Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Hancurkan Jimatnya!


__ADS_3

Karena perasaan gugupnya, detik itu juga dengan reflek Shanika menepis tangan Xyan yang menyentuh dahinya setelah itu berkata “Ja-jangan bilang, kamu sedang berusaha untuk membaca pikiranku!” sambil melangkah mundur dan terus berusaha menghindari tatapan langsung dari mata Xyan lagi.


Sedangkan Xyan yang tersentak setelah tangannya ditepis cukup kasar oleh Shanika, saat itu juga langsung memasang senyuman menyeringainya dan membalas perkataan Shanika “Dari yang aku tahu, para Iblis memang bisa membaca pikiran manusia dengan mudah… Tapi, tidak denganku yang setengah manusia,” ucap Xyan panjang lebar.


“Tapi, kenapa? kenapa aku tidak boleh tahu isi pikiranmu saat ini?” sambung Xyan sambil mempertajam tatapan matanya kepada Shanika dan mendekatkan tubuhnya kepada Shanika, yang dengan reflek membuat Shanika melangkah mundur lagi.


“Ini privasiku!” jawab Shanika dengan nada bicaranya yang tegas kepada Xyan.


“Hm, ada benarnya juga,” gumam Xyan setelah mendengar perkataan Shanika kepadanya.


Shanika yang tidak ingin berlama-lama berada di dekat Xyan itu pun segera membalik tubuhnya sambil berkata “Aku mau istirahat…  dan karena sekarang sudah aman, kamu bisa pergi ke Apartementmu sendiri,” yang lagi-lagi membuat Xyan merasa kalau Shanika mengusirnya lagi.


“Hah… menyebalkan sekali,” keluh Xyan secara terang-terangan kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika segera menolehkan kepalanya lagi ke arah Xyan “Apa katamu?” dengan ekspresi bingungnya.


“Belakangan ini aku terus merasa kalau kamu sudah tidak membutuhkanku,” ucap Xyan dengan wajah seriusnya kepada Shanika.


“Bu-bukan begitu maksudku,” Tapi, sebelum Shanika menyelesaikan perkataannya dengan tiba-tiba Xyan berkata “Benda apa ini? tiket pertandingan?” sambil mengambil kertas kecil di lantai, yang sepertinya tanpa sengaja Shanika jatuhkan.


“Itu punyaku,” ucap Shanika dan dengan cepat segera mengambil tiket pertandingan itu dari genggaman tangan Xyan.


Xyan yang melihat tingkah dan gerak gerik kecemasan dari Shanika itu pun hanya bisa terdiam, hingga beberapa detik kemudian Shanika kembali berkata “Aku sangat berterima kasih kepadamu dan aku… masih sangat membutuhkanmu! Hanya saja, saat ini aku sedang membutuhkan waktu sendiri. Jadi, jangan salah paham,” pinta Shanika dengan tatapan lekatnya yang terlihat sangat meyakinkan.


“Ya, aku mengerti.” Balas Xyan, yang saat itu juga membuat Shanika tersenyum tipis dan segera melangkah pergi memasuki Apartementnya.

__ADS_1


Sedangkan Xyan yang ditinggal sendirian di depan pintu Apartement, saat itu juga mulai mengusap dadanya sendiri dan berkata “Ada apa denganku? Kenapa aku berdebar-debar hanya karena ucapan murahannya?” sambil melangkah pergi dengan ekspresi bingungnya.


Di sisi lain, Shanika yang sudah berada di dalam Apartementnya sendiri langsung menatap tiket pertandingan yang ada ditangan kanannya setelah itu bergumam “Haruskah aku membantu hantu itu?” dengan perasaannya yang serba salah.


“Akh, memusingkan sekali!” gerutu Shanika sambil melangkahkan kakinya yang terasa lemas ke dalam kamar Apartementnya.


***


Beberapa hari kemudian, tibalah hari perlombaan basket diselenggarakan dan dengan penuh kewaspadaan Shanika datang ke tempat perlombaan basket yang tidak begitu jauh dari Kampusnya itu seorang diri.


Setelah menunjukkan tiket nonton pertandingan basket, akhirnya Shanika bisa masuk ke dalam tempat perlombaannya dan dapat dengan jelas ia melihat Nadine yang sedang duduk bersama dengan teman-teman barunya.


“Nadine tidak boleh sampai tahu kalau aku ada disini,” batin Shanika dengan wajah seriusnya, setelah itu ia segera bergegas untuk mencari keberadaan Elvan.


