
Walaupun sebenarnya Xyan sendiri sangat membutuhkan energi pemulihan untuk menyembuhkan lukanya, tanpa peduli pada dirinya sendiri Xyan terus berusaha mengirimkan energi pemulihannya untuk mengembalikan pengelihatan Shanika seperti sediakala.
“Xyan… apa yang kamu lakukan?” tanya Shanika saat Xyan terus berdiam diri sambil memegangi wajahnya dengan kedua tangannya.
Dan tanpa mendengar jawaban dari Xyan sedikit pun, beberapa detik kemudian sacara samar Shanika dapat kembali melihat cahaya hingga pengelihatannya kembali benar-benar pulih dan normal seperti manusia pada umumnya.
“A-aku bisa melihat lagi,” ucap Shanika dengan perasaan lega sekaligus kagumnya, saat ia dapat melihat wajah tampan Xyan lagi yang saat ini masih berdiri tepat dihadapannya.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika, detik itu juga langsung menghela nafas leganya setelah itu berkata “Syukurlah,” dan mengecup kening Shanika sekilas dengan penuh kasihnya. Tapi, karena energi pemulihannya yang tersisa sudah benar-benar habis, luka tusukan yang saat ini masih belum sembuh membuat tubuh Xyan menjadi sangat lemah.
Xyan pun langsung terjatuh dari posisi berdirinya, yang seketika itu juga membuat Shanika panik “Xyan?! A-apa yang terjadi?” tanya Shanika saat ia melihat wajah Xyan yang secara perlahan menjadi sangat pucat dan terlihat sangat kesakitan.
“Kekuatan Iblisku… sepertinya sudah tidak tersisa lagi,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang bergetar, karena ia terus berusaha menahan rasa sakit yang sebelumnya tidak pernah terjadi sampai separah ini kepada dirinya.
“A-apa?! I-ini pasti karena aku… seharusnya kamu tidak membantuku!” balas Shanika dengan perasaan bersalahnya, sambil memasang ekspresi yang seakan ingin menangis.
Beberapa detik kemudian, Shanika juga baru tersadar kalau saat ini Xyan terluka cukup para pada bagian dadanya dan karena energi pemulihan atau kekuatan Iblisnya sudah habis, darah pada luka Xyan terlihat terus mengalir keluar “Ah! Aku sudah melukamu!! Ah! Bagaimana ini?!” tangis Shanika sambil berusaha menghentikan darah yang keluar dari luka Xyan dengan kedua tangannya.
“Ukh! Kita harus pergi dari sini,” pinta Xyan sambil menggapai tangan Shanika dan berusaha untuk bangkit dari jatuhnya dengan sisa-sisa tenaganya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Iblis ular yang sejak tadi memperhatikan Xyan dan Shanika yang menangis, detik itu juga dengan reflek berpikir “Bodoh sekali! Apa dia ingin mati seperti manusia? Kenapa dia malah merelakan dirinya sendiri hanya untuk wanita?!” dengan perasaan tidak percayanya setelah melihat pengorbanan yang dilakukan oleh Xyan.
“Lemah! Xyan yang sekarang dan seterusnya… akan menjadi sangat lemah! Apa sejak awal dia memang ingin hidup sebagai manusia?” sambung pikiran Iblis ular saat merasakan aura Iblis yang semakin menghilang dari tubuh Xyan, sambil terus merambat secara perlahan-lahan ke atas meja kayu yang berada tepat di belakang tubuh Xyan.
“Tunggu… ini adalah kesempatanku! Menyerang Xyan yang lemah, setelah itu membawanya kembali ke dunia kegelapan untuk Raja Iblis,” sambung pikiran Iblis ular lagi sambil mengangkat kepalanya dan mulai menatap Xyan yang saat ini sedang berusaha untuk bangkit dari jatuhnya dengan tatapan tajam.
Shanika yang awalnya tidak menyadari keberadaan Iblis ular, tidak lama kemudian mendengar suara desisan ular sambil terus berusaha membantu Xyan untuk berdiri dan karena Shanika sudah tidak memiliki Mata Pengantin Iblis lagi, detik itu juga ia merasa sangat kesulitan untuk mencari tahu keberadaan Iblis ular yang sejak tadi ia dengar suara desisannya.
