
Zoya yang sempat terdiam selama beberapa detik karena perkataan Shanika, detik itu juga lagi-lagi kembali melihat kilatan merah dari bola mata Shanika yang seketika itu juga membuatnya semakin marah dan semakin ingin memusnahkan Mata Pengantin Iblis yang ada di dalam bola mata Shanika.
“Beraninya kamu melihat masa laluku,” ucap Zoya sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati Shanika, yang dengan reflek juga membuat Shanika melangkah mundur untuk menjauhi Zoya.
Dengan tatapan tajam dan aura yang sangat gelap Zoya terus berjalan mendekati Shanika, sampai-sampai Shanika merasa sangat terintimidasi sekaligus juga takut dibuatnya.
“Sekarang, bersiap-siaplah… karena duniamu akan menjadi sangat gelap!” ucap Zoya lagi sambil mengangkat tangan kanannya dan menujukkan telapak tangannya yang mengeluarkan aura gelap tepat dihadapan wajah Shanika, seakan-akan ingin mencengkram kedua bola mata Shanika secara sekaligus.
Sedangkan Shanika yang sudah terhimpit di tembok dan mendengarkan perkataan Zoya, detik itu juga seluruh tubuhnya terasa kaku dan ia pun langsung terbayang hari-hari dirinya saat dulu tidak bisa melihat apapun. Shanika benar-benar merasa takut kalau ia sampai tidak bisa melihat lagi “Tidak,” gumam Shanika dengan debaran jantungnnya yang semakin cepat tak terkendali.
Dan dengan perasaan takutnya itu, tanpa sadar warna bola mata Shanika berubah menjadi merah pekat secara sekilas, yang seketika itu juga membuat Zoya tersentak dan telapak tangannya pun langsung terluka seakan terbakar api panas “Akh!!!” jerit Zoya sambil melangkah mundur dari hadapan Shanika.
Dengan kedua tangannya yang bergetar, Zoya pun membalik tangan kanannya dan dapat dengan jelas melihat luka bakar di telapak tangan kanannya itu, yang cukup parah “Akh!!! Beraninya! Beraninya kamu melukaiku!” teriak Zoya dengan suara yang sangat tinggi dan terdengar sangat mengerikan bagi Shanika.
Shanika yang juga terkejut dengan luka di tangan Zoya, detik itu juga langsung berpikir “Aku yang sudah melukainya?” dan secara perlahan perasaan beraninya kembali datang, yang membuat Shanika segera membalas tatapan tajam Zoya dengan penuh tekadnya.
“Jangan macam-macam denganku atau tidak… aku akan membunuhmu!” ancam Shanika sambil berusaha menenangkan jantungnya yang masih terus berdebar dengan sangat kencang.
Zoya yang mendengar ancaman dari Shanika itu pun langsung menyeringai dan memasang ekspresi tidak percayanya. Setelah itu, karena telapak tangannya terasa semakin sakit dan panas, mau tidak mau Zoya harus pergi dari hadapan Shanika tanpa bicara sepatah kata pun lagi.
__ADS_1
Sedangkan Shanika yang melihat kepergian Zoya, detik itu juga langsung jatuh terduduk di lantai karena kakinya terasa sangat lemas “Hah… hampir saja aku mati,” gumam Shanika yang akhirnya dapat bernafas dengan bebas.
“Tapi… luka bakar di tangannya itu… apa benar karena aku?” gumam Shanika lagi yang masih belum begitu percaya pada kekuatan yang dimiliki matanya saat ini.
Dan detik itu juga, saat sedang berpikir serius tiba-tiba kepala Shanika berdengung dan keningnya terasa sangat sakit “Ukh! Apa ini efek sampingnya?” keluh Shanika sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
“Jika benar… itu artinya, aku bisa menggunakan kekuatan mata ini. Tapi, tidak bisa mengendalikannya?” batin Shanika sambil terus menahan rasa sakit di dalam kepalanya yang entah kenapa semakin terasa sakit seakan ingin membuat seisi kepalanya rusak.