“Ya, aku menepati janjiku,” balas Shanika sambil mengecek keberadaan hantu di bagian belakang tubuh Elvan. Tapi, sesuai dengan dugaannya hantu wanita itu masih belum bisa berada di dekat Elvan “Itu artinya… dia masih menyimpan jimatnya!” pikir Shanika.


Tidak lama kemudian, Elvan pun dipanggil oleh pelatihnya untuk berkumpul terlebih dulu bersama dengan anggotanya yang lain sebelum memulai pertandingan dan tepat sebelum Shanika melangkah pergi, saat itu juga ia melihat kalau Elvan baru saja melepas jaketnya.


“Hm? Siapa tahu kalau jimat itu ada di dalam jaketnya?” pikir Shanika lagi yang akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai ruang ganti baju anggota basket kosong.


Sekitar lima menit kemudian, Shanika pun melihat kalau semua anggota basket termasuk juga dengan Elvan melangkah pergi meninggalkan ruang ganti mereka dan tanpa banyak berpikir lagi, Shanika segera berjalan mendekati pintu ruang ganti baju itu untuk menyelinap ke dalam.


“Tenanglah Shanika, tidak perlu takut! Kamu ke sini bukan untuk mencuri,” gumam Shanika dengan suaranya yang agak bergetar saat ia mulai memegang gagang pintu dan setelah itu langsung memasuki ruangan dihadapannya.

__ADS_1


Saat Shanika berhasil memasuki ruang ganti baju, saat itu juga ia mengunci pintu ruangannya dan segera mencari jaket milik Elvan yang saat ini entah diletakkan dimana “Ugh, kenapa jaket semua anggotanya sama?” keluh Shanika yang kebingungan, karena semua jaket yang ada di dalam ruangan itu ternyata memiliki corak yang sama.


Shanika yang tadinya ingin menyerah untuk mencari jaket Elvan, tiba-tiba terkejut hebat karena tepat dihadapannya Shanika melihat salah satu pintu loker terbuka dengan sendirinya “Astaga, jantungku!” keluh Shanika lagi sambil mengusap dadanya sendiri.


Dan saat itu juga, mata Shanika langsung tertuju kepada jaket yang terlipat rapi di dalam loker dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera mengambil jaket itu, setelah itu melihat bordiran nama Elvan yang seketika itu juga membuatnya tersenyum “Ketemu!” ucap Shanika.


Detik itu juga Shanika merogoh setiap kantung jaket Elvan dan senyumannya menjadi jauh lebih lebar lagi saat ia berhasil menemukan jimat milik Elvan “Hah… padahal aku sendiri yang menyuruhnya untuk menyimpan jimat ini,” gumam Shanika sambil menatap lekat kertas jimat yang saat ini sudah berada di genggaman tangan kanannya.


Tapi, entah kenapa tiba-tiba Shanika merasa sangat ragu. Di satu sisi Shanika merasa kalau menjauhkan hantu wanita yang pendendam itu dari manusia adalah tindakan yang benar. Tapi, disisi lain Shanika juga takut kalau apa yang dikatakan oleh hantu wanita itu benar terjadi.


“Ugh, bagaimana ini?” gumam Shanika lagi sambil menolehkan kepalanya ke arah jendela dan melihat pertandingan basket yang sudah dimulai melalui jendela ruangan ganti baju itu.


Di tengah-tengah perasaan ragunya, tiba-tiba Shanika merasa merinding dan dengan sangat jelas ia mendengar suara hantu wanita itu lagi dari belakang tubuhnya “Tidak perlu ragu, hancurkan jimat itu sekarang!” dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan.


“Sepertinya ini tidak benar,” gumam Shanika yang memutuskan untuk mengembalikan jimat kertas itu ke dalam kantung jaket milik Elvan.


Tapi, tepat sebelum Shanika mengembalikan jimat kertas itu ke dalam kantung jaket. Tiba-tiba kedua tangannya menjadi sangat kaku dan kepalanya seakan diarahkan ke arah penonton di lapangan basket “Apa-apaan ini?!” gerutu Shanika yang kaget sekaligus panik, karena hantu wanita itu bisa mengendalikannya dirinya tanpa


menyentuh sedikit pun.


“Wanita yang duduk di sana adalah temanmu, kan?” tanya hantu wanita sambil berbisik dari belakang tubuh Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak karena melihat Nadine yang sedang duduk menonton pertandingan basket dengan wajah cerianya.


“Demi temanmu… hancurkan jimat itu, Shanika!” sambung hantu wanita itu lagi dengan nada bicaranya yang terdengar penuh ancaman dan amarah.

__ADS_1


__ADS_2