Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
50. Elin Mengunci Diri


__ADS_3

Ariel menatap Elin yang tampak linglung. Ia mendekati Elin karena khawatir, tetapi ia juga merasa agak malu. Elin memalingkan wajah darinya lalu mengusap air matanya.


"El, kamu di sini dari tadi?" tanya Ariel seraya berjongkok di depan Elin.


Elin menggeleng pelan di depannya. "Maaf, aku ... aku nggak bermaksud buat di sini."


Ariel mencelos. Suara Elin yang bergetar membuatnya merasa lebih bersalah. "Kenapa kamu minta maaf. Aku yang ...."


"Aku nggak bermaksud dengerin kalian. Aku cuma mau makan dan balik ke kamar. Tapi ... aku nggak sengaja." Elin berdiri dengan limbung hingga Ariel mencoba membantunya, tetapi Elin segera menepis tangan Ariel.


"El, aku yang minta maaf," kata Ariel. "Seharusnya aku nggak ngelakuin itu di sini sama Sinta. Aku nggak tahu kamu di dapur."


Elin kembali menggeleng. "Aku mau minum, Kakak ke atas aja sama istri Kakak."


Ariel menatap Elin yang berjalan dengan lunglai menuju dapur. Ia membuang napas panjang. Perasaannya sungguh tak keruan. Ia pun menyusul Elin ke dapur. Ia juga tak tahu apa yang harus ia katakan, haruskah ia minta maaf lagi atau ia harus bagaimana untuk membuat perasaan Elin jauh lebih baik.


"El, aku mau ngomong sama kamu," kata Ariel. Ia memperhatikan Elin mengambil gelas kosong dari atas konter. Tangan gemetar itu mengambil teko kaca lalu berusaha menuangkan isinya ke gelas. "El, sini aku bantuin."


Ariel mencoba mengambil teko itu dari tangan Elin, tetapi Elin dengan cepat melepaskan pegangan hingga toko kaca itu jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Jelas sekali, Elin tak ingin ia sentuh.


"Ada apa, Mas?"


Ariel menoleh sekilas ketika mendengar suara Sinta, tetapi ia kemudian menunduk pada Elin yang berjongkok untuk memunguti pecahan kaca.


"Biar aku aja," ujar Ariel seraya ikut berjongkok dan membantu Elin. Ia mendengar langkah Sinta mendekat.


Sama seperti Ariel, Sinta juga terkejut melihat Elin sedang menangis. Bagaimana Elin bisa ada di sini? Apakah sejak ia dan Ariel pulang? Itu artinya, Elin tahu ia sedang bercinta dengan Ariel di sofa ruang tengah? Karena itukah Elin menangis sekarang? Karena Sinta tahu bagaimana perasaan Elin terhadap Ariel, ia yakin Elin sudah terluka malam ini. Sinta pun menarik cardigannya lebih rapat karena ia belum berpakaian dengan sempurna.

__ADS_1


"El, maaf," ujar Ariel yang semakin merasa tak enak.


"Aah!" Elin tiba-tiba memekik ketika ujung telunjuknya tergores oleh pecahan kaca. Elin mengangkat tangannya hingga darah segar menetes di lantai.


"Astaga, kamu hati-hati," kata Ariel. Ia mengulurkan tangan untuk memeriksa luka Elin. Namun, dengan cepat Elin menggenggam telunjuk kanannya dengan telapak tangan kiri.


"Aku ambilin obat," ujar Sinta panik.


Ariel menatap wajah Elin yang semakin memucat dan basah. "Biar aku liat lukanya. Jari kamu nggak boleh terluka."


"Kenapa?" Elin membalas tatapan Ariel dengan sengit kali ini. "Apa Kakak peduli? Aku nggak nulis lagi sekarang! Aku udah jadi pengangguran! Nggak usah pura-pura peduli sama aku!"


Elin berdiri tepat ketika Sinta muncul dengan kotak P3K. Ia menatap Sinta dengan perasaan tak keruan. Ia berjanji pada Sinta untuk tidak menggunakan perasaannya terhadap Ariel apapun yang terjadi, tetapi malam ini semuanya terasa begitu menyakitkan baginya.


"Diobatin dulu, El," kata Sinta seraya membuka kotak obat.


"Aku nggak papa." Elin berjalan melewati pecahan kaca tanpa peduli telapak kakinya terasa pedih kali ini. Ia hanya ingin sendirian, ia tak ingin melihat Ariel maupun Sinta lagi.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Sinta yang masih tidak begitu mengerti.


