
***
Keesokan paginya, sesuai dengan perkataan Xyan. Sejak kemarin malam, Shanika hanya beberapa kali mendengar suara aneh dan melihat secara sekilas asap hitam disekitar jendela ruang tamu Apartementnya.
“Walaupun begitu, tetap saja aku masih sangat waspada jika tiba-tiba ada sosok yang muncul!” gumam Shanika sambil mengusap dadanya sendiri dan menolehkan kepalanya ke setiap sudut ruangan Apartementnya.
“Karena pria itu bilang hanya sementara waktu, itu artinya… aku akan segera kembali melihat hal-hal menyeramkan, kan?” gumam Shanika lagi sambil mengeratkan kepalan kedua tangannya dengan ekspresi takut.
Karena terus merasa tidak tenang, Shanika pun berharap agar ia bisa bertemu dengan Xyan lagi “Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa menemuinya secara natural?” pikir Shanika saat ia ingat betapa tidak nyamannya Xyan setiap bicara dengannya dalam waktu yang cukup lama.
Hingga beberapa jam kemudian, saat Shanika menunggu pintu lift terbuka detik itu juga ia merasakan firasat aneh yang entah kenapa membuatnya merasa sedikit gugup dan tepat pada saat pintu lift dihadapannya terbuka, dapat secara jelas Shanika melihat Xyan yang berpenampilan sangat rapi dan tampan.
Shanika yang melihat wajah Xyan itu pun tidak dapat menahan ekspresi senangnya dan dengan reflek berkata “Uwa! Kita bertemu lagi! Kamu pasti mau berangkat kerja ya,” sambil menunjukkan senyuman termanisnya dihadapan Xyan yang tersentak saat melihat wajahnya.
Tanpa membalas perkataan Shanika, dengan cepat Xyan berusaha mengalihkan pandangannya dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera memasuki lift, setelah itu berdiri tepat disamping Xyan dengan perasaannya yang gugup.
Setelah beberapa detik pintu lift terbuka, Shanika pun mulai memberanikan dirinya untuk bicara “Hm… sesuai dengan perkataanmu, sejak malam aku tidak melihat sosok menyeramkan. Ah! Dan aku ucapkan terima kasih,” ucap Shanika sambil menundukkan kepalanya secara perlahan dari samping tubuhnya Xyan yang tinggi dan besar itu.
Xyan yang mendengar ucapan terima kasih Shanika yang sangat tulus itu pun langsung menghela nafasnya dengan perlahan, setelah itu berkata “Ya, aku terima ucapan terima kasihmu itu,” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dewasa dan tenang.
“Tapi… Bagaimana jika tiba-tiba aku melihat sosok menyeramkannya lagi? Apa kamu tidak punya barang yang bisa dijadikan penangkal untukku?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang sangat pelan dan berhati-hati.
“Aku bukan dukun! Mana mungkin aku mempunyai barang seperti itu,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang sedikit ketus.
“A-aku tidak bermaksud untuk membuatmu tersinggung! Aku kan hanya bertanya,” balas Shanika dengan perasaan menyesal sekaligus memasang ekspresi murungnya, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa semakin terganggu.
__ADS_1
Tapi, karena merasa tidak tega juga dengan kondisi Shanika. Xyan pun kembali berkata “Mulai sekarang hindari jalanan yang sepi dan gelap. Selain itu, usahakan untuk tidak melakukan kontak mata dengan para sosok yang kamu temui, khususnya pada sosok yang memiliki aura gelap atau bermata merah! Mereka sangat berbahaya,”
ucap Xyan panjang lebar dengan sangat serius, yang saat itu juga membuat Shanika hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya.
Dan tepat pada saat pintu lift terbuka, Xyan pun kembali berkata “Bagaimana pun juga kamu pasti akan melihat mereka lagi. Jadi, cukup hindari saja… dengan begitu, energimu tidak akan cepat habis!” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang sangat meyakinkan.
“Bicara saja memang mudah. Tapi, apa aku bisa menghindari mereka?” balas Shanika dengan perasaan tidak percaya dirinya, sambil mengikuti langkah kaki Xyan yang keluar dari dalam lift.
“Tetap tenang dan jangan tunjukkan kalau kamu takut kepada mereka! Mengerti?” ucap Xyan lagi dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Hm, baik! Akan aku usahakan,” jawab Shanika dengan anggukkan yang terlihat sangat patuh.
