
***
Di sisi lain, Xyan dan semua anak buahnya yang baru saja sampai di salah satu rumah tidak berpenghuni di sebuah tempat terpencil, tanpa berlama-lama lagi langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan melihat semua abu hitam milik Burung Gagak (Clay) terbang memasuki rumah tua yang berada tepat dihadapan Xyan saat ini.
“Mereka di dalam,” gumam Xyan dengan ekspresi seriusnya.
Setelah itu Xyan pun bergegas melanjutkan langkah kakinya sambil berkata “Kalian semua, tunggu di luar saja!” dengan nada bicaranya yang sangat tegas, yang seketika itu juga membuat Gavin tersentak dan segera menahan Xyan.
“Tuan mau masuk ke dalam seorang diri saja?” tanya Gavin dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan, yang dengan reflek langsung dijawab oleh Xyan dengan mengatakan “Terlalu berbahaya kalau kalian semua ikut masuk, tunggu di sini!” dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan disetiap katanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Xyan kembali melanjutkan langkah kakinya untuk melewati Gavin yang masih menatapnya dengan tatapan khawatir. Sedangkan anak buah Xyan yang lain, detik itu juga langsung berjalan mendekati Gavin dan berkata “Apa tidak masalah membiarkan Tuan masuk sendiri?” dengan perasaan tidak nyamannya.
“Bukannya kamu bilang kekuatan Iblis Tuan sudah semakin menipis?” tanya anak buah Xyan yang lainnya lagi kepada Gavin, yang seketika itu juga membuat Gavin merasa semakin kacau dan kebingungan “Ah! Yang benar saja,” gerutu Gavin dengan reflek sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.
***
Sekitar beberapa detik kemudian, Xyan yang sudah masuk ke dalam rumah tanpa penghuni yang menyeramkan itu langsung bergegas menaiki tangga tuanya untuk mencari keberadaan Shanika, dengan penuh waspada.
Sampai akhirnya ia berada tepat di depan salah satu pintu ruangan dan mendengar suara wanita yang mengatakan “Mati… lebih baik mati,” dengan nada bicaranya yang meracau tidak jelas.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir lagi, Xyan pun segera membuka pintu dihadapannya itu dan sesuai dugaanya, suara wanita yang sebelumnya ia dengar adalah suara Shanika yang sedang berdiri diam menghadap keluar jendela “Shanika?” panggil Xyan sambil berjalan mendekati Shanika dengan perlahan-lahan.
Tapi, bukannya menjawab panggilan Xyan, Shanika terus bicara meracau sendiri “Mati saja… mati akan jauh lebih baik,” seakan sedang kehilangan akal sehatnya. Yang seketika itu juga membuat Xyan kebingungan dan dengan cepat langsung menarik pundak Shanika, yang saat ini matanya masih tertutup dengan kain.
“Shanika? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Xyan sambil berusaha menggapai kain yang menutupi mata Shanika. Tapi, tepat sebelum Xyan berhasil meraih kain penutup mata Shanika, detik itu juga dengan tiba-tiba Shanika mengeluarkan benda tajam seperti belati dan “Srak!” berusaha melukai Xyan.
Xyan yang memiliki reflek cepat, saat itu juga langsung melangkah mundur menghindari serangan Shanika “Sha-shanika? Ada apa denganmu?!” kaget Xyan saat ia menyadari kalau Shanika sedang menggenggam erat benda tajam di tangan kanannya.
“Mati… atau aku bunuh!” ucap Shanika sambil berlari mengangkat belati di tangan kananya, seakan ingin menyerang Xyan dengan benda tajam itu.
Dengan cepat lagi, Xyan berhasil menghindar. Tapi, karena wanita yang menyerangnya adalah Shanika, ia benar-benar merasa kebingungan sekaligus juga khawatir kalau-kalau Shanika akan melukai dirinya sendiri “Sial!” ucap Xyan dengan ekspresi serius dan penuh waspada.
“Shanika seperti ini pasti, karena pengaruh racun ular!” pikir Xyan yang dengan serius langsung memutar otaknya.
