Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
10. Membuat Rencana


__ADS_3

"Apa kamu bercanda?"


Sinta menggeleng. "Aku serius, Mas. Cuma itu satu-satunya cara untuk menuruti permintaan orang tua kamu."


Ariel menatap Sinta tak percaya. "Meskipun itu satu-satunya cara, tapi aku nggak bisa, Sin. Kamu jangan aneh-aneh."


"Kamu sendiri udah memikirkan hal itu kan, Mas. Nggak ada salahnya kamu ngelakuin itu, demi kamu bisa memiliki keturunan, Mas." Sinta mengusap wajah gusar suaminya. Ia sudah memantapkan hatinya untuk menyetujui hal ini. "Aku nggak papa, Mas. Aku tahu kamu nggak bermaksud berkhianat dari aku. Anggap aja kamu ngelakuin itu demi aku. Hm?"


Ariel membuang napas panjang. Ia terduduk begitu mendengar penuturan Sinta. "Kamu mau aku berbuat maksiat?" tanyanya dengan nada mencela.


Sinta menggeleng. Ia ikut duduk di sebelah Ariel. "Nggak, Mas. Kalian bisa menikah siri. Kita bisa rahasiakan pernikahan kalian. Asalkan kalian sama-sama sepakat, aku nggak masalah."


"Kamu udah gila, Sin. Jangan sembarangan," ujar Ariel. Ia menurunkan kedua kakinya lalu segera berpakaian. Kantuknya lenyap seketika karena obrolan tak masuk akal itu. Dengan langkah berat, Ariel pun berjalan menuju balkon, rasanya ia butuh udara segar dan waktu sendirian.


Selama beberapa menit, Ariel hanya terdiam. Ia memikirkan kata-kata Sinta padanya. Itu benar-benar gila! Mungkin Sinta sudah sangat frustasi dengan kondisinya. Sinta juga sangat tertekan dengan permintaan orang tuanya. Mungkin, jika ia jujur pada mereka, mereka tak akan menuntut Sinta lagi. Sinta bisa jauh lebih tenang. Ia bisa bicara baik-baik dengan ibunya.


Namun, ketika Ariel membuka ponselnya, ia segera mengurungkan niatnya tersebut. Jika ibunya tahu Sinta memiliki cela seperti itu, ibunya pasti tidak akan bisa menerima Sinta sebagai menantu lagi. Ariel memijat pelipisnya dengan gelisah.


Ariel baru saja menyulut rokok dan menyesapnya ketika Sinta muncul dari pintu balkon. Sinta duduk di sebelahnya dengan tampang terlipat. Sinta tampak seperti orang baru saja menangis. Mengatakan hal tadi pasti juga menyiksa hatinya.


"Mas, aku serius sama ucapan aku. Kalau kamu nggak mau ngelakuin itu, aku mau kita pisah aja. Kamu bisa mencari wanita lain yang sempurna," kata Sinta.


"Kamu ini ngomong apa sih? Aku nggak bakal pernah bercerai sama kamu," ujar Ariel tak terima.


"Makanya, lakuin apa yang aku mau," kata Sinta dengan nada membujuk. "Kita cuma butuh bayi dari wanita lain."


Ariel mematikan rokoknya lalu menatap Sinta lekat-lekat. "Lalu, di mana aku bisa menemukan wanita yang mau melahirkan bayi untuk kita? Aku nggak mau tidur dengan perempuan murahan yang hanya ingin uang. Jika aku mau punya anak, aku mau anak aku lahir dari wanita baik-baik."


Sinta terdiam mendengar ucapan Ariel. Ia membuang napas panjang, ia tidak memikirkan hal tersebut. Menemukan wanita yang bisa dibayar untuk dipinjam rahimnya mungkin mudah asalkan Ariel sanggup membayarnya, tetapi adakah wanita baik-baik yang mau melakukan itu?

__ADS_1


"Rencana ini kelihatannya sederhana, Sayang. Tapi nyatanya tidak," kata Ariel.


"Kita pasti bisa menemukan orangnya, Mas."


"Udahlah. Jangan bahas masalah ini lagi," kata Ariel. "Aku bakal yakinin Mama, kalau kita emang belum bisa punya anak. Kita bisa bilang kalau dokter belum mengizinkan kamu untuk mengandung lagi."


"Lalu, kita bakal terus berbohong?" tanya Sinta seraya berdiri. "Kamu bisa tidur sama wanita manapun, Mas. Kamu bisa punya anak sedangkan aku nggak akan pernah bisa meskipun orang tua kamu menuntut."


Sinta meninggalkan Ariel seorang diri di balkon. Ia kembali ke kamar lalu membaringkan dirinya sambil terisak. Ariel yang masih merenung di balkon pun kembali berpikir, benarkah ini cara yang terbaik? Jika itu cara yang harus ia pilih, siapa yang harus ia pilih untuk ia titipi benihnya?


***


Elin terbangun di kamarnya ketika pagi baru turun. Ia meraba kepalanya yang pusing luar biasa karena benturan tadi malam. Ia sudah pernah terbentur parah ketika kecelakaan berbulan-bulan yang lalu, dan semalam ia kembali mengalami hal mengerikan. Sepertinya ia harus memeriksakan dirinya ke rumah sakit lagi, pikirnya dalam hati.


"Ya ampun kepala aku," gumamnya.


