Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kehilangan Teman Karena Pria


__ADS_3

Tepat pada saat Xyan kembali bicara “Bagaimana bisa kamu sepercaya diri ini?” seketika itu juga tatapan mata Shanika yang sangat intens mulai bergetar dan karena debaran di dalam hatinya semakin cepat, Shanika mulai melangkah mundur dari hadapan Xyan sambil berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.


Tapi, karena Shanika yang gagal menyembunyikan perasaan gugupnya, detik itu juga Xyan memasang senyuman menyeringainya dan kembali berkata “Kenapa sekarang kamu terlihat gugup?” dengan nada bicaranya yang sangat menggoda.


“A-apaan sih? Aku tidak gugup tuh!” balas Shanika sambil mengerutkan dahinya dan menunjukkan ekspresi kesalnya kepada Xyan.


“Sudah cukup bicaranya, sebelum aku mengusirmu secara paksa… pergilah sendiri,” sambung Shanika tanpa mau melihat wajah Xyan sedikit pun, sambil berusaha menenangkan debaran di dalam dirinya dengan sekuat tenaganya.


“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi, ingat kata-kataku yang tadi! Jangan pernah cari bahaya,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi sangat tegas kepada Shanika yang pemikirannya masih penuh kelabilan itu.


“Astaga… aku mengerti!” gerutu Shanika sambil melirikkan tatapan tajamnya sekilas kepada Xyan.


Setelah mendengar jawaban Shanika itu pun, Xyan segera melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari dalam Apartement Shanika dan tepat pada saat pintu Apartement tertutup rapat, saat itu juga Shanika menghembuskan nafas leganya dengan kasar sambil bergumam “Aku pasti sudah tidak waras!” sambil mengusap dadanya sendiri.


“Kenapa aku berani menatapnya seperti itu?” gumam Shanika lagi sambil teringat tatapan mata Xyan yang selalu berhasil membuat dirinya berdebar-debar “Dia memang bukan tandinganku!” ucap Shanika dengan perasaan frustasinya.


***


Keesokan harinya, Shanika yang saat ini sudah berpakaian super rapi dan wangi segera bergegas keluar dari pintu Apartementnya, setelah itu menunggu pintu lift dihadapannya terbuka. Tapi, pada saat pintu lift terbuka, entah kenapa Shanika merasa kecewa karena tidak ada siapa pun di dalam lift itu.


“Hah… apa-apaan dengan perasaanku ini?” gerutu Shanika sambil melangkah masuk ke dalam lift dan terus berusaha menyangkal kalau dirinya sedang berharap untuk bertemu dengan Xyan.


Hingga ia sampai di depan pintu masuk gedung Apartement, Shanika sama sekali tidak melihat atau merasakan kehadiran Xyan yang lagi-lagi membuatnya merasa kecewa “Ah, ada apa denganku?!” keluh Shanika sambil menyibak rambutnya kebelakang dengan sangat kasar, setelah itu dengan perasaan tidak pedulinya Shanika segera melanjutkan langkah kakinya untuk pergi ke Kampus.

__ADS_1


Sekitar tiga jam kemudian berlalu, kelas pertama yang Shanika ikuti entah kenapa terasa sangat cepat dan saat Shanika keluar dari dalam kelasnya, saat itu juga ia melihat pria bernama Elvan di lorong Kampus yang sedang memegangi jimat kertas berwarna kuning dengan tangan kanannya.


“Oh, Shanika!” sapa Elvan dengan senyuman lebarnya, saat ia menolehkan kepalanya dan melihat Shanika.


“Siang kak,” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang canggung kepada Elvan, saat pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya.


“Lihat, seperti katamu… aku tetap membawa jimat ini kemana pun aku pergi!” kata Elvan dengan tiba-tiba sambil menunjukkan jimat kertasnya kepada Shanika dengan penuh semangat “Ya?” balas Shanika dengan tatapan bingungnya.


“Ah… aku pikir, kalau aku tidak menunjukkan jimat ini lebih dulu kepadamu, kamu tidak akan mau bertemu atau bicara denganku seperti ini,” sambung Elvan dengan senyuman tipisnya, sambil memasukkan jimat kertasnya ke dalam saku pakaiannya.


“Hm? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sempat berpikir seperti itu?” pikir Shanika yang kebigungan sambil mengerutkan dahinya.


