
***
Keesokan harinya, dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari hari kemarin Shanika pun mulai melangkahkan kakinya dengan wajah cerianya untuk keluar dari dalam Apartementnya dan menunggu sampai pintu lift yang ada dihadapannya sampai terbuka.
Hingga beberapa detik kemudian, tepat pada saat pintu lift terbuka saat itu juga ia berpapasan dengan Xyan “Oh, Pagi!” sapa Shanika sambil mengangkat tangan kanannya.
Tapi, bukannya membalas sapaan Shanika, detik itu juga Xyan melirikkan tatapan tajamnya kepada Shanika yang seketika itu juga membuat Shanika kebingungan dan segera menurunkan tangan kanannya sambil melangkah masuk ke dalam lift.
Shanika yang masih kebingungan dan penasaran dengan arti dari lirikkan tajam Xyan itu pun kembali memberanikan dirinya untuk menolehkan kepalanya ke arah Xyan yang saat ini berdiri di sampingnya, sambil bertanya “Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?” tanya Shanika dengan perasaan ragunnya.
“Tidak,” balas Xyan singkat dengan wajah datarnya.
“Lalu kenapa tatapanmu seperti itu kepadaku?” tanya Shanika lagi sambil menunjuk wajah Xyan dengan jari telunjuknya.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun kembali melirikkan matanya kepada Shanika sambil berkata “Memangnya tatapanku kenapa?” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat santai.
“Tatapanmu tajam sekali! Kamu tidak sadar?!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi, yang seketika itu juga membuat Xyan kembali mengalihkan pandangan matanya dari Shanika.
“Aku hanya sedang banyak pikiran saja,” ucap Xyan setelah ia menghela nafas panjangnya yang entah kenapa terasa sangat berat.
Shanika pun menganggukkan kepalanya dan berpikir kalau semua makhluk di dunia pasti memiliki masalahnya masing-masing, jadi ia berusaha untuk memaklumi sikap Xyan dengan sebaik mungkin. Hingga beberapa detik kemudian Xyan kembali berkata “Oya, aku juga baru ingat,” yang lagi-lagi membuat Shanika menolehkan
kepalanya.
__ADS_1
“Seharusnya aku menegurmu soal ini kemarin. Tapi, karena fokusku teralihkan,” sambung Xyan yang membuat Shanika merasa tidak sabar “Apa? Ada apa? Kamu menegurku soal apa?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang mengeras dan tatapan matanya yang terlihat tidak nyaman.
“Kemarin kamu bolos kuliah lagi, kan?” tanya Xyan dengan reflek sambil membalas tatapan mata Shanika dengan sangat lekat, yang seketika itu juga berhasil membuat Shanika tersentak dan terdiam.
“Hanya karena pria hina itu kamu bolos kuliah! Yang benar saja, seharusnya kamu lebih mementingkan masa depanmu,” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan disetiap kata yang ia ucapkan.
Shanika yang mendengar dan memperhatikan ekspresi Xyan itu pun segera menyipitkan matanya dan kembali berkata “Lihat! Kamu benar-benar sudah seperti Ayahku,” dengan nada bicaranya yang terdengar seperti sedang meledek Xyan.
“A-apa katamu?” kaget Xyan yang lagi-lagi merasakan krisis identitas.
“Jangan khawatir, aku akan lulus tepat waktu!” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang santai dan tepat pada saat pintu lift dihadapannya terbuka.
Tanpa banyak bicara lagi, Shanika segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam lift sambil menyapa beberapa orang yang ia temui di lobi Apartement. Sedangkan Xyan yang merasa kalau ia masih belum selesai bicara, detik itu juga mengikuti langkah kaki Shanika dengan cepat sambil berkata “Bagaimana dengan hari ini? kamu tidak akan bolos lagi, kan?” tanya Xyan dengan sangat tegas.
“Hari ini memang tidak ada kelas. Jadi, aku tidak bolos!” jawab Shanika dengan senyuman palsunya yang sengaja ia tunjukkan kepada Xyan yang cerewet.