"Elin ... Elin ngeliat kita tadi, dia denger kita bercinta!" jawab Ariel getir. Di depannya Sinta ternganga. "Aku ... seharusnya kita nggak ngelakuin itu."


"Itu bukan salah kamu, Mas. Kita sama-sama nggak tahu Elin ada di belakang," tukas Sinta meyakinkan. Ia memeluk lengan Ariel.


"Tapi dia nangis!" sergah Ariel. "Dia pasti sakit hati gara-gara aku."


Sinta tersenyum miring. Yah, itu sudah pasti. Elin sangat mencintai Ariel jadi Elin pasti sangat cemburu dan terluka melihat Ariel sedang bercinta dengannya. Itulah yang ia rasakan ketika Ariel harus meniduri Elin 4 bulan yang lalu. Meskipun ia tidak melihat atau mendengar, hatinya seperti dicabik-cabik.

__ADS_1


"Jadi kamu kamu ngapain?" tanya Sinta.


Ariel menggeleng gusar. "Aku nggak tahu. Aku mau minta maaf. Aku harus bikin Elin lebih tenang. Dia bahkan terluka. Sini obatnya."


Sinta berdecak kesal melihat Ariel dengan buru-buru berlari menaiki anak tangga. Ia juga merasa agak malu karena ketahuan sedang bercinta oleh Elin, tetapi itu bukan salahnya. Elin hanya sedang berada di tempat dan waktu yang salah.


Tok! Tok!


Ariel mengetuk pintu kamar Elin beberapa kali. Ia mencoba memutar kenop pintu, tetapi pintu itu terkunci dari dalam. Padahal biasanya Elin tidak pernah mengunci pintu kamar. Rasa bersalah semakin menyerang hati Ariel. Ia tidak bisa tenang jika belum bicara dengan Elin.


"Elin! Ayo kita bicara," ujarnya seraya memukul daun pintu. "Kita obati dulu luka kamu, plis."


Ariel mendorong daun pintu, memukulnya dan mengetuk. Ia benar-benar merasa frustasi sekarang. Ia ingat, Elin pernah marah seperti ini padanya beberapa tahun yang lalu ketika ia lupa untuk menjemput Elin dari sebuah acara perlombaan dan justru asyik berpacaran dengan mantan kekasihnya dulu. Elin tidak mau bicara dengannya berhari-hari lantaran kesal sudah menunggu di sana hingga malam tiba.


"El, aku minta maaf," ujar Ariel lemah.


"Mungkin dia butuh waktu, Mas." Sinta baru saja menyusul Ariel. Ia menyentuh bahu tegang suaminya. "Biarin istirahat aja dulu. Kamu juga. Besok pagi kamu boleh ajak ngobrol Elin."


Ariel menatap Sinta kesal. "Gimana kalau Elin marah besar sama kita?"


"Kenapa? Dia nggak punya hak buat marah, Mas. Bukan salah kita kalau kita berduaan tadi," ujar Sinta mengingatkan. "Lagian, Elin udah janji sama aku buat nggak pakai perasannya, dia nggak berhak cemburu sama kita, apalagi marah, Mas. Dia cuma istri jadi-jadian kamu!"


Ariel melebarkan kedua matanya karena tak percaya mendengar ucapan Sinta. Yah, meskipun itu mungkin benar. Ia tidak pernah memandang Elin sebagai istri sungguhan, ia berusaha seperti itu selama ini. Namun, malam ini melihat Elin begitu rapuh dan terluka rasanya semua berubah. Ia tidak ingin Elin merana gara-gara dirinya.


"Tetep aja, aku bersalah sama Elin." Ariel membalik badan lalu melangkah ke kamarnya. Ia duduk dengan gusar di tepi ranjang. Ia harus minta maaf dengan Elin. Ia pun mencoba menelepon nomor Elin, tetapi Elin tidak menjawab.


"Udahlah, Mas. Kamu nggak usah begitu cemas. Elin mungkin cuma kaget ngeliat kita tadi," kata Sinta seraya duduk di sebelah Ariel. Ia mengambil ponsel Ariel lalu meletakkannya di atas nakas. "Kita istirahat aja. Kamu udah ngantuk kan?"

__ADS_1


Ariel mengangguk. Ia hanya tak ingin berdebat dengan Sinta. