
***
Sekitar dua puluh menit kemudian, Xyan yang sudah sampai di rumahnya segera membawa Shanika ke dalam kamarnya dan membaringkan wanita itu di atas tempat tidurnya dalam keadaan yang masih pingsan.
Setelah itu Xyan segera melangkah keluar dari dalam kamarnya untuk menemui anak buahnya yaitu Gavin “Saya sudah selesai mengurus dua pria yang kabur itu sesuai perintah anda, Tuan!” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius dan bisa dipercaya.
“Kerja bagus,” balas Xyan sambil melangkahkan kakinya untuk mengambil baskom dan mengisi baskom itu dengan air dingin.
Sedangkan Gavin yang sedikit khawatir pada kondisi Shanika, saat itu juga bertanya “Bagaimana dengan kondisi Nona Shanika?” dengan tatapan lekatnya kepada Xyan yang saat ini berada dihadapannya.
“Biar aku yang urus dia, sekarang kamu sudah boleh pulang,” jawab Xyan yang dengan reflek membuat Gavin menundukkan kepalanya dan segera pamit untuk pergi dari Apartement Xyan itu.
Setelah melihat kepergian Gavin dari Apartementnya, tanpa berlama-lama lagi Xyan segera membawa baskom yang berisikan air dingin itu ke dalam kamarnya. Tapi, betapa kagetnya Xyan saat ia melihat kondisi Shanika saat ini yang terlihat sangat kesakitan sekaligus kepanasan di atas tempat tidurnya.
“Shanika? Ada apa denganmu?” tanya Xyan sambil bergegas mendekati Shanika dan mengusap keringat pada pelipis Shanika dengan penuh perhatiannya.
“Xyan!” panggil Shanika dengan tiba-tiba sambil menggapai pergelangan tangan kanan Xyan menggunakan kedua tangannya “Lakukan sesuatu padaku! Aku mohon,” sambung Shanika dengan wajah memelasnya, yang seketika itu juga membuat Xyan mengerutkan dahinya dan segera memeriksa bola mata Shanika dengan seksama.
“Sepertinya ada yang memberimu obat… sial!” ucap Xyan saat ia sudah selesai memastikan penyebab Shanika bertingkah aneh.
Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun segera terduduk dari tidurnya sambil berkata “Rasanya panas sekali dan aku seperti hampir kehilangan akalku!” keluh Shanika sambil berusaha menahan air matanya dan terus meremas celananya sendiri dengan sangat kasar menggunakan kedua tangannya.
Xyan yang sangat memahami efek samping dari penggunaan obat yang Shanika konsumsi itu pun langsung bergegas mengambil jarak dari Shanika sambil berkata “Aku tidak bisa membantumu!” dengan ekspresi kesal sekaligus bingung.
__ADS_1
“Ti-tidak mungkin! Aku mohon… lakukan sesuatu!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi kepada Xyan, sambil menangis sesegukkan dihadapan Xyan yang seketika itu juga membuat Xyan semakin merasa bersalah.
“Akh! Sial,” gerutu Xyan sambil membalik tubuhnya dan terus memutar otaknya dengan sangat serius.
“Hiks! Aku mohon… kalau begini, rasanya aku lebih baik mati!” ucap Shanika lagi dengan suaranya yang bergetar dan penuh tangisan.
Beberapa detik kemudian, mau tidak mau Xyan pun harus membantu Shanika dan sebelum membantu wanita itu, Xyan berusaha untuk menenangkan Shanika agar berhenti menangis “Tenanglah, aku akan membantumu… jangan menangis,” pinta Xyan sambil duduk dipinggir tempat tidurnya dan menghadap kepada Shanika sambil memegangi
kedua pundak Shanika.
Shanika pun menganggukkan kepalanya sambil berusaha mengendalikan emosinya dan pada saat Shanika sudah mulai terlihat lebih tenang, Xyan kembali berkata “Sekarang… kamu harus ingat! Kalau apa yang akan aku lakukan saat ini adalah permintaanmu. Jadi, besok jangan menyesalinya,” ucap Xyan sambil menatap langsung kedua bola
mata Shanika dengan sangat intens.
“Te-tentu saja,” jawab Shanika dengan suara yang bergetar lagi, saat rasa panas ditubuhnya kembali menyerangnya.
