
***
Di sisi lain, saat waktu sudah berlalu sekitar dua puluh menit, akhirnya Shanika sampai di depan gedung Apartementnya dan tanpa berlama-lama lagi di dalam mobil taksi, ia segera membayar dan melangkah keluar dari dalam mobil taksi yang ia tumpangi.
Setelah itu Shanika pun menolehkan kepalanya dan secara kebetulan, detik itu juga ia melihat anak buah Xyan yaitu Gavin sedang berjalan keluar dari dalam gedung Apartementnya seorang diri.
“Gavin!” panggil Shanika sambil berjalan dengan cepat untuk mendekati Gavin.
Gavin yang mendengar suara Shanika itu pun langsung menolehkan kepalanya juga dan memasang senyuman ramahnya sambil berkata “Oh, Nona! Baru saja saya ingin menjemput anda,” dengan nada bicaranya yang penuh semangat kepada Shanika yang saat ini sudah berdiri dihadapannya.
“Haha, kamu tidak perlu sering-sering menjemputku!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit canggung.
Beberapa detik kemudian, Gavin yang memperhatikan wajah Shanika pun tersadar kalau wajah Shanika terlihat pucat. Tapi, tepat sebelum Gavin menanyakan kondisi Shanika, tiba-tiba Shanika melanjutkan perkataannya “Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,” dengan ekspresi seriusnya.
“Ya? Tanyakan saja, Nona.” Balas Gavin sambil terus memasang senyuman ramahnya. “Apa salah satu Iblis berwujud hewan yang berhasil kabur, ada yang berwujud ular?” tanya Shanika dengan tatapan lekatnya kepada Gavin, yang seketika itu juga membuat Gavin berusaha untuk mengingat selama beberapa detik dihadapan Shanika.
Dengan sadar Shanika menunggu jawaban dari Gavin, hingga tidak lama kemudian Gavin berkata “Seingat saya, memang ada satu Iblis ular yang berhasil kabur. Bahkan Iblis ular itu adalah Iblis yang paling licik diantara iblis hewan lainnya, karena itu Tuan sampai marah besar!” ucap Gavin panjang lebar kepada Shanika.
Shanika yang mendengarkan perkataan Gavin itu pun langsung terdiam dan ia berpikir kalau saat ini, ia benar-benar berada dalam bahaya. Sedangkan Gavin yang baru saja selesai bicara langsung menatap wajah Shanika lagi dengan lekat, sambil bertanya “Tapi, kenapa tiba-tiba Nona menanyakan hal itu?” dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
“Hm, tidak. Aku hanya asal tanya saja,” jawab Shanika dengan reflek sambil berusaha menunjukkan senyuman terbaiknya dihadapan Gavin.
Gavin yang meragukan jawaban Shanika, detik itu juga langsung terdiam dan menyipitkan matanya. Tapi, karena ia tidak ingin memaksa Shanika untuk bercerita, detik itu juga Gavin menghela nafasnya dan kembali bertanya “Apa Nona sudah makan? Saat ini wajah Nona terlihat sangat pucat. Apa Nona sedang tidak enak badan?” dengan nada bicaranya yang melembut dan jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya kurang istirahat-“ belum selesai Shanika bicara, detik itu juga tiba-tiba Shanika jatuh pingsan dihadapan Gavin dan membuat Gavin panik “Nona?!” yang dengan reflek langsung berusaha menahan tubuh Shanika yang hampir saja jatuh ke jalan beraspal.
Orang-orang sekitar termasuk juga para penjaga keamanan di depan gedung Apartement, saat itu juga langsung berusaha membantu Shanika dengan mendekati Gavin dan dengan ekspresi paniknya, Gavin meminta kepada para penjaga keamanan untuk membantunya membawa Shanika untuk masuk ke dalam gedung Apartementnya.
***
Hingga beberapa menit kemudian, karena Xyan diberitahu kalau Shanika pingsan, dengan gerakan yang cepat Xyan membawa Shanika ke dalam Apartement Shanika sendiri yang hanya dibantu oleh Gavin.
