
Saat tatapan Elvan semakin tajam, tanpa banyak berpikir lagi Shanika berkata “Maafkan aku kak! Karena pamanku sudah datang, aku akan pulang bersamanya saja!” dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar, walaupun begitu Shanika tetap berusaha untuk tersenyum kepada Elvan.
“Paman?” kaget Elvan dan Xyan secara bersamaan.
“Iya… haha!” balas Shanika dengan wajah polosnya, sambil terus menggenggam tangan kiri Xyan tanpa peduli dengan tatapan kesal Xyan.
Elvan yang mendengar perkataan Shanika itu pun, entah kenapa merasa sangat lega dan dengan reflek menundukkan kepalanya dengan sangat sopan kepada Xyan sambil berkata “Ternyata anda pamannya Shanika, maafkan saya karena sudah tidak sopan,” yang seketika itu juga membuat Xyan merasa semakin tersinggung.
Dan tepat sebelum Xyan membuka mulutnya untuk membalas sapaan Elvan, dengan cepat Shanika kembali berkata “Kalau begitu, aku pamit ya kak!” setelah itu langsung menarik tangan Xyan untuk pergi dari hadapan Elvan bersama dengan Xyan.
Shanika yang takut kalau sampai Elvan mendekatinya lagi, dengan langkah kakinya yang semakin cepat ia segera memasuki mobil mewah milik Xyan yang sejak tadi sudah berada di pinggir jalan masuk gedung Kampusnya.
“Huh… aman!” gumam Shanika dengan perasaan leganya, sambil melepaskan genggaman tangannya pada tangan kiri Xyan.
Sedangkan Xyan yang saat ini sudah duduk di samping Shanika, tanpa berlama-lama segera berkata “Jalan sekarang,” kepada anak buahnya yaitu Gavin, yang duduk di bangku pengemudi mobil mewahnya.
“Baik Tuan,” jawab Gavin dengan sangat patuh dan langsung mengemudikan mobil Xyan dengan sangat terampil.
Shanika yang baru menyadari kehadiran orang lain di dalam mobil, saat itu juga tersenyum dan berkata “Oh! Ada siapa ini? Namaku Shanika!” yang dengan reflek dibalas oleh Gavin “Nama saya Gavin, saya Asisten pribadinya Tuan Xyan,” dengan nada bicaranya yang sangat sopan kepada Shanika.
“Oh… ternyata pria ini punya Asisten pribadi,” balas Shanika sambil menganggukkan kepalanya dan sesekali melirikan matanya kepada Xyan yang ada di sampingnya.
Selama beberapa detik suasana di dalam mobil menjadi sangat sepi, hingga tiba-tiba Xyan berkata “Kenapa kamu memperkenalkan aku kepada pria itu sebagai Paman?! Apa tidak ada sebutan lain?” dengan nada bicaranya yang sangat tinggi dan ekspresi yang terlihat sangat marah kepada Shanika.
__ADS_1
“Astaga, bikin kaget saja!” keluh Shanika sambil mengusap dadanya sendiri.
“Apa tadi kamu tidak lihat betapa kurang ajarnya dia kepadaku?! Ugh, rasanya harga diriku hancur saat kamu menyebutku dengan sebutan Paman!” sambung Xyan dengan sangat ketus, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya yang bidang, setelah itu segera mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika.
Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun terkejut, ia tidak pernah menyangka kalau Xyan akan sampai memikirkan hal sepele seperti itu dan dengan polosnya Shanika berkata “Tapi, sebutan apa lagi yang cocok untukmu?” yang seketika itu juga membuat Xyan tersentak.
“A-apa katamu?!” tanya Xyan dengan kedua bola matanya yang melebar kepada Shanika.
“Mau dilihat dari sisi mana pun, kamu dan aku… memiliki jarak umur yang cukup jauh! Jadi, hanya sebutan Paman yang terlintas di dalam kepalaku,” kata Shanika yang menganggap kalau pemikirannya itu sangatlah masuk akal.
Tapi, bukannya merasa masuk akal. Detik itu juga Xyan merasa semakin kesal dan dengan reflek berkata “Bagaimana pun juga, wajahku ini sangat awet muda kalau dibandingkan dengan semua orang!” keluh Xyan yang masih belum terima dengan sebutan yang diberikan oleh Shanika kepadanya.
