
Sekitar satu jam kemudian, setelah meminum obat pereda nyeri Shanika segera bergegas keluar dari gedung Apartementnya dan berangkat pergi ke Kampusnya dengan memesan mobil taksi “Hah… aku harap, aku tidak bertemu dengan Kak Elvan!” ucap Shanika sambil menyenderkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan cemas, saat ia sudah duduk dibangku penumpang.
“Nona? Apa anda baik-baik saja? anda terlihat tidak sehat,” tanya supir taksi sambil terus mengemudikan mobil taksinya dan sesekali melirikkan matanya kepada Shanika dengan tatapan khawatirnya.
“Ya? ah, saya baik-baik saja pak. Tidak perlu khawatir,” jawab Shanika dengan senyuman ramahnya, setelah itu dengan sekuat tenaganya Shanika berusaha untuk menenangkan dirinya yang semakin cemas dan juga ketakutan.
Tidak lama kemudian, Shanika pun sampai di Kampusnya dan dengan penuh kewaspadaan Shanika keluar dari dalam mobil taksi setelah melakukan pembayaran “Ternyata benar… manusia jauh lebih menyeramkan daripada hantu!” gerutu Shanika sambil terus menolehkan kepalanya ke berbagai arah, karena ia takut jika tiba-tiba harus
berpapasan dengan Elvan.
Tapi, semua perasaan cemas dan takut Shanika dirasa sangatlah percuma, karena ia sama sekali tidak merasakan kehadiran Elvan ataupun teman-teman Elvan yang sempat menculiknya disekitar area Kampus “Sepertinya aku tidak perlu khawatir,” gumam Shanika dengan perasaan leganya, saat ia sedang melangkahkan kakinya menuju
salah satu pintu kelas.
Saat Shanika akan menggapai gagang pintu kelas dihadapannya, saat itu juga tiba-tiba ada Nadiine yang berjalan mendekatinya dan langsung menarik pundaknya dengan sangat kasar “Akh,” keluh Shanika yang dengan reflek langsung membalik tubuhnya ke belakang.
“Ada apa denganmu? Kenapa kemarin kamu terus ikut campur dengan urusanku?” tanya Nadine dengan ekspresi marahnya dan tatapan tajamnya yang terlihat sangat menakutkan.
“Maksudmu… saat aku membantumu untuk pulang dengan taksi, itu adalah ikut campur? Kamu tidak sadar ya, kalau kamu itu sudah mabuk berat? Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku atau tidak kamu akan,” belum selesai Shanika bicara dengan cepat Nadine tertawa sinis dihadapannya, yang seketika itu juga membuat Shanika langsung terdiam dan memasang ekspresi bingungnya.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu begitu perhatian kepadaku?” balas Nadine dengan nada bicaranya yang ketus, sambil memasang senyuman menyeringainya dihadapan Shanika yang masih terdiam.
“Apa kemarin aku meminta bantuanmu? Tidak, kan? menyebalkan sekali,” sambung Nadine dengan tatapan sinisnya.
Yang saat itu juga berhasil membuat Shanika merasa sangat terpukul, padahal karena sudah membantu Nadine ia harus mengalami hal yang buruk “Jika Xyan tidak membantuku… mungkin aku sudah bukan diriku yang sekarang,” pikir Shanika dengan perasaan sedihnya.
Beberapa detik kemudian, tepat sebelum Nadine melangkah pergi dari hadapannya. Shanika pun kembali berkata “Apa sebelumnya kamu pernah menganggapku sebagai teman?” yang seketika itu juga membuat Nadine tersentak dan mengerutkan dahinya.
“Sepertinya tidak pernah ya?” sambung Shanika dengan raut wajahnya yang terlihat seperti sedang menahan tangis.
“Sejak awal, kita memang tidak pernah menjadi teman. Jadi, jangan munafik Shanika!” jawab Nadine dengan tatapan tajamnya dan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan disetiap kata-katanya, yang lagi-lagi berhasil membuat Shanika terdiam dan semakin merasa sedih.
Yang saat itu juga membuat senior-senior yang lain heboh “Jangan bilang kejadiannya setelah pesta kemenangan kemarin?” tanya salah satu senior wanita juga dengan ekspresi takutnya.
Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan para senior itu, entah kenapa langsung merasa kalau dua pria yang mengalami tabrak lari itu adalah dua pria yang sempat menculiknya tadi malam “Ah, kenapa perasaanku jadi buruk begini?” batin Shanika sambil mengusap leher bagian belakangnya.
“Oya! Barusan… aku melihat orang tuanya Elvan yang sedang mengajukan formulir cuti di Fakultas!” ucap salah satu senior pria, yang seketika itu juga membuat Nadine segera bergerak mendekati para senior dan bertanya “Kak Elvan akan cuti?!” dengan ekspresi kagetnya.
“Orang tuanya bilang, kalau saat ini Elvan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit XX!” jawab senior pria itu dengan nada bicaranya yang terdengar penuh keraguan.
__ADS_1
“Apa sakitnya parah?” tanya Nadine lagi dengan tatapan lekatnya.
“Tenanglah Nadine, kalau Elvan mah sudah biasa mengajukan cuti atau dirawat di rumah sakit! palingan ia hanya ingin bersantai-santai dulu,” balas salah satu senior wanita sambil tertawa pelan yang diikuti juga oleh senior yang lain, seakan menganggap kalau apa yang terjadi pada Elvan hanyalah hal sepele.
“Be-begitu ya? syukurlah kalau begitu,” balas Nadine dengan perasaan leganya.
Tapi, tidak seperti Nadine yang langsung percaya begitu saja dengan perkataan para senior. Detik itu juga Shanika segera berlari di tengah-tengah lorong kelas yang cukup ramai untuk pergi ke rumah sakit XX, tempat Elvan dirawat saat ini dengan perasaannya yang entah kenapa terasa semakin buruk.
Selama diperjalanan menuju rumah sakit menggunakan mobil taksi lagi, Shanika terus merasa khawatir bahkan sampai kedua tangannya bergetar hebat sambil berpikir “Jangan bilang… semua ini ada hubungannya denganku, atau… karena hantu bermata merah itu?” dengan perasaannya yang sangat campur aduk.
Shanika benar-benar sangat paham, seharusnya ia tidak merasa khawatir kepada Elvan yang sudah jahat kepadanya kemarin malam. Tapi, entah kenapa ia terus merasa bertanggung jawab jika apa yang terjadi pada Elvan saat ini disebabkan oleh hantu wanita bermata merah itu.
Dan benar saja, pada saat Shanika bergegas memasuki gedung rumah sakit, saat itu juga ia melihat sosok hantu wanita bermata merah yang penuh dendam kepada Elvan sedang berdiri menatapnya di lantai atas, yang seketika itu juga membuat Shanika segera melanjutkan langkah kakinya untuk mengikuti hantu wanita itu.
Hingga beberapa menit kemudian, Shanika pun sampai di sebuah lorong kamar rumah sakit dan pada saat hantu wanita bermata merah dihadapannya menghilang, saat itu juga Shanika mendengar perkataan seorang wanita tua “Rumah sakit jiwa katamu?! Bagaimana bisa dalam satu malam anakku kehilangan akal sehatnya?!” jeritnya dengan penuh emosi kepada seorang dokter dan beberapa perawat wanita.
“Dari keseluruhan kondisi tubuh anak anda sangatlah normal. Tapi, entah kenapa ia terus merasa ketakutan bahkan terus berusaha menyakiti dirinya sendiri… Jadi, ada baiknya jika pasien dipindahkan ke rumah sakit yang lebih bisa menanganinya, karena obat penenang saja tidak akan cukup Nyonya,” balas Dokter dihadapan wanita tua itu dengan sangat profesional, yang seketika itu juga membuat wanita tua dihadapannya kembali menjerit dan menangis.
Shanika yang mendengar perkataan wanita tua dan Dokter itu pun kembali melanjutkan langkah kakinya hingga ia sampai di depan salah satu pintu kamar dan melihat Elvan yang saat ini sedang duduk melamun di atas tempat tidurnya “Kak Elvan? Apa yang terjadi kepadanya?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya, karena saat ini Elvan benar-benar terlihat sudah kehilangan kewarasannya.
__ADS_1
“Setelah apa yang ia lakukan kepadaku! Kenapa sekarang ia terlihat menyedihkan seperti ini?” pikir Shanika dengan perasaan mirisnya.