Setelah mendengar jawaban Shanika, Xyan yang tidak ingin berlama-lama lagi segera berkata “Bagus!” dan semakin mempercepat langkah kakinya, agar Shanika tidak terus mengikutinya. Tapi, dengan cepat Shanika justru menahan tangan Xyan sambil berkata “Tu-tunggu dulu!” dengan nada bicaranya yang cukup keras.
“A-aku masih belum tahu namamu!” jawab Shanika dengan tatapan matanya yang sangat berbinar-binar kepada Xyan.
Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika dan melihat tatapan memelas dari wanita itu, seketika itu juga langsung mengerutkan dahinya “Kamu tidak perlu tahu namaku,” balas Xyan sambil melepaskan pegangan tangan Shanika pada lengan sebelah kirinya.
“Ya?!” kaget Shanika setelah mendengar penolakan keras dari Xyan dengan perasaan sedihnya.
Tapi, perasaan sedih Shanika seketika itu juga menghilang saat tiba-tiba ia mendengar ada seorang pria yang bukan lain adalah Gavin, memanggil nama Xyan dengan cukup lantang dari depan pintu masuk gedung Apartement “Ah! Namamu Xyan? Keren sekali,” puji Shanika dengan reflek.
“Ah, sial!” gerutu Xyan sambil melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari gedung Apartement itu.
“Ck! Kenapa marah-marah terus sih? Padahal aku hanya ingin akrab dengannya,” gumam Shanika tanpa perasaan takut sama sekali, saat ia melihat kepergian Xyan yang dipenuhi dengan amarah.
__ADS_1
***
Dan beberapa menit kemudian, Shanika yang menunggu kedatangan temannya yaitu Nadine, akhirnya melihat Nadine yang baru saja keluar dari dalam mobil taksi dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera mengajak Nadine untuk masuk ke dalam Apartementnya.
“Hah… kamu tidak akan percaya apa yang sejak kemarin terjadi padaku!” kata Shanika dengan penuh semangat saat sesampainya ia di dalam Apartementnya.
“Pft! Apaan sih? Seperti habis melihat hantu saja!” balas Nadine sambil tertawa pelan, setelah melihat tingkah aneh Shanika.
Sedangkan Shanika yang mendengar balasan dari Nadine langsung terdiam dan segera mengambilkan air dingin untuk temannya itu sambil bergumam “Lebih baik tidak aku ceritakan,” dan menggelengkan kepalanya secara perlahan.
“Oya! Apa kamu sudah memilih club kampus yang ingin kamu masuki?!” tanya Nadine tiba-tiba dengan nada bicaranya yang secara mendadak menjadi sangat bersemangat.
“Club? Entahlah, mungkin melukis atau bahasa luar?” jawab Shanika sambil membawakan air dingin untuk Nadine, setelah itu segera duduk tepat di samping teman dekatnya itu.
“Akh, membosankan sekali!” balas Nadine dengan wajah meledeknya.
“Memangnya kamu mau masuk club apa?” tanya Shanika dengan tawa kesalnya dan dengan penuh percaya diri Nadine berkata “Cheerleader!” yang seketika itu juga membuat Shanika membelalakan matanya “Hah? Kenapa tiba-tiba? Pasti ada sesuatu, kan?!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi.
Detik itu juga, Nadine segera mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto seorang pria kepada Shanika sambil berkata “Dia anggota dari Club Bola Basket di Kampus! Hehe,” yang saat itu juga membuat Shanika dengan reflek menatap foto yang Nadine tunjukkan.
Saat Shanika melihat foto pria di handphone Nadine, saat itu juga ia mengenali pria itu karena pria di dalam foto itu adalah pria yang kemarin sempat ia tubruk di Kampus. Tidak hanya itu, Shanika juga kembali mengingat wajah menyeramkan hingga mata merah dari hantu wanita yang berada dibelakang pria itu.
“Ja-jangan bilang… kalau kamu menyukainya?” tanya Shanika dengan tatapan lekatnya dan nada bicaranya yang bergetar kepada Nadine.
“Wah! Kamu langsung paham maksudku!” balas Nadine yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sangat lemas dan kebingungan “Tidak,” batin Shanika dengan perasaan takut sekaligus khawatir kepada temannya.
__ADS_1