Sekitar tiga menit kemudian, rasa sakit di dalam kepala Shanika pun mulai mereda dan beberapa orang di dalam kelas yang sempat jatuh pingsan mulai sadarkan diri secara bergantian, dalam keadaan yang sakit kepala juga seakan habis minum minuman beralkohol.
Karena hal itu lah, Dosen pria yang tidak lama juga sudah sadarkan diri memutuskan untuk menyelesaikan kelas mata pelajarannya dan membiarkan semua mahasiswanya untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada kita semua?” tanya salah satu mahasiswa dengan ekspresi bingungnya, yang langsung dibalas juga oleh temannya dengan mengatakan “Aku juga bingung. Tiba-tiba kita semua jatuh pingsan,” dengan ekspresi takutnya.
Tidak lama kemudian, perasaan Shanika pun semakin kacau saat ia melihat beberapa mahasiswa yang sebelumnya pingsan sedang muntah dan ada juga yang mengalami sakit kepala parah di lorong kelasnya, sampai-sampai membuat orang-orang dari kelas lain penasaran dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi kepada mereka semua.
“Semua ini karena ulahnya Zoya!” batin Shanika dengan perasaan kesalnya sambil terus melanjutkan langkah kakinya dengan semakin cepat.
Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil keluar dari lorong kelas yang ramai orang itu. Tiba-tiba kepalanya kembali berdengung dan ia pun merasa sangat pusing, yang seketika itu juga membuat langkah kakinya menjadi tidak terarah “Ugh,” keluh Shanika sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
Dan beberapa detik kemudian, semua orang yang ada di depan lorong kelas dibuat terkejut secara bersamaan karena tiba-tiba mereka mendengar suara orang terjatuh “Bruk!” dan saat mereka menolehkan kepala, dapat dengan jelas mereka semua melihat Shanika yang sudah jatuh pingsan di lantai.
“Apa yang terjadi?! Dia pingsan!” panik semua orang yang saat itu juga langsung berlari menghampiri Shanika dan bergegas membantu Shanika yang sudah tidak sadarkan diri.
***
Setengah jam pun berlalu, Shanika yang jatuh pingsan secara perlahan-lahan mulai menggerakkan tangan dan membuka matanya. Tepat pada saat Shanika membuka matanya, saat itu juga ia melihat atap ruangan yang putih dan lampu yang menyala dengan sangat terang.
Hingga beberapa detik kemudian, Shanika yang melamun langsung disadarkan dengan suara wanita yang bertanya “Kamu sudah sadar?” dengan suara yang sangat lembut.
Shanika pun segera menolehkan kepalanya dan saat ia melihat seorang wanita memakai pakaian dokter, saat itu juga ia langsung bergegas untuk duduk dari tidurnya sambil berkata “Aku baik-baik saja. Tapi, aku ada dimana?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya.
“Saat ini kamu ada di UKS Kampus. Tapi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa hari ini ada banyak sekali yang datang dalam keadaan pucat sepertimu? Kamu sendiri, bahkan sampai pingsan,” balas tanya dokter wanita dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika menolehkan kepalanya dan melihat ada beberapa mahasiswa yang sebelumnya satu kelas dengannya sedang dirawat juga di dalam UKS kampus.
Dengan suara yang pelan Shanika pun menjawab “Aku juga tidak tahu,” sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah para mahasiswa yang sedang mendapatkan perawatan.
“Kalau kamu merasa kondisimu semakin parah, lebih baik segera pergi ke rumah sakit.” ucap Dokter wanita dihadapan Shanika, setelah itu Dokter wanita segera memberikan air minum kepada Shanika “Ini, minumlah dulu,” dengan tatapan khawatirnya karena wajah Shanika yang masih terlihat sangat pucat.
“Terima kasih, Dokter.” Balas Shanika sambil menerima gelas yang berisikan air minum dari Dokter wanita itu.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir lagi, Shanika yang lemas langsung meneguk air minumnya. Tapi, pada saat tegukan keduanya tiba-tiba Shanika melihat bayangan ular dari dalam gelas minumnya, yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut dan langsung bangkit dari duduknya, yang membuat gelas digenggamannya terjatuh “Prang!” dan pecah berhamburan di lantai.
“Ular?!” kaget Shanika di dalam hatinya.