter bilang kesembuhannya akan sangat memakan waktu?” dengan ekspresi tidak percayanya, seakan tidak senang kalau saudaranya itu dapat segera sembuh.


“Ya, benar. Tapi, kalau hasil pemeriksaannya seperti ini… itu artinya anda akan segera bisa kembali berjalan dengan normal lagi, seakan tidak pernah mengalami kecelakaan apapun,” balas Dokter kepada Ayahnya Shanika yang masih duduk terdiam dengan ekspresi bingungnya di kursi rodanya.


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Dokter dan melihat wajah bingung semua orang di dalam ruang pemeriksaan itu hanya bisa tersenyum puas dengan perasaan leganya.


“Hal seperti ini benar-benar aneh, karena saya baru pertama kali mengalaminya. Bahkan atlet yang mengalami patah tulang harus melakukan berbagai cara terlebih dulu untuk mempercepat kesembuhannya,” kata Dokter lagi dengan ekspresi yang masih tidak percaya ke arah monitornya.


Shanika yang tidak terima dengan perkataan Dokter itu pun dengan reflek menggapai tangan kanan Ayahnya dan menggenggam tangan Ayahnya itu sambil berkata “Bukan aneh, ini adalah keajaiban, Dokter.” Ucap Shanika dengan senyuman lebarnya yang ia tunjukkan kepada Dokter dan Ayahnya, yang seketika itu juga membuat Ayahnya Shanika ikut tersenyum.

__ADS_1


“Haruskah kita melakukan pemeriksaan ulang lagi, Dokter?” tanya pamannya Shanika dengan tiba-tiba lagi, yang saat itu juga membuat Shanika merasa kesal dan dengan reflek melirikkan tatapan tajamnya kepada Pamannya.


“Menyebalkan sekali! Mau berapa kali pun diperiksa ulang… hasilnya akan sama!” batin Shanika sambil terus menggenggam tangan Ayahnya dengan erat.


__ADS_2