
***
Sekitar dua jam kemudian, karena Shanika tidak membolos dari semua mata kuliahnya hari ini akhirnya Shanika baru bisa keluar dari dalam salah satu kelas dengan perasaan leganya dan tanpa lama-lama lagi langsung bergegas untuk pulang.
Beberapa detik, tepat sebelum Shanika sampai di pinggir jalan untuk mencari mobil taksi, ada beberapa hantu yang mengikuti Shanika. Tapi, tiba-tiba semua hantu yang mengikuti Shanika itu melarikan diri dan membuat Shanika kebingungan.
“Hm? Ada apa dengan mereka semua?” gumam Shanika sambil menolehkan kepalanya ke belakang dengan ekspresi bingungnya.
Tapi, tidak lama kemudian Shanika pun mengetahui alasan dari para hantu yang mengikutinya langsung melarikan diri. Hal itu karena datangnya Xyan “Shanika!” panggil Xyan saat ia sudah melihat Shanika dari kejauhan, sambil melambaikan tangan kanannya.
“Ah, pantas saja!” gumam Shanika dengan senyuman tipisnya, setelah itu ia langsung bergegas mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri Xyan yang sedang menunggunya dengan mobil mewahnya.
“Gavin mana?” tanya Shanika dengan reflek saat ia sudah berada tepat dihadapan Xyan “Aku menyuruhnya langsung pulang. Memangnya kamu berharap dia akan terus berada di sekitar kita berdua?” balas Xyan dengan wajah cemberutnya, yang terlihat cukup manis di mata Shanika saat ini.
Dengan salah tingkat, Shanika pun berkata “Bu-bukan begitu maksudku,” sambil mengusap lehernya dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan.
Beberapa detik kemudian, Xyan yang memperhatikan wajah Shanika dengan reflek kembali berkata “Apa kamu sakit? wajahmu terlihat pucat,” sambil memegang dagu Shanika dengan lembut menggunakan tangan kanannya.
Yang seketika itu juga membuat Shanika kebingungan “Wajahku pucat?” sambil mengusap wajahnya sendiri dengan sekilas.
“Apa kamu habis bertemu dengan roh jahat… atau Iblis?” tanya Xyan lagi dengan tatapan khawatirnya yang sangat lekat kepada Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika menggelengkan kepalanya dan menjawab “Aku hanya bicara sebentar dengan beberapa hantu biasa,” dengan wajah polosnya.
Dan tiba-tiba Shanika kembali teringat pertemuannya dengan Karis sang Malaikat Maut “Ah… pasti karena dia! Sejak bertemu dengannya, dadaku terasa sesak dan energi menjadi sangat lemah!” sambung Shanika yang seketika itu juga membuat Xyan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Siapa? Jangan bilang… Karis?” balas Xyan dengan tatapan tajamnya, yang mau tidak mau membuat Shanika mengangguk dan menjadi waspada kalau tiba-tiba Xyan memarahinya.
Xyan yang melihat anggukkan kepala Shanika, saat itu juga langsung mengalihkan pandangannya dari wajah polos Shanika dan menghela nafasnya secara kasar sambil bertolak pinggang “Hah! Sial!” gerutunya dengan ekspresi kesalnya.
“Padahal aku menyuruhnya untuk berusaha mengingatnya sendiri! Kenapa dia malah menemuimu dan membuatmu sakit? padahal kamu juga tidak bisa melakukan apapun untuknya!” gerutu Xyan lagi dengan panjang lebar dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika memutar perkataan Xyan di dalam otaknya.
“Tunggu-tunggu!” ucap Shanika dengan reflek, yang saat itu juga membuat Xyan berhenti bicara sendiri “Kenapa?” tanya Xyan dengan tatapan bingungnya.
“Aku tidak mengerti! Kenapa kamu membuat Malaikat Maut itu mengingat memori buruk semasa hidupnya? Sekarang, dia menjadi sangat kacau!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang agak meninggi dan mengeras kepada Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak.
“Selain itu… kata siapa aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya? Justru karena aku bisa membantunya walau sedikit… sekarang aku jadi pucat begini,” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang semakin memelan, sambil mengusap wajahnya yang pucat lagi dengan kedua tangannya.
