
“Nadine… ini aku Shanika,” panggil Shanika sambil berusaha memberanikan dirinya berjalan semakin mendekati Nadine yang saat ini masih berdiri memunggunginya di tengah lorong gedung C yang sangat gelap.
Beberapa detik kemudian, arwah Nadine yang di kelilingi oleh aura gelap itu pun sedikit bergerak dan secara perlahan-lahan mulai menolehkan kepalanya ke belakang, yang seketika itu juga membuat Shanika dapat dengan jelas melihat kedua bola mata Nadine yang berwarna merah dan ekspresi marah dari wajah Nadine.
“A-apa yang terjadi?” tanya Shanika sambil berusaha menggapai Nadine yang saat ini sudah tidak begitu jauh dari posisinya berdiri.
Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil menggapai Nadine, tiba-tiba ada seorang pria yang menarik tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Shanika dengan sangat erat “Bodoh! Dia bisa melukaimu!” ucap pria itu, yang bukan lain adalah Xyan.
Dan karena kedatangan Xyan, beberapa detik kemudian arwah atau hantu Nadine pergi menghilang entah kemana dengan raut wajahnya yang masih terlihat sangat marah “Ayo pergi dari sini,” ucap Xyan lagi sambil menggandeng tangan Shanika dan langsung menarik Shanika untuk keluar dari dalam gedung C yang masih mati lampu total itu.
Sesampainya Shanika dan Xyan di luar gedung, dengan reflek Shanika menahan tangan Xyan dan bertanya “Apa yang terjadi pada temanku? Dia terlihat tidak normal!” dengan ekspresi panik sekaligus khawatirnya.
“Temanmu sudah menjadi roh jahat, kamu lihat sendiri matanya yang merah lekat seperti itu!” jawab Xyan dengan nada bicranya yang penuh penekanan dan terkesan sangat penuh emosi.
Shanika yang mendengar jawaban Xyan itu pun dengan reflek kembali berkata “Roh jahat?! Bagaimana bisa? Saat aku menemuinya di tempat pemakaman… dia masih baik-baik saja,” dengan nada bicaranya yang sangat meninggi dan penuh dengan tanda tanya kepada Xyan.
“Entahlah, mungkin ada suatu hal yang membuatnya marah dan kehilangan kendali,” balas Xyan sambil memegangi kedua pundak Shanika dengan kedua tangannya, agar Shanika menjadi tenang.
“Hah… bagaimana ini?” gumam Shanika dengan perasaan khawatirnya.
“Tenanglah Shanika… hal seperti ini bukanlah tanggung jawabmu,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang sangat meyakinkan, yang saat itu juga membuat Shanika terdiam dan merenung.
Beberapa detik kemudian, Xyan yang tidak suka melihat Shanika murung dengan reflek kembali membuka mulutnya untuk berkata “Lagipula, dia sendiri kan yang memutuskan untuk bunuh diri! Hantu seperti dia tidak pantas untuk menuntut keadilan dari manusia,” dengan nada bicaranya yang cukup ketus di telinga Shanika.
__ADS_1
Yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya dan membalas tatapan mata Xyan dengan sangat lekat, sambil berkata “Apa katamu? Memangnya kamu tahu apa yang sudah terjadi kepada Nadine saat ia masih hidup?” dengan penuh emosinya.
“Shanika, bukan itu maksudku,” balas Xyan dengan perasaan bersalahnya.
“Walaupun dia sudah bicara kasar dan sering membuatku sakit hati. Nadine tetaplah teman baikku sebelum aku bertemu denganmu… Jadi, jangan hina dia!” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan kepada Xyan.
Xyan yang kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan agar Shanika memahaminya, detik itu juga langsung menghela nafas panjangnya dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika.
Sedangkan Shanika yang masih kesal dengan perkataan Xyan, dengan reflek kembali berkata “Aku harap, kamu punya hati nurani… walau hanya sedikit saja, Xyan.” Setelah itu Shanika langsung melangkah pergi melewati Xyan dan memutuskan untuk pulang seorang diri.
