Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Rasa Takut dan Rasa Syukur Shanika


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, Shanika mulai melangkahkan kakinya secara perlahan untuk memasuki kamar rawat Elvan dan sedikit mendekati Elvan yang masih duduk melamun di atas tempat tidurnya “Kak?” panggil Shanika dengan tatapan lekatnya kepada Elvan.


Tepat pada saat Shanika kembali memanggil nama Elvan, saat itu juga tiba-tiba hantu wanita bermata merah yang memiliki dendam kepada Elvan muncul dan jalan melewati Shanika untuk mendekati Elvan “Kamu! Jangan bilang… kondisinya sampai kacau begini karena ulahmu?!” tanya Shanika saat ia melihat kedatangan hantu wanita bermata merah itu.


Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Shanika, hantu wanita bermata merah itu justru hanya memasang senyuman menyeringainya dan langsung mencengkram leher Elvan menggunakan tangan kirinya dengan sangat erat “Ukh!” yang seketika itu juga membuat Elvan merasa kesakitan dan juga sesak nafas.


“Hentikan!” panik Shanika yang saat itu juga membuat hantu wanita bermata merah dihadapannya segera melepaskan cengkraman tangannya pada leher Elvan, sedangkan Elvan langsung terbatuk dan terlihat seakan ingin menangis.


Shanika yang melihat kondisi Elvan itu pun merasa sangat kasihan dan dengan reflek berkata “Kenapa? kenapa kamu masih dendam kepadanya? Padahal kondisinya sudah separah itu!” dengan tatapan lekatnya kepada hantu wanita dihadapannya itu.


“Entahlah… sepertinya dendam ini tidak mudah untuk hilang. Lagipula… pria seperti dia tidak pantas untuk dimaafkan,” balas hantu wanita dihadapan Shanika itu sambil membalas tatapan mata Shanika dengan tatapan tajamnya.


Sebelum Shanika kembali bicara hantu wanita itu pun kembali bicara “Bukannya dia juga sudah melakukan hal buruk kepadamu? Kamu terlalu bodoh kalau dapat memaafkannya dengan mudah!” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat ketus dan dingin kepada Shanika.


“Tapi, tetap saja,” gumam Shanika dengan perasaannya yang serba salah setiap ia melihat kondisi kacau Elvan.


Dan hingga beberapa detik kemudian, Shanika kembali menatap hantu wanita dihadapannya dengan tatapan bingungnya sambil bertanya “Tapi, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti ini? terakhir kali… bukannya kamu tidak bisa mendekati Elvan sedikitpun?” yang seketika itu juga membuat hantu dihadapannya merasa senang.


“Pertanyaan bagus!” balas hantu wanita itu dengan senyuman tipisnya “Ya?” gumam Shanika dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


“Awalnya aku memang tidak bisa melakukan apapun kepada dia. Tapi, tiba-tiba ada seorang pria yang ingin membantuku… ah, lebih tepatnya dia memanfaatkan aku!” sambung hantu wanita dihadapan Shanika yang saat itu juga berhasil membuat Shanika semakin kebingungan.


Hantu wanita bermata merah yang melihat reaksi bingung dari wajah Shanika itu pun langsung menghela nafasnya dan kembali berkata “Aku iri sekali kepadamu, karena kamu punya seseorang yang rela melakukan apapun untukmu!” dengan ekspresi kecewanya.


“Aku tidak mengerti maksud perkataanmu,” balas Shanika sambil mengerutkan dahinya.


“Iblis itu! Dialah yang sudah membantuku untuk melakukan hal seperti ini kepada Elvan!” ucap hantu wanita dihadapan Shanika dengan nada bicaranya yang tegas “A-apa?!” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan memikirkan Xyan.


“Iblis itu sepertinya sangat menyayangimu, karena setelah apa yang Elvan lakukan kepadamu, dia segera mengutusku… agar kedepannya kamu tidak merasa takut kepada manusia hina ini,” sambung hantu wanita dihadapan Shanika lagi, yang entah kenapa membuat Shanika merasa sedikit sesak dan kebingungan.


