Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Dapat Saran dari Hantu


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, Shanika pun baru tersadar dengan kelakukannya sendiri dan dengan reflek langsung melangkah mundur dari hadapan Xyan, sambil melepaskan kedua tangan Xyan dari genggaman secara tiba-tiba “Ah! A-apa yang sudah aku lakukan?!” panik Shanika kepada dirinya sendiri.


“Shanika,” gumam Xyan yang masih terkejut juga sambil terus menatap Shanika dengan tatapan bingungnya.


“Ugh, biasanya aku tidak seperti ini! Ma-maafkan aku!” sambung Shanika dengan ekspresi paniknya sambil menundukkan kepalanya secara berulang kali di hadapan Xyan, setelah itu tanpa tanpa berlama-lama lagi Shanika langsung berlari ke dalam Apartementnya meninggalkan Xyan karena perasaan malunya.


Sedangkan Xyan yang masih cukup terkejut dengan tingkah Shanika, detik itu juga pikirannya menjadi sangat kosong dan dengan reflek Xyan segera menolehkan kepalanya ke arah pintu Apartement Shanika sambil mengusap bibirnya sendiri dengan jari jemarinya.


Hingga beberapa detik kemudian, setelah Xyan melangkahkan kakinya kembali untuk menuju pintu lift, akhirnya ia dapat kembali berpikir jernih dan berkata “Hah… kenapa reaksiku mematung seperti itu? Seperti amatiran saja,” keluh Xyan kepada dirinya sendiri, karena ia pikir seharusnya ia tidak perlu terkejut dengan apa yang dilakukan Shanika.


“Tapi, rasanya aneh sekali!” keluh Xyan lagi sambil mengusap dadanya sendiri, saat ia sudah memasuki pintu lift yang ada di hadapannya.


***


Keesokan harinya, dengan perasaan malu dan takut Shanika berusaha mengendap-endap saat akan keluar dari dalam Apartementnya, ia bahkan sampai memutuskan untuk menggunakan tangga darurat daripada harus menaiki lift dan bertemu dengan Xyan secara kebetulan “Akh, bodoh! Kenapa jadi begini sih?!” gerutu Shanika sambil memukul kepalanya sendiri saat sedang menuruni tangga.


Jujur saja, saat ini pikiran Shanika sedang sangat kacau, karena ada banyak hal yang ia pikirkan seperti kondisi kedua orang tuanya, nilai kuliahnya, rasa takut diburu oleh Iblis berwujud hewan dan sekarang ditambah lagi dengan rasa malu untuk menghadapi Xyan.


“Ah… disaat seperti ini, kenapa aku harus melakukan kesalahan kepada Xyan?” gumam Shanika dengan langkah kakinya yang sangat lemas, saat ia akan keluar dari balik pintu tangga darurat.

__ADS_1


Tapi, tiba-tiba langkah kaki Shanika terhenti karena tepat pada saat ia membuka pintu tangga darurat, dengan sangat jelas Shanika melihat Xyan yang sedang bersama dengan anak buahnya yaitu Gavin “Di-dia tidak sedang menungguku, kan?” gumam Shanika lagi dengan perasaan gugupnya.


Hingga beberapa detik kemudian, Shanika juga melihat kepergian Xyan bersama dengan Gavin dari lobi gedung Apartementnya “Huh… akhirnya dia pergi juga,” ucap Shanika dengan reflek sambil menghela nafas leganya.


“Nona? Anda sedang apa? Kenapa sejak tadi anda terlihat mencurigakan seperti itu?” tanya seorang petugas kebersihan kepada Shanika secara tiba-tiba, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sangat terkejut dan dengan reflek memasang senyuman lebarnya sambil berkata “Haha! Be-begitu ya,” dengan ekspresi yang sangat


canggung.


Sedangkan Xyan yang baru saja memasuki mobil mewahnya bersama dengan Gavin, detik itu juga mendengar perkataan Gavin yang berkata “Ada apa dengan Nona Shanika? Dia terus memperhatikan anda. Tapi, seakan sedang berusaha menghindari anda… Apa Tuan dan Nona sedang ada masalah?” tanya Gavin dengan ekspresi bingung dan tatapan lekatnya kepada Xyan melalui kaca spion mobil.