“Ya… tentu saja. Tapi, memangnya berapa umurmu saat ini?” balas Shanika yang juga tidak mau kalah dalam hal berdebat.
“Ck, lihat! Kamu sendiri saja tidak percaya diri dengan umurmu,” sambung Shanika dengan perasaan kesalnya dan dengan reflek segera membuang mukanya dari Xyan.
Sedangkan Gavin yang sejak tadi mendengarkan perkataan Shanika dan Xyan dari bangku kemudi, dengan sekuat tenaga berusaha menahan tawanya, karena untuk pertama kalinya ia melihat sikap kekanak-kanakan tuannya saat sedang mendebatkan hal sepele dengan seorang wanita muda.
***
Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, sesampainya di depan gedung Apartement Shanika segera keluar dari dalam mobil secara bersamaan dengan Xyan dari pintu mobil yang berbeda dan tepat pada saat Gavin keluar dari mobil juga, dengan cepat Shanika mendekati Gavin.
Setelah itu Shanika berkata “Terima kasih, Gavin. Senang bisa berkenalan denganmu,” dengan senyuman cerianya dan sebelum Gavin membalas perkataan Shanika, dengan reflek Shanika menjabat tangan Gavin menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Tapi, bukannya merasa senang karena keramahan Shanika. Detik itu juga, Gavin terkejut dan merasa sangat kesakitan karena genggaman tangan Shanika “Akh! Sa-sakit sekali!” keluh Gavin yang dengan cepat langsung menarik tangannya dari tangan Shanika dan melangkah mundur untuk menghindari Shanika.
“Ya? Sakit kenapa?” kaget Shanika dengan wajah bingungnya.
“Ugh, tidak tahu… rasanya seperti tersengat listrik,” balas Gavin sambil mengusap tangannya sendiri.
Xyan yang melihat interaksi Shanika dengan Gavin itu pun langsung menghela nafas frustasinya yang panjang, setelah itu berbisik kepada Shanika “Semua itu karena benang putihnya. Kamu lupa, ya?” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak.
“Benang putih ini? Tapi, benang ini kan hanya berpengaruh pada makhluk tak kasat… eh?!” dengan reflek perkataan Shanika terputus dan ia pun segera menolehkan kepalanya lagi ke arah Gavin, dengan tatapan tidak percayanya.
“Ka-kamu bukan manusia juga?” tanya Shanika dengan suara yang berbisik-bisik kepada Gavin yang saat ini masih berdiri dihadapannya dan tanpa bicara sedikit pun, Gavin menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
“Aku tidak mungkin membiarkan manusia untuk menjadi Asisten pribadiku,” kata Xyan lagi dengan nada bicaranya yang santai “Te-ternyata begitu,” balas Shanika dengan perasaan bersalah sekaligus bingung.
Dan tanpa memakan waktu lama lagi, detik itu juga Xyan segera memerintahkan Gavin untuk pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi besok pagi, yang seketika itu juga membuat Gavin menundukkan kepalanya dengan sangat patuh dan segera melangkah pergi dari halaman depan gedung Apartement.
“Sepertinya rasa sengatan dari benang putih ini sangat menyakitkan ya?” gumam Shanika kepada dirinya sendiri sambil menatap lekat benang putih yang masih terikat dengan erat di pergelangan tangan kanannya.
“Bagaimana denganmu? Apa saat aku menyentuhmu… rasanya sakit juga?” tanya Shanika kepada Xyan, yang dengan cepat langsung Xyan jawab “Aku yang membuat benang itu untukmu, untuk apa juga aku ikut merasa kesakitan?” dengan nada bicaranya yang terdengar cukup sinis.
“Hm… benar juga!” balas Shanika dengan tawa tipisnya dihadapan Xyan yang saat ini masih menatapnya dengan lekat.
Hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba ada seorang petugas keamanan menyapa Xyan dan Shanika, setelah itu berkata “Sepertinya kalian berdua terlihat semakin akrab saja ya,” yang seketika itu juga membuat Xyan dan Shanika terkejut dan merasa sangat canggung “A-akrab apanya?” keluh Shanika dan Xyan secara bersamaan.
__ADS_1