“Hah, yang benar saja! Tanpa aku bicara, kamu pasti akan segera tahu, kan?” balas Shanika yang berusaha menyembunyikan aktivitasnya dari Xyan.
“Baiklah, tidak perlu memberitahuku,” ucap Xyan lagi, sambil melanjutkan langkah kakinya dengan lebih cepat untuk pergi mendekati anak buahnya yaitu Gavin yang sejak tadi sudah menunggunya di dekat mobil mewahnya.
Sedangkan Shanika yang melihat kepergian Xyan itu pun langsung melipat kedua tangannya di depan dada dan bergumam “Semakin hari ia semakin protektif saja. Huh… aku hampir saja salah paham kalau dia menyukaiku! Bahaya sekali,” sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha menetralkan perasaannya yang semakin
berkembang kepada Xyan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Shanika pun memanggil taksi dan segera bergegas untuk pergi ke tempat tujuannya untuk bertemu dan bersenang-senang bersama kedua orang tuanya dihari liburnya.
Sekitar lima belas kemudian, Shanika yang sudah lebih dulu sampai di taman untuk berpiknik tiba-tiba melihat mobil milik Ayahnya dari kejauhan dan tepat pada saat Shanika melambaikan tangannya, saat itu juga ada truk besar yang menghantam mobil Ayahnya “Brak!” hingga semua orang yang melihat kejadian itu menjerit histeris.
“A-ayah… Ibu?!” panik Shanika yang saat itu juga langsung berlari untuk menolong kedua orang tuanya “Tidak-tidak!” ucap Shanika dengan berlinangan air mata.
***
Hari yang seharusnya Shanika habiskan dengan penuh kebahagiaan di taman tiba-tiba berubah menjadi hari yang penuh kesedihan di rumah sakit dan tidak lama kemudian, ia mendengar kabar dari seorang perawat kalau Ayahnya sudah kembali sadar yang seketika itu juga membuat Shanika kembali berlari dan segera menemui Ayahnya yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.
“Hiks! Ayah!” tangis Shanika dengan kedua kakinya yang terasa sangat lemas, saat ia melihat kondisi tubuhnya yang penuh dengan luka dan juga perban disekitar kakinya.
“Ayah baik-baik saja, jangan menangis.” Pinta Ayahnya Shanika sambil menggenggam tangan kanan Shanika dengan lemah.
Dengan sekuat tenaga Shanika berusaha menahan tangisannya dihadapan Ayahnya, hingga beberapa detik kemudian saat Ayahnya bertanya mengenai kondisi Ibunya, dengan reflek Shanika kembali menangis sambil berkata “I-ibu… Ibu masih diruang operasi… Hiks!” yang seketika itu juga membuat Ayahnya tersentak dan merasa
bersalah.
Tapi, sebagai seorang Ayah. Detik itu juga, Ayahnya Shanika berusaha untuk tetap tegar dan dengan sekuat tenaga ia kembali berkata “Tenanglah, Ibumu akan baik-baik saja,” dengan nada bicaranya yang sangat lembut kepada Shanika.
Sekitar lima menit kemudian, saat Ayahnya Shanika harus mendapatkan pemeriksaan oleh dokter, saat itu juga Shanika mendengar kabar kalau operasi Ibunya sudah selesai. Shanika yang merasa senang, tanpa banyak berpikir lagi segera bergegas untuk menemui Ibunya.
Tapi, betapa kagetnya Shanika karena pada saat ia akan memasuki kamar rawat Ibunya, saat itu juga Ia melihat arwah Ibunya sendiri yang sedang duduk di bangku tunggu dengan wajah sedihnya “I-ibu?” gumam Shanika yang seketika itu juga membuat arwah Ibunya menolehkan kepalanya dan bertatapan langsung dengan Shanika.
__ADS_1
“Shanika? Bagaimana bisa… kamu melihat Ibu?” tanya Ibunya Shanika dengan ekspresi bingung sekaligus kaget sambil bangkit dari duduknya dan terus menatap Shanika dengan kedua bola matanya yang semakin melebar.
“Tidak,” gumam Shanika lagi dengan perasaannya yang kacau.