“Ah… kenapa jadi berantakkan begini?” keluh Xyan dengan perasaan kacaunya, setelah ia melihat kepergian Shanika dari hadapannya.
***
“Tuan, kalau begini terus… tahun ini anda akan mengalami banyak kerugian,” ucap Gavin yang sejak tadi berusaha mengembalikan fokus Xyan untuk bekerja.
Tapi, bukannya menyauti perkataan Gavin, dengan ekspresi kesalnya Xyan berkata “Bodoh sekali, untuk apa juga dia membela orang yang memutuskan untuk bunuh diri?!” sambil menyenderkan kepalanya ke bangku kerjanya secara kasar.
“Maksud anda Nona Shanika? Nona memang sangat baik,” balas Gavin sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
Tidak lama kemudian, saat Gavin akan menjelaskan salah satu proyek yang harus dikerjakan mulai besok tiba-tiba seorang pegawai pria yang juga manusia jadi-jadian mengetuk pintu dan memberikan sebuah laporan yang sejak kemarin malam Xyan tunggu-tunggu.
Dengan sangat cepat, Xyan pun membuka laporan itu dan membuat Gavin terdiam sambil memasang ekspresi bingungnya.
__ADS_1
“Sial!” ucap Xyan dengan tiba-tiba yang seketika itu juga membuat Gavin tersentak “A-ada masalah apa, Tuan?!” tanya Gavin dengan reflek.
“Ternyata bukan bunuh diri!” jawab Xyan sambil bangkit dari duduknya dengan cepat, setelah itu langsung bergegas mengambil dompet dan kunci mobilnya dari dalam laci meja kerjanya “Ya?! maksud anda… penyebab kematian temannya Nona Shanika bukan karena bunuh diri?” kaget Gavin.
“Ya! Dan aku baru tahu itu sekarang, sial!” balas Xyan sambil berlari keluar dari dalam kantornya, meninggalkan Gavin seorang diri dengan ekspresi bingungnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Xyan segera memasuki mobil mewahnya dan selama diperjalanan menuju alamat tujuannya, ia terus merasa bersalah dengan apa yang sudah ia katakan kepada Shanika.
“Pantas saja, hantu itu menjadi roh jahat! Alasannya pasti karena kematiannya yang sudah direncanakan,” batin Xyan selama ia mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan penuh.
***
Di sisi lain, Shanika yang terus merasa dihantui oleh Nadine melalui mimpi akhirnya memutuskan untuk pergi ke salah satu gedung studio tiga lantai yang lokasinya cukup jauh dari Apartementnya dan sesampainya di gedung studio itu, dari kejauhan Shanika melihat pria yang bukan lain adalah pelatih basket di Kampusnya sedang bergandengan dengan seorang wanita dan masuk ke dalam gedung studio.
“Tunggu, jangan bilang… tempat ini, ah!” ucap Shanika yang terputus dengan perasaan kacaunya, saat ia sadar kalau tempat yang saat ini ia datangi adalah tempat yang biasanya digunakan oleh pelatih basket di kampusnya itu untuk menjebak atau bermain-main dengan para wanita.
Di saat Shanika sedang ragu untuk masuk ke dalam gedung studio di hadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan wanita dan wanita yang sebelumnya di ajak oleh sang pelatih basket ke dalam gedung studio langsung berlari keluar dengan ekspresi takutnya.
Yang seketika itu juga membuat Shanika kebingungan “Eh? Kenapa dia kabur? Seperti habis melihat hantu saja… hantu?! Apa Nadine ada di sini?” ucap Shanika yang tersentak pada perkataannya sendiri.
Tanpa banyak berpikir lagi, Nadine pun segera melangkahkan kakinya secara mengendap-endap ke dalam gedung studio itu untuk memata-matai sang pelatih basket seorang diri. Tapi, tepat pada saat Shanika memasuki gedung studio, detik itu juga Shanika melihat arwah Nadine yang sudah menjadi roh jahat sedang berjalan di lantai dua
gedung studio.
__ADS_1
“Nadine… apa yang mau dia lakukan di sini?” gumam Shanika dengan suara yang pelan.