Beberapa menit kemudian, Shanika yang sudah sangat terengah-engah mulai mencapai puncaknya saat tiba-tiba Xyan mempercepat gerakkan tangannya “Xyan,” panggil Shanika dengan suara yang lembut sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa semakin kacau tidak karuan, karena suara hingga nafas Shanika yang terus menghantui telinganya.
***
Sekitar lima menit kemudian, saat kondisi Shanika sudah sangat membaik saat itu juga Xyan melihat Shanika tertidur dengan sangat pulas di atas tempat tidurnya dan tanpa banyak berpikir lagi, Xyan segera bergegas pergi ke dalam kamar mandinya untuk mencuci kedua tangannya.
Dengan perasaannya yang sangat kacau, Xyan pun menatap dirinya sendiri pada cermin sambil bergumam “Sekarang aku yang merasa tidak baik-baik saja. Sial!” sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
__ADS_1
“Hah… Shanika, lain kali aku akan meminta pertanggung jawabanmu!” sambung Xyan sambil mengelap kedua tangannya secara bergantian menggunakan handuk kering.
Setelah selesai merapikan dirinya di dalam kamar mandi, Xyan pun bergegas untuk memeriksa kondisi Shanika lagi dan menutupi tubuh Shanika menggunakan selimut dengan penuh perhatian, hingga beberapa detik kemudian Xyan merasakan hembusan angin yang cukup kencang dari jendela kamarnya.
Yang saat itu juga membuat Xyan segera mengambil jaketnya, setelah itu keluar dari dalam Apartementnya untuk pergi ke rooftop Apartementnya yang sepi dan sesampainya Xyan di rooftop ia bertemu dengan hantu wanita bermata merah yang sedang berdiri di ujung gedung seakan sedang menunggunya.
“Wanita itu seharusnya mendengarkan perkataanku,” ucap hantu wanita bermata merah itu kepada Xyan.
Dan dengan santainya Xyan bertanya “Kamu tahu siapa pelakunya, kan?” sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket tebal yang saat ini ia gunakan.
“Aku sudah tidak bisa melakukan apapun karena wanita bodoh itu!” jawab hantu wanita bermata merah dengan tatapan marahnya kepada Xyan.
“Ya, aku tahu! Lagipula, manusia mana yang mau membantu hantu jahat sepertimu?” balas Xyan dengan wajah datarnya, yang seketika itu juga membuat hantu wanita dihadapannya terdiam dan mengalihkan pandangan matanya.
Beberapa detik kemudian, Xyan yang masih memikirkan kondisi Shanika itu pun kembali berkata “Setelah ini Shanika pasti akan merasa sangat ketakutan… dan mengingat pelakunya yang masih sehat, benar-benar membuatku kesal!” ucap Xyan dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.
“Kenapa Iblis sepertimu sangat peduli kepada wanita itu?” tanya hantu wanita bermata merah dengan reflek dan dengan cepat juga Xyan jawab “Karena dia adalah pengantinku,” dengan senyuman tipis dan tatapan tajamnya.
“A-apa?” kaget hantu wanita bermata merah itu, yang seketika itu juga merasa ketakutan karena sebelumnya dia sempat berbuat salah kepada Shanika “Ternyata keberanian dan rasa percaya dirinya berasal darimu,” sambung hantu wanita bermata merah lagi sambil melangkah mundur.
Sedangkan Xyan yang melihat reaksi takut dari hantu dihadapannya itu pun langsung mengangkat tangan kanannya sambil berkata “Tenanglah, aku menemuimu bukan untuk menakut-nakutimu! Tapi, aku disini untuk memanfaatkanmu,” ucap Xyan dengan penuh percaya diri.
“Apa maksudmu?” tanya hantu wanita itu dengan ekspresi bingungnya.
__ADS_1
“Daripada meminta bantuan manusia, bukannya lebih baik jika bekerja sama dengan Iblis sepertiku?” sambung Xyan sambil menunjukkan senyuman menyeringainya.
“Apa yang kamu inginkan dariku?” balas hantu wanita bermata merah itu dengan perasaan tertarik, saat tahu kalau Xyan ingin membantunya untuk membalaskan dendamnya.