
Dan sekitar dua puluh menit kemudian akhirnya Shanika sampai di depan gedung Apartementnya, setelah itu ia segera keluar dari dalam mobil yang dikendarai oleh Gavin itu.
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Shanika saat Gavin ikut keluar dari dalam mobil juga dan menatap dirinya.
“Sama-sama, Nona. Tapi… Apa anda sakit? Kenapa tiba-tiba wajah anda terlihat pucat?” tanya Gavin yang seketika itu juga membuat Shanika segera mengusap wajahnya sendiri “Wajahku pucat?” gumam Shanika dengan perasaan bingungnya juga.
“Sepertinya anda sedang banyak pikiran. Apa kuliah sangat menguras pikiran ya?” tanya Gavin lagi dengan wajah polosnya, yang saat itu juga membuat Shanika memasang senyuman tipisnya dan kembali berkata “Sudah, tidak perlu khawatir! Aku masuk ya,” dengan nada bicaranya yang sangat ramah kepada Gavin.
Gavin yang melihat Shanika melangkah pergi pun hanya bisa menundukkan kepalanya dengan penuh sopan santun, setelah itu bergumam “Haruskah aku memberitahu tuan mengenai kondisinya?” dengan tatapan lekatnya kepada Shanika yang sudah berjalan memasuki gedung Apartementnya.
Sedangkan Shanika yang terus berjalan hingga sampai di depan pintu lift, saat itu juga berpikir kalau dirinya sudah terlalu berlebihan dalam memikirkan Nadine sampai-sampai wajahnya terlihat pucat dan kepalanya terasa sakit.
Tidak lama kemudian Shanika pun memasuki lift dan sampai di lantai Apartementnya. Tapi, sesampainya di depan pintu Apartement, saat itu juga Shanika dikejutkan dengan kemunculan sosok wanita yang sedang berdiri di ujung lorong dan sosok itu adalah hantu wanita yang selalu mengikuti Elvan.
Saat ini sosok hantu wanita itu terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, karena itu Shanika tidak terlalu takut saat melihatnya “Ah, apa-apaan ini? Xyan bilang, hantu ini tidak akan datang menemuiku lagi!” gerutu Shanika sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Sosok hantu wanita yang mendengar suara Shanika itu pun mulai mendekati Shanika secara perlahan, yang seketika itu juga membuat Shanika kembali berkata “Berhenti! Bicara dari sana saja!” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang tegas, sambil menunjukkan telapak tangannya kepada hantu wanita itu.
Dan sesuai perkataan Shanika, hantu wanita itu berhenti mendekat dan mulai menatap Shanika dengan mata normalnya, sambil berkata “Aku tahu kamu tidak mau membantuku membunuhnya. Tapi, aku mohon… bantulah aku agar tetap bisa berada di dekatnya,” pinta hantu wanita itu dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
“Apa katamu?” balas Shanika sambil mengerutkan dahinya “Apa bedanya? Itu sama saja, aku membantumu untuk mencelakai manusia!” sambung Shanika sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan tangan kanannya.
“Kamu tidak mengerti… apa yang sedang aku coba lakukan,” kata hantu wanita itu sambil berusaha menahan perasaan sedihnya.
Shanika yang sama sekali tidak ingin berurusan dengan hantu wanita itu ataupun Elvan, detik itu juga menghela nafasnya dengan kasar dan kembali berkata “Walaupun wujudmu saat ini tidak menyeramkan, kamu tetap lah hantu pendendam. Lebih baik aku temui Xyan saja,” ucap Shanika sambil membalik tubuhnya dan segera melangkah pergi mendekati pintu lift.
Hantu wanita yang melihat Shanika akan menekan tombol lift itu pun segera menghadang dan berusaha menarik tangan Shanika. Tapi, saat hantu wanita itu berhasil menyentuh Shanika, saat itu juga ia merasa sangat kesakitan “Akh!” karena perlindungan dari benang putih dipergelangan tangan Shanika.