Xyan yang mendengar perkataan panjang lebar dari mulut Shanika itu pun langsung terdiam selama beberapa detik dan dengan tatapan bingungnya kembali mengajukan pertanyaan “Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Xyan dengan suara yang lebih pelan dan lembut dari sebelumnya.
“A-apa?” gumam Xyan dengan ekspresi tidak percayanya.
“Sepertinya mata pengantin Iblis ini benar-benar memiliki kekuatan! Tapi, aku tidak tahu cara mengendalikannya,” sambung Shanika sambil menunjuk bola matanya dihadapan Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan teringat dengan perkataan Ibunya kalau matanya sangatlah berharga.
Xyan pun langsung menghela nafasnya lagi dan kembali berkata “Entahlah, hanya Ibu dan Ayahku yang tahu soal hal itu. Karena selama ini, manusia yang memiliki mata itu pasti melakukan bunuh diri, tanpa pernah memiliki perasaan senang sedikit pun seperti dirimu,” ucap Xyan dengan wajah dan nada bicaranya yang serius.
“Jadi, hanya aku yang punya kasus berbeda seperti ini?” gumam Shanika dengan perasaan yang campur aduk, setelah ia mendengar perkataan Xyan yang sangat serius barusan.
Karena wajah Shanika terlihat semakin pucat, tanpa banyak bicara dan berlama-lama lagi Xyan pun segera meminta Shanika untuk masuk ke dalam mobilnya dan bergegas untuk pulang ke Apartement mereka.
__ADS_1
Hingga sekitar lima belas kemudian, sesampainya di depan pintu Apartement dengan wajah serius Xyan meminta kepada Shanika untuk segera istirahat tanpa melakukan hal apapun dan dengan reflek Shanika berkata “Aku mengerti… Tapi, aku ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan,” dengan wajah polosnya.
“Kerjakan besok saja!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang tegas “Ya, baik!” jawab Shanika dengan penuh patuh kepada Xyan yang masih terlihat sangat serius.
Setelah itu, Xyan pun segera membalik tubuhnya dan melangkah pergi dari hadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa bingung dan cukup penasaran dengan apa yang sedang Xyan pikirkan saat ini.
“Hm? Dia mau pergi kemana?” gumam Shanika saat pintu lift yang dimasuki oleh Xyan sudah tertutup rapat.
***
Di sisi lain, Xyan yang baru saja meninggalkan Shanika di depan pintu Apartemennya sendiri. Saat sudah seorang diri di dalam lift, Xyan langsung menekan tombol lift yang mengarah ke lantai paling atas Apartement dan sesampainya di lantai paling atas, Xyan melanjutkan langkah kakinya untuk menaiki tangga menuju Rooftop gedung Apartemennya.
Sesampainya di Rooftop, dapat dengan jelas Xyan melihat pria berpakaian serba hitam sedang menatap langit sore yang semakin gelap “Seharusnya kamu tidak memanfaatkan Shanika. Dia itu hanya manusia biasa,” ucap Xyan sambil berjalan mendekati pria yang bukan lain adalah Karis.
“Manusia yang memiliki mata Iblis… aku terpaksa meminta bantuannya, karena aku tidak sanggup mengingatnya sendiri,” balas Karis sambil menolehkan kepalanya ke arah Xyan dan membalas tatapan mata Xyan dengan tajam.
Tanpa perasaan takut sedikit pun, Xyan pun segera mengangkat tangan kirinya dan mengeluarkan asap hitam dari telapak tangannya itu, hingga asap hitam itu berubah menjadi sebuah belati tajam “Tapi, sekarang kamu sudah mengingatnya, kan?” tanya Xyan sambil menggenggam belati tajam dengan erat.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?” balas Karis yang juga mengajukan pertanyaan.
“Balas dendam. Aku ingin kamu membalaskan dendammu kepadanya,” jawab Xyan sambil memberikan belati tajam yang ada di tangan kirinya itu kepada Karis, yang seketika itu juga membuat Karis terdiam dan langsung memegang belati tajam pemberian Xyan dengan kedua tangannya.
Dengan senyuman menyeringainya, Xyan pun melangkah mundur dari hadapan Karis sambil kembali berkata “Tenang saja, aku tidak akan memaksamu… karena mulai detik ini, terserah kamu mau mencintainya lagi atau membunuhnya,” yang seketika itu juga membuat Karis merasa tertekan pada dirinya sendiri.
__ADS_1