Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Hati yang Saling Terikat


__ADS_3

Hingga beberapa detik kemudian, akhirnya Xyan melepas pelukannya pada tubuh kecil Shanika dan berkata “Yang benar saja, kamu ingin cepat mati ya?!” dengan nada bicaranya yang secara mendadak menjadi sangat tinggi dan kasar kepada Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan membalas tatapan tajam Xyan dengan tatapan bingungnya. “Ah, maafkan aku. Seharusnya aku tidak membentakmu,” kata Xyan lagi sambil melangkah mundur dari hadapan Shanika.


Xyan pun segera berusaha untuk menenangkan dirinya dan kembali menatap Shanika sambil berkata “Dengar, yang barusan itu adalah makhluk yang cukup berbahaya. Makhluk itu bisa saja menarikmu hingga jatuh keluar jendela,” dengan ekspresi hingga nada bicaranya yang terdengar sangat serius kepada Shanika.


“A-aku mengerti, maaf karena sudah membuatmu… khawatir,” balas Shanika dengan tingkahnya yang canggung.


Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika, seketika itu juga ekspresi seriusnya menghilang menjadi ekspresi kaget sekaligus kebingungan dan dengan reflek Xyan kembali berkata “Ja-jangan salah paham! Untuk apa aku khawatir kepadamu?” dengan nada bicaranya yang kembali meninggi.


“Baiklah, anggap saja begitu,” balas Shanika dengan suaranya yang memelan, sambil menganggukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan.


Xyan yang tidak mau berurusan dengan Shanika lagi, saat itu juga membalik tubuhnya. Tapi, tiba-tiba ia kembali menatap Shanika dan memberikan peringatan untuk tidak mendekati sumber suara yang aneh lagi. Setelah itu Xyan juga menyuruh Shanika untuk terus menutup jendela Apartementnya, di saat langit sudah mulai gelap.


“Aku memang sudah mengusir makhluk tadi. Tapi, bisa saja makhluk itu kembali ke sini. Jadi, turuti saja perkataanku tanpa banyak bertanya!” ucap Xyan panjang lebar kepada Shanika yang hingga saat ini hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya.


Tanpa banyak bicara lagi, Xyan pun mengantar Shanika hingga wanita itu masuk ke dalam Apartementnya sendiri dan setelah itu Xyan segera bergegas untuk memasuki pintu lift dengan perasaan serba salahnya.


Di sisi lain, Shanika yang sudah berada di dalam Apartementnya segera menuruti perkataan Xyan dengan menutup seluruh jendela menggunakan tirainya masing-masing dan beberapa detik kemudian, entah kenapa Shanika merasakan getaran yang sangat aneh di dalam dadanya.


“Aneh sekali… kenapa aku terus merasa tergelitik dan mengingat pria itu?” gumam Shanika sambil mengusap dadanya sendiri dan terus terbayang-bayang pada saat Xyan memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


“Ugh! Kenapa juga dia memelukku seperti itu?!” gerutu Shanika setiap ia mengingat sentuhan kecil yang ia rasakan dari tangan Xyan pada saat memeluknya.


Tidak sampai di situ saja, Shanika juga mulai terbawa suasana dan senyum-senyum sendiri setiap ia mengingat betapa khawatirnya Xyan kepada dirinya, walaupun pria itu terus menyangkalnya “Pft! Imut sekali,” gumam Shanika tanpa sadar.


“Akh! Apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba aku menganggap pria menyeramkan seperti dia menjadi pria yang imut?!” panik Shanika sambil menepuk wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, setelah ia sadar kalau dirinya mulai tertarik pada Xyan.


***


Keesokan harinya, Shanika yang sudah terbangun dari tidurnya merasa sangat tidak puas dengan tidurnya karena selama semalaman ia tidak bisa tidur dengar tenang, bukan karena para makhluk yang mengganggunya. Tapi, karena debaran yang terus ia rasakan setiap mengingat wajah Xyan.


“Sial! Apa dia memberiku mantra yang aneh-aneh? Kenapa aku jadi terus memikirkannya, sih?!” keluh Shanika sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan sangat kasar dan menghentakkan kedua kakinya dengan brutal di atas tempat tidurnya hingga membuat seisi kamarnya berantakkan.


Dan hingga sekitar dua jam kemudian, Shanika yang keluar dari dalam Apartementnya memutuskan untuk bertingkah biasa saja jika tiba-tiba ia bertemu dengan Xyan. Tapi, tepat pada saat pintu lift terbuka dan tanpa sengaja Shanika bertemu dengan Xyan di dalam lift, lagi-lagi Shanika merasakan debaran aneh di dalam dadanya yang sangat menggelitik.


“I-iya, maaf!” jawab Shanika sambil bergegas masuk ke dalam lift dan berdiri dengan jarak yang sangat jauh dari Xyan.


Xyan yang merasa kalau tingkah Shanika saat aneh itu pun langsung bertanya “Kamu baik-baik saja, kan?” yang seketika itu juga membuat Shanika mengangguk tanpa bicara sedikit pun “Kamu terlihat kurang tidur,” sambung Xyan dengan tatapan lekatnnya kepada Shanika yang sejak tadi berusaha menghindar dari pandangannya.


“Aku baik-baik saja. Jadi, jangan bicara denganku!”  balas Shanika sebelum beberapa detik pintu lift terbuka dan setelah pintu lift terbuka, dengan langkah kakinya yang cepat Shanika segera pergi dari pandangan Xyan.


“Dia sedang kenapa sih?” gerutu Xyan saat melihat tingkah aneh Shanika kepada dirinya.

__ADS_1


***


Xyan bahkan terus memikirkan tingkah aneh Shanika itu hingga ia berada di Kantor Perusahaannya “Aneh sekali… Apa dia sedang berusaha menghindariku?” gumam Xyan sambil mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi seriusnya.


“Siapa?” tanya anak buah Xyan yang bukan lain adalah Gavin, yang secara tidak sengaja mendengar gumaman Xyan di dalam Kantornya.


“Kamu tidak perlu tahu!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang ketus.


Tapi, bukannya diam setelah mendengar perkataan ketus dari Xyan. Detik itu juga Gavin berjalan mendekati Xyan dan mengajukan pertanyaan “Tapi, Tuan. Kenapa anda tidak langsung menikahinya saja? dengan begitu, anda tidak akan merasa tersakiti lagi!” tanya Gavin dengan tatapan bingungnya.


“Kamu pikir, aku bisa asal menyeret manusia untuk menikahiku?” balas Xyan dengan tatapan tajamnya.


“Tentu saja anda bisa!” jawab Gavin dengan penuh percaya diri, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa frustasi “Kamu lupa ya? dua puluh tahun yang lalu, aku pernah memaksa manusia yang memiliki mata pengantin Ibuku juga untuk menikahiku. Tapi, manusia itu justru memutuskan untuk bunuh diri,” balas Xyan lagi dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.


Gavin yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung terdiam dan secara perlahan-lahan kembali menatap Xyan sambil berkata “Jangan bilang… kali ini Tuan hanya ingin menjaganya tanpa menikahinya?” yang seketika itu juga membuat Xyan mengalihkan pandangannya dengan cepat dari wajah Gavin.


“Saya tahu, wanita yang kali ini memang hanyalah wanita pengganti karena seharusnya mata pengantin bukanlah miliknya. Tapi, demi diri anda sendiri… anda harus mencoba untuk menikahinya! Atau tidak, anda akan terus tersiksa dengan kematian Ibu anda sendiri, Tuan.” Sambung Gavin dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan.


“Aku sudah biasa dengan siksaan itu, kamu tidak perlu berlebihan!” balas Xyan sambil bangkit dari duduknya “Aku mau pulang sekarang. Jadi, tolong kamu yang urus sisa pekerjaannya,” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang tegas, yang seketika itu juga membuat Gavin menerima perintah Xyan tanpa mengeluh.


Tanpa berlama-lama lagi, Xyan pun melangkah pergi untuk pulang ke Apartementnya dan sekitar dua puluh menit kemudian, sesampainya Xyan di depan gedung Apartementnya tanpa sengaja ia melihat Shanika yang sedang bicara dengan wajah cerianya bersama dengan seorang pria asing, yang seketika itu juga membuatnya merasa tersentak dan dadanya terasa tertekan.

__ADS_1


“Ada apa denganku?” pikir Xyan, yang tanpa sadar mulai merasakan keterikatan yang cukup dalam dengan Shanika.


__ADS_2