Karena merasa begitu parah, Elin pun memutuskan untuk menelepon Ariel agar ia dijemput. Namun, setelah dua kali memanggil nomor Ariel, ia menyerah. Ariel mungkin masih tidur, pikirnya. Elin pun memutuskan untuk mengirim pesan saja. Tak lupa, ia mengirimkan lokasinya pada Ariel.


Elin berbaring dengan kedua mata menatap langit-langit. Pikirannya melayang pada tahun-tahun ketika ia masih bersekolah. Jika ia sakit seperti ini, Ariel adalah orang pertama yang akan panik. Ariel bahkan pernah datang jauh-jauh ke perkemahan ketika ia masih SMA karena ia jatuh dalam sebuah permainan. Elin tidak mau banyak berharap Ariel akan datang, tetapi ia akan sangat senang jika kakaknya itu mau menjemput.


Keesokan harinya, Elin terbangun oleh ketukan pintu. Ia baru kembali tidur setelah sholat subuh. Dan kini ia kelaparan. Mungkin, Mirna yang mengetuk, pikirnya. Jadi ia santai saja membuka pintu dengan mengenakan baju tidur.


"Pak Galang," ujar Elin kaget.


"Hei, nyenyak nggak tidurnya?" tanya Galang.


"Lumayan." Elin hanya menyembulkan kepalanya. "Ehm, saya udah nggak papa, Pak."


"Saya bawain kamu sarapan, ayo dimakan dulu. Boleh saya masuk?" tanya Galang.

__ADS_1


Elin menatap kamarnya sejenak, lalu ia mengangguk pelan. "Mirna nggak diajak sekalian, Pak?"


"Panggil mas aja," kata Galang mengingatkan. Ia duduk di kursi kecil yang ada di tepi ruangan lalu meletakkan makanan di meja. "Tadi Mirna telepon kalau dia udah dijemput pacarnya, terus dia minta saya buat ngecek dan mastiin kamu dijemput sama kakak kamu beneran apa nggak."


"Kok Mirna nggak kabar-kabar ya?" gumam Elin seraya melihat ponselnya. Ia baru sadar ada beberapa pesan masuk dari Mirna. Pesan untuk Ariel sudah dibaca, tetapi Ariel tidak membalasnya. Ia semakin yakin, Ariel tak akan datang ke sini.


"Kamu baru baca?"


"Iya, Mas. Tadi abis subuh saya tidur lagi. Ponselnya masih saya silent, jadi nggak tahu," jawab Elin. Ia melirik makanan yang dibawakan oleh Galang. Seketika ia membasahi bibir.


"Kamu laparkan?" tanya Galang sambil tertawa. "Ini cuma ada nasi kucing sama gorengan, kamu mau kan?"


Elin mengangguk. Karena ia ada di pedesaan, mau tak mau ia makan apa saja yang ada. Ia pun menikmati sarapan sederhana yang dibawakan oleh Galang sambil sesekali bercerita tentang kejadian semalam yang mencekam. "Saya kapok deh nulis horor, besok saya dikasih jatah yang romansa aja, Mas."


"Tenang aja, ini juga masih agak lama proyeknya. Nanti kita pilih-pilih lagi mana yang bagus," kata Galang. "Ehm, ada gelas nggak ya? Ini saya beli teh tapi diplastik gini."


"Bentar, kayaknya ada di sana." Elin berjalan cepat ke pojok ruangan lalu mengambil dua gelas plastik yang ada di tasnya. Ia selalu membawa gelas sendiri ketika bepergian ke luar kota. "Ini, Mas. Biar saya aja sini yang nuangin."


Elin membuka plastik teh hangat dengan hati-hati, ia lalu menuangkan cairan itu ke dalam gelas, tetapi naas ketika ia mengisi gelas kedua, isinya justru tumpah kemana-mana. Elin terkesiap, begitu juga dengan Galang.


"Aduh, maaf!" pekik Elin yang melihat celana serta kemeja basah karena air teh.


Elin berlari ke tasnya lalu mengambil kain secara asal untuk mengelap dada Galang yang basah. Aksinya itu sontak membuat Galang merasa gugup setengah mati, ia menatap wajah cantik Elin yang begitu dekat dengannya. Elin tak sadar bahwa ia sedang mengamatinya sambil tersenyum tipis.


"Ini nggak papa, cuma basah," ujar Galang seraya menggenggam tangan Elin.


Elin terkesiap. "Tapi ini basah."


"Nggak masalah." Galang hampir merapikan pakaiannya ketika tiba-tiba terdengar jeritan ponsel. Ia merogoh ponselnya dari kantong, beruntung ponselnya aman dari guyuran teh. "Halo ... apa? Kesurupan lagi? Pagi-pagi gini? Ah! Oke! Saya ke sana sekarang." Galang menyimpan ponselnya. "Maaf, El. Saya harus ke lokasi lagi. Kayaknya ada yang genting. Kamu ... bisa di sini sampai kamu ngerasa baikan. Kalau belum ada yang jemput, nanti telepon saya saja."

__ADS_1


Galang pun meninggalkan ruangan Elin dan dengan cepat menyusuri koridor. Ia baru mengancingkan kemejanya yang terbuka karena ulah Elin barusan, ia segera mengenakan jaket sembari berjalan karena udara disana cukup dingin. Karena ia berjalan cepat sambil menunduk ia tidak sadar bahwa ia sudah berpapasan dengan Ariel. Kedua mata Ariel sejak tadi menatap Galang. Ia ingin menyapa Galang dan bertanya tentang kondisi Elin, tetapi ia hanya berdecak jengkel.


"Galang ngapain keluar dari kamar Elin?"


__ADS_2