Saat Shanika sedang bermain dengan pikirannya sendiri, saat itu juga Elvan mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah tiket perlombaan untuk ia berikan kepada Shanika “Ambil ini,” ucap Elvan sambil menyodorkan tiket perlombaan yang ada di tangan kanannya kepada Shanika.


“Tiket apan ini?” tanya Shanika sambil menerima tiket pemberian Elvan.


“Ya? tapi, aku tidak paham sama sekali dengan permainan bola basket!” balas Shanika sambil berusaha mengembalikan tiket pemberian Elvan.


“Tidak perlu paham, kamu hanya harus datang dan mendukungku!” pinta Elvan sambil menggenggam tangan Shanika yang sempat menyodorkan tiket perlombaannya kembali.


Shanika yang merasa risih dengan genggaman tangan Elvan itu pun dengan reflek menarik tangannya secara kasar dan kembali berkata “Ba-baiklah!” dengan perasaan terpaksanya, yang seketika itu juga membuat Elvan merasa senang.


“Bagus! Oya… soal pamanmu yang kemarin. Walaupun agak menyeramkan, aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi!” kata Elvan lagi dengan senyuman lebarnya “Kalau begitu aku pergi dulu ya, kelasku akan segera dimulai!” sambung Elvan dan sebelum Shanika membalas perkataannya, dengan cepat ia bergegas pergi dari hadapan Shanika dengan wajah cerianya.

__ADS_1


“Hah… pria itu kenapa sih?” keluh Shanika yang jujur merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Elvan.


Detik itu juga, Shanika yang akan melanjutkan pelajarannya di kelas berikutnya segera membalik tubuhnya. Tapi, betapa kagetnya Shanika karena saat ia membalik tubuhnya, saat itu juga ia melihat teman dekatnya yaitu Nadine sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


“Nadine? Sejak kapan kamu berdiri di sana?” tanya Shanika sambil berjalan mendekati Nadine yang terlihat sangat marah.


Tanpa menjawab pertanyaan Shanika, Nadine pun melirikkan matanya ke arah tiket perlombaan yang ada di tangan Shanika setelah itu berkata “Aku harap kamu tidak datang,” yang seketika itu juga membuat Shanika sedikit tersentak.


“Shanika, kamu tahu kan kalau aku menyukai Kak Elvan?” sambung Nadine dengan nada bicaranya yang terasa sangat dingin kepada Shanika.


“Karena kamu sudah pernah bilang, tentu saja aku tahu,” jawab Shanika sambil terus berusaha menjawab dengan setenang mungkin.


Nadine yang mendengar jawaban Shanika itu pun langsung menghela nafas panjangnya dengan kasar dan mengigit bibir bawahnya sendiri, setelah itu kembali berkata “Kalau sudah tahu, kenapa kamu bersikap seperti itu? Kamu sengaja memancingnya untuk datang kepadamu, kan?” dengan nada bicaranya yang meninggi.


“Nadine tenanglah… kamu sudah salah paham!” balas Shanika sambil menggapai tangan Nadine dan melihat ke sekelilingnya yang saat ini ada beberapa orang yang berlalu-lalang.


Dengan kasar Nadine pun menghempaskan tangan Shanika dan kembali berkata “Awalnya aku kira, kalau aku memang sudah salah paham! Tapi, ini sudah keterlaluan Shanika. Sejak SMA kamu selalu seperti ini… semua pria yang aku sukai, pasti akan berakhir mendekatimu!” kata Nadine dengan ekspresi marah sekaligus kecewa kepada Shanika.


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Nadine, saat itu juga langsung terdiam dan menatap Nadine dengan tatapan bingungnya “A-apa?” gumam Shanika dengan suaranya yang bergetar, seakan ingin menangis.


“Apa kamu tidak sadar? Selama ini kamu sudah menghancurkan kehidupan percintaanku!” sambung Nadine dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan kepada Shanika.


“Nadine, tunggu!” pinta Shanika sambil berusaha menahan Nadine yang akan pergi dari hadapannya dengan perasaan marahnya.

__ADS_1


“Aku pikir, hanya aku satu-satunya temanmu yang bisa memahamimu! Tapi, ternyata aku salah… Aku tidak mau menjadi temanmu lagi, Shanika!” ucap Nadine dengan tatapan marahnya, setelah itu ia segera melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari hadapan Shanika.


Dan Shanika yang melihat kepergian Nadine, detik itu juga hanya bisa terdiam. Shanika sama sekali tidak menyangka kalau selama ini Nadine berpikir buruk seperti itu kepada dirinya hanya karena seorang pria.


__ADS_2