Hingga beberapa detik kemudian, dapat secara jelas Shanika melihat pantulan bayangan Iblis ular dari dalam cermin tua yang saat ini sudah siap untuk menyerang Xyan “Tidak!” ucap Shanika dengan ekspresi paniknya.
Dan tepat pada saat Iblis ular itu ingin menyerang Xyan dengan gigitan tajamnya, saat itu juga Shanika memeluk tubuh Xyan dan menukar posisinya dengan Xyan, untuk menyelamatkan nyawa Xyan.
yang dimiliki oleh sebagian Siluman kuat.
Yang seketika itu juga membuat Iblis ular musnah dan berubah menjadi butiran debu tanpa dapat menyerang balik “Hah… Syukurlah, tepat waktu! Nona dan Tuan baik-baik saja, kan?” tanya Gavin sambil menolehkan kepalanya ke arah Shanika dan Xyan.
“Ga-gavin? Xyan terluka!” jawab Shanika dengan perasaan sedikit leganya saat melihat kedatangan Gavin.
Gavin yang melihat kondisi kritis Xyan itu pun langsung tersentak, ia benar-benar tidak pernah menyangka kalau ia akan melihat tuannya itu menjadi selemah ini dan dengan perasaan kacaunya, Gavin segera membantu Shanika untuk menopang tubuh Xyan dan bergegas mengantar Xyan bersama dengan Shanika untuk pergi keluar.
__ADS_1
Dengan penuh perjuangan, Shanika, Xyan dan Gavin berjalan menuruni tangga. Tapi, pada saat mereka akan berjalan mendekati pintu keluar rumah tua itu, tiba-tiba kedua pintu keluar yang terbuka lebar bergerak sendiri dan tertutup rapat “Brak!” yang seketika itu juga membuat langkah kaki mereka bertiga terhenti.
“A-apa yang terjadi?” kaget Shanika dengan ekspresi takutnya, sambil terus memegangi tubuh Xyan yang kehilangan keseimbangannya “Zoya,” ucap Xyan dengan suara yang sangat pelan.
Tidak lama kemudian, Shanika pun mendengar suara langkah kaki wanita dari lantai dua rumah tua itu dan pada saat Shanika menolehkan kepalanya bersama dengan Gavin ke belakang, saat itu juga mereka melihat Zoya yang sedang berdiri di lantai dua rumah tua sambil menatap mereka dengan tatapan tajamnya.
“Ah… Mata Pengantin Iblis sudah musnah… Kekuatan adik tersayangku sudah habis tak tersisa… dan satunya lagi, hanyalah Siluman dari kelas rendahan. Kalian benar-benar sudah tidak tertolong lagi!” ucap Zoya panjang lebar sambil tersenyum sinis menatap Shanika, Xyan dan Gavin.
“Hm, menyerah saja! Karena di depan kalian hanya ada satu jalan, yaitu kematian,” sambung Zoya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat meremehkan, yang seketika itu juga membuat Xyan yang sudah kesulitan menjaga kesadarannya merasa kesal.
Detik itu juga, Xyan pun berusaha melepaskan pegangan Shanika dan Gavin yang sejak tadi membantunya untuk berjalan, setelah itu mulai membalik tubuhnya secara perlahan untuk menghadap kepada Zoya.
Dengan ekspresi pasrahnya, Xyan pun berkata “Bawa aku saja, mereka berdua sudah tidak ada hubungannya lagi denganku,” yang seketika itu juga membuat Zoya tertawa dan berkata “Baiklah, kalau itu maumu!” sedangkan Shanika dan Gavin langsung memasang ekspresi bingung mereka.
“Tidak! Apa maksudmu?!” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi sambil memegang lengan tangan Xyan dengan sangat erat.
“Pergilah dan kembali hidup dengan normal, Shanika.” Pinta Xyan sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Shanika dari lengannya, yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya sambil berusaha menahan tangisannya yang mulai kembali meluap.
“Gavin! Bawa Shanika keluar dari sini, sekarang!” sambung Xyan sambil menolehkan kepalanya ke arah Gavin yang masih terdiam dengan ekspresi kagetnya “Tapi,” ucap Gavin “Ini perintah terakhirku padamu,” sambung Xyan lagi dengan tatapan lekatnya kepada Gavin, yang seketika itu juga membuat jantungnya terasa terpukul dengan perkataan Xyan yang sangat serius kepadanya itu.
__ADS_1