Saat Shanika kembali menyerang Xyan dengan lebih brutal dari sebelumnya, secara terus menerus Xyan berusaha untuk menyadarkan Shanika dan berkata “Kendalikan dirimu! Jangan mau dikendalikan Iblis ular itu, Shanika!” pinta Xyan dengan suaranya yang semakin mengeras.
Tapi, karena Shanika terus berusaha menyerangnya tanpa memperdulikan perkataannya, pada akhirnya Xyan menyerah dan berdiam diri untuk menerima serangan Shanika “Sruk!!” yang seketika itu juga membuat benda tajam di genggaman tangan Shanika tertancap tepat di dada sebelah kiri Xyan “Ukh!” keluh Xyan.
“Shanika,” panggil Xyan sambil menggapai wajah Shanika “Sadarlah… aku mohon,” pinta Xyan lagi, yang seketika itu juga membuat Shanika menarik dan menancapkan benda tajam itu ke dadanya lagi, dengan lebih kasar daripada sebelumnya, sampai membuat Xyan merasa cukup kesakitan.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, saat darah ditubuh Xyan mengalir dan sedikit mengenai tangan Shanika yang masih menggenggam benda tajam itu, tiba-tiba Shanika tersadar dari pencucian otak sang Iblis ular dan dengan perasaan takutnya Shanika berkata “Xy… Xyan? Apa yang terjadi?” dengan suara yang sangat bergetar.
“A-aku melukaimu?!” panik Shanika saat ia mendengar suara nafas Xyan yang seperti menahan rasa sakit dan merasakan benda tajam yang saat ini masih ia genggam “A… bagaimana ini?!” panik Shanika seakan ingin menangis, walaupun dia tidak melihat apapun yang ada dihadapannya saat ini.
“Tenanglah, aku baik-baik saja,” balas Xyan yang tetap berusaha untuk tegar dihadapan Shanika dan tanpa berlama-lama lagi, Xyan segera melepas dan melempar benda tajam yang sempat tertancap ditubuhnya ke sembarang arah “Ah, sial sekali,” gumam Xyan saat melihat ada banyak darah yang keluar dari lukanya.
“Xyan… hiks!” tangis Shanika sambil berusaha menjauhi Xyan yang sempat ia lukai.
Sedangkan Xyan yang melihat reaksi panik sekaligus takut dari Shanika, detik itu juga berusaha mendekati Shanika lagi dan melepaskan kain penutup mata Shanika dengan kedua tangannya yang berlumuran darah “Tidak ada… Mata Pengantin Iblis sudah tidak ada di mata Shanika,” batin Xyan dengan ekspresi kagetnya.
“Zoya… apa yang sudah dia lakukan?!” batin Xyan lagi dengan perasaan marahnya.
“Aku… tidak bisa melihat apapun? Ma-mataku?!” panik Shanika saat ia baru sadar kalau saat ini ia tidak bisa melihat apapun lagi, karena Mata Pengantin Iblis yang selama ini membantunya melihat sudah tidak ada padanya.
“Shanika, tenanglah!” pinta Xyan saat melihat Shanika panik dan merasa sangat ketakutan sambil memegangi kedua pundak Shanika dengan erat.
Shanika yang mendengar perkataan Xyan, detik itu juga dengan reflek berteriak “Bagaimana bisa tenang kalau duniaku akan menjadi gelap selamanya?! Hiks!” sambil menangis dihadapan Xyan dengan rasa sesak yang sangat dalam.
“Aku akan menolongmu!” balas Xyan dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak “A-apa katamu?” tanya Shanika dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
“Aku akan membantumu kembali melihat,” ucap Xyan lagi sambil menggapai wajah Shanika dengan kedua tangannya dan menatap mata Shanika yang tidak bisa melihat apapun itu dengan sangat lekat, sambil berbatin “Walaupun harus mengorbankan diriku… aku akan menyelamatkanmu, Shanika!” yang saat itu juga, membuat sisa-sisa energi pemulihan Xyan yang mengalir secara perlahan ke dalam mata Shanika.