“Apa kita tidak bawa ke rumah sakit saja, Tuan?” tanya Gavin dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan yang saat ini sedang bertekuk lutut di samping tempat tidur Shanika.
“Dokter di rumah sakit tidak akan bisa mendeteksi racun dari Iblis ular seperti ini,” jawab Xyan dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat serius.
Sedangkan Gavin yang mendengar jawaban Tuannya itu pun langsung tersentak dan dengan reflek berkata “Racun dari Iblis ular?!” dengan ekspresi tidak percayanya, sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
“Untungnya hanya ada sedikit dan belum menyebar. Tapi, jika terus dibiarkan bisa sangat berbahaya bagi nyawa manusia,” sambung Xyan lagi sambil bangkit dari bertekuk lututnya dan berusaha memikirkan cara untuk menyelamatkan Shanika yang masih pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Pa-pantas saja… saat bertemu dengan saya, tiba-tiba Nona Shanika menanyakan soal Iblis ular!” ucap Gavin dengan ekspresi panik sekaligus takutnya dihadapan Xyan, yang seketika itu juga membuat Gavin menatap wajahnya dengan sangat tajam dan berkata “Apa katamu?!” dengan nada bicaranya yang meninggi.
“Jangan-jangan Nona habis menemui Iblis ular itu di Kampusnya!” sambung Gavin lagi, yang lagi-lagi berhasil membuat Xyan semakin marah dan merasa pusing “Ugh! Sudah, lupakan dulu masalah itu!” balas Xyan sambil melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar Shanika.
Tanpa banyak bicara lagi, Gavin pun segera mengikuti Xyan yang keluar dari dalam Shanika itu hingga sampai di dapur dan setelah itu Gavin mulai memperhatikan Xyan yang sedang mengambil air di dalam gelas kaca untuk diberikan kepada Shanika.
Tapi, tepat sebelum Xyan memberikan air minum di gelas kaca itu kepada Shanika, detik itu juga Xyan melukai telapak tangan kanannya sendiri dan memberikan dua tetes darahnya pada air di dalam gelas kaca, dengan penuh energi pemulihannya.
“Tuan! Kalau anda memberikan tetesan darah kepada Nona, itu sama saja dengan memberikan sebagian energi pemulihan anda! Kalau seperti ini… bisa-bisa saya jadi lebih mengkhawatirkan kondisi anda!” panik Gavin dengan nada bicaranya yang cepat dan sangat tinggi kepada Xyan.
Xyan yang mendengar perkataan Gavin itu pun langsung memasang senyuman tipisnya dan dengan santainya berkata “Sejak mengenal Shanika, aku jadi sadar… kalau kekuatanku ini akan sangat percuma jika tidak digunakan untuk melindungi orang yang aku sayang. Jadi, jangan terlalu khawatir,” ucap Xyan sambil membersihkan sisa darah pada telapak tangannya di wastafel.
“Tapi, tetap saja! Apa Nona Shanika sudah tahu? Kalau kondisi anda sudah semakin memburuk? Pemulihan luka dan energi anda belakangan ini sudah semakin memakan waktu yang lama! Karena itu juga kan… saya terus meminta anda untuk sesekali pergi ke dunia kegelapan,” balas Gavin dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan.
“Anda sudah terlalu berlebihan dalam melindungi Nona,” sambung Gavin dengan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi pelan dan terdengar sedih.
Xyan yang berusaha mengabaikan perkataan Gavin itu pun langsung merasa luluh, karena ekspresi sedih yang Gavin tunjukkan kepadanya dan sambil menepuk pundak Gavin sekilas, Xyan kembali berkata “Aku tidak akan pernah mau pergi ke dunia itu lagi… dan sisa kekuatanku ini, biarkan aku gunakan sampai habis!” dengan tatapan lekatnya kepada Gavin.
Yang seketika itu juga membuat Gavin hanya bisa terdiam dan pasrah dengan pilihan yang Xyan ambil, walaupun sebenarnya ia tidak ingin melihat Tuannya yang selama ini ia layani menjadi lemah “Baik, Tuan.” Tapi, mau bagaimana lagi, Gavin harus menerima keputusan Tuannya.
__ADS_1