Xyan yang mendengar pertanyaan Gavin itu pun langsung berdeham dan secara tiba-tiba kembali teringat dengan apa yang Shanika lakukan kemarin malam “Me-menurutku sih tidak ada masalah!” jawab Xyan dengan reflek sambil berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain.


“Sudah, jangan banyak bertanya! Seperti yang sudah aku katakan tadi, hari ini kita harus menemukan semua Iblis berwujud hewan yang tanpa sengaja terlepas di dunia ini juga!” perintah Xyan yang dengan nada bicaranya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tegas dan serius.


“Ba-baik, Tuan!” balas Gavin dengan reflek dan tanpa banyak bicara lagi segera mengendarai mobil mewah yang saat ini ia naiki bersama dengan Xyan.


***


Di sisi lain, Shanika yang berhasil keluar dari dalam gedung Apartementnya tanpa menemui Xyan akhirnya dapat memanggil taksi dan langsung pergi ke Kampusnya. Dengan perasaan leganya, Shanika pun masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran barunya dengan sangat fokus, walaupun sesekali ingatannya soal kemarin malam membuatnya terganggu.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Shanika yang juga berhasil menyelesaikan semua mata kuliahnya segera memasuki toilet untuk membasuh wajahnya di wastafel, setelah itu Shanika mulai menatap bayangan dirinya sendiri melalui cermin sambil bergumam “Kacau sekali,” dengan wajah lelahnya.


Saat Shanika sedang fokus pada dirinya sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara bisikan wanita dari belakang tubuhnya yang mengatakan “Apanya yang kacau?” yang seketika itu juga membuat Shanika menjerit ketakutan “Kya!!!” dan segera membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang barusan bicara kepadanya.


“Astaga! Kenapa reaksimu berlebihan begitu?!” Kaget hantu wanita berwajah pucat yang saat ini berdiri dihadapan Shanika dengan ekspresi bingungnya.


Shanika yang melihat wajah hantu wanita dihadapannya itu pun langsung mengusap dadanya sendiri dan menghela nafas leganya secara kasar, setelah itu kembali berkata “Akh, aku kira siapa! Kamu membuatku jantungan saja,” keluh Shanika dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan di setiap katanya.


“Maafkan aku. Tapi, apa kamu sedang ada masalah serius?” tanya hantu wanita dihadapan Shanika dengan tatapan lekatnya.


Shanika yang mendengar pertanyaan hantu wanita dihadapannya itu pun tiba-tiba juga mendengar suara beberapa mahasiswa dari luar toilet, yang dengan reflek membuatnya berkata “Jangan bicara denganku, aku sedang tidak ingin dianggap aneh oleh orang-orang!” sambil mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya yang masih basah.


“Sekarang, pergilah.” Pinta Shanika sambil membuang tisu yang ada di tangannya ke tempat sampah.


Hantu wanita berwajah pucat yang terus memperhatikan Shanika itu pun langsung menyipitkan matanya dan tepat sebelum Shanika melangkah pergi dari dalam toilet, detik itu juga hantu wanita itu kembali berkata “Pasti soal pria, kan?” sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan kembali menolehkan kepalanya ke arah hantu wanita berwajah pucat itu “Apa kamu yakin… kalau kamu tidak membutuhkan saran dariku?” tanya hantu wanita di hadapan Shanika itu dengan reflek, sambil menunjukkan senyuman lebarnya yang aneh.


“A-apa katamu?” balas Shanika dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi kepada hantu wanita di hadapannya itu “Mana mungkin, aku mendengarkan saran dari… hantu?” sambung Shanika sambil tertawa dengan perasaan canggung dan pikiran anehnya.

__ADS_1


“Hm? Apa salahnya? Aku pikir… aku lebih banyak pengalamannya daripada kamu!” jawab hantu wanita berwajah pucat itu sambil memiringkan kepalanya dan terus menatap Shanika dengan sangat lekat, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa kalau perkataan hantu di hadapannya itu cukup masuk akal.


__ADS_2