Sedangkan Shanika yang melihat hantu wanita itu kesakitan langsung terkejut dan melangkah mundur sambil berkata “Kamu baik-baik saja?!” dengan kedua bola matanya yang melebar.
“Ugh! Sudah aku duga… Manusia setengah Iblis itu memberikan banyak perlindungan hanya untukmu!” ucap hantu wanita itu sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang masih terasa sakit.
“Kalau sudah tahu, kenapa kamu tetap datang menemuiku?!” keluh Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi.
Karena Shanika tidak bicara lagi, dengan cepat hantu wanita itu kembali berkata “Apa kamu tahu, betapa sulitnya aku untuk bisa menerobos masuk ke sini? Jadi, aku mohon… jangan biarkan usahaku sia-sia!” pintanya lagi dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar kepada Shanika.
“Tidak! Aku tidak bisa membantumu, sekarang pergilah!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang sangat tegas, walaupun sebenarnya Shanika merasa sedikit takut kepada hantu wanita dihadapannya itu yang kapan saja bisa menyerang dan menahan jiwanya seperti kemarin malam.
Tanpa mau banyak bicara lagi, Shanika segera melangkah pergi ke depan pintu Apartementnya lagi dan mulai menekan nomor sandinya dengan cepat. Tapi, sebelum Shanika berhasil memasuki Apartementnya, lagi-lagi hantu wanita itu berkata “Hanya aku yang bisa menggagalkan rencana busuknya,” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius.
__ADS_1
“Berhenti bicara, aku tidak akan membantumu,” balas Shanika dengan ekspresi tidak pedulinya, sambil membuka pintu Apartement yang ada dihadapannya.
“Jika kamu tidak membantuku untuk tetap berada di dekatnya… berikutnya akan ada lagi korban sepertiku!” sambung hantu wanita itu, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan teringat dengan teman dekatnya Nadine.
“A-apa maksudmu?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya sambil menolehkan kepalanya ke belakang dan membalas tatapan hantu wanita itu.
“Wanita yang menyukainya akan berada dalam bahaya,” jawab hantu wanita itu dengan wajah sedihnya.
Dan tepat pada saat Shanika ingin mengajukan pertanyaannya lagi, saat itu juga hantu wanita dihadapan Shanika berubah menjadi transparan “Tu-tunggu! Ada apa denganmu?!” tanya Shanika dengan wajah paniknya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini,” jawab hantu wanita itu yang secara perlahan mulai menghilang dari pandangan Shanika.
Shanika yang saat ini sangat mengkhawatirkan Nadine, merasa sangat frustasi karena hantu wanita dihadapannya itu tiba-tiba menghilang “Apa maksudnya? Kenapa wanita yang menyukai Kak Elvan akan berada dalam bahaya?” pikir Shanika dengan wajah paniknya.
Hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba Shanika mendengar suara pintu lift yang terbuka dan disusul juga dengan suara Xyan, yang memanggil namanya “Shanika! Kamu baik-baik saja kan?” tanya Xyan sambil berjalan mendekati Shanika yang masih fokus pada pikirannya sendiri.
“Ya?!” kaget Shanika saat tiba-tiba Xyan memegang pundaknya “Ah… jadi, karena ada Xyan. Hantu itu tidak bisa berlama-lama di sini,” pikir Shanika lagi saat ia melihat wajah Xyan.
“Barusan, ada bagian pelindung di gedung ini yang rusak. Hantu pendendam itu pasti muncul dihadapanmu lagi, kan?” tanya Xyan sambil terus memastikan kalau kondisi Shanika baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi, karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Shanika. Xyan yang melihat Shanika melamun dengan wajah pucatnya itu pun segera meletakkan telapak tangannya pada dahi Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika membalas tatapan matanya yang lekat.
“Apa yang terjadi? Kamu terlihat… sangat kacau,” tanya Xyan dengan perasaan khawatirnya, yang lagi-lagi membuat Shanika berdebar-debar dan merasa suhu tubuh disekitarnya memanas.