Tidak lama kemudian, saat Shanika akan melangkah pergi tiba-tiba ia mendengar suara Elvan yang memanggil namanya “Shanika,” yang seketika itu juga membuat Shanika kembali tersentak dan ia langsung merasakan getaran rasa takut di dalam hatinya.


“Maafkan aku,” ucap Elvan sambil menolehkan kepalanya ke arah Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika ikut menolehkan kepalanya secara perlahan dan saat kedua mata mereka bertatapan, tiba-tiba Shanika mengingat kejadian saat dirinya diculik dan dengan reflek kedua tangan Shanika langsung bergetar seakan mengalami trauma.


“Pergilah dan jangan datang ke sini lagi,” pinta hantu wanita bermata merah kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika yang merasa sesak segera berlari keluar dari dalam kamar rawat Elvan.


Shanika terus berlari hingga ia berhasil keluar dari dalam gedung rumah sakit dan dengan cepat ia segera mengatur nafasnya. Tapi, bukannya berhasil mengatur nafasnya detik itu juga Shanika mulai menangis sambil menekan dadanya sendiri yang terasa sesak setiap ia mengingat Elvan yang manatap dan memanggil namanya.


***

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit kemudian, saat dirasa sudah jauh lebih baik Shanika pun segera membasuh wajahnya di dalam kamar mandi rumah sakit dan melihat bayangannya sendiri di dalam cermin sambil bergumam “Ah… mataku jadi bengkak semua,” setelah itu Shanika segera mengusap wajahnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang lemas untuk pulang menggunakan mobil taksi.


Saat sebelum Shanika memasuki mobil taksi, ia baru menyadari kalau ia sempat menjadi bahan tontonan orang-orang karena menangis sendirian di depan gedung rumah sakit “Lupakan saja,” gerutu Shanika sambil memasuki mobil taksinya.


Dan karena jalanan sedang tidak macat, tanpa memakan waktu lama akhirnya Shanika sampai di gedung Apartementnya dan tanpa banyak berpikir atau bicara lagi Shanika segera berjalan memasuki pintu lift. Tapi, bukannya sampai di lantai Apartementnya berada, entah kenapa Shanika justru sampai di lantai Apartementnya Xyan.


“Hah… apa aku sudah salah tekan tombolnya?” gumam Shanika dengan nada bicaranya yang lemas.


Tanpa berlama-lama Shanika pun segera mengangkat tangannya untuk menggapai tombol nomor lantai Apartementnya. Tapi, tepat sebelum Shanika menekan tombol nomor, tiba-tiba ia melihat pintu kamar Apartement Xyan yang terbuka dan saat Shanika melihat Xyan yang baru saja keluar dari dalam Apartementnya, saat itu juga


Shanika berlari kepada Xyan.


“Shanika?” kaget Xyan saat ia melihat Shanika yang berlari kepadanya.


“Ada apa? Ugh!” kaget Xyan lagi, karena tiba-tiba Shanika memeluknya dengan sangat erat yang seketika itu juga membuatnya tersentak dan merasa kebingungan.


“Hiks! Xyan,” tangis Shanika.


Secara perlahan Xyan melirikkan matanya kepada Shanika yang memeluknya, setelah itu segera menolehkan kepalanya ke segala arah sambil berkata “Apa saat ini ada hantu yang mengejarmu?” tanya Xyan dengan nada bicaranya yang penuh perhatian kepada Shanika.

__ADS_1


Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung menggelengkan kepalanya dan secara perlahan perasaan takutnya berubah menjadi perasaan tenangnya “Aku harap… kamu selalu berada di sisiku seperti ini, Xyan.” Batin Shanika.


Sedangkan Xyan yang masih kebingungan dengan tingkah Shanika, saat itu juga mau tidak mau mulai mengusap kepala Shanika dan terus berusaha mengatur detak jantungnya yang entah kenapa semakin berdebar-debar “Mau sampai kapan dia memelukku seperti ini?” pikir Xyan dengan perasaan kacaunya karena sentuhan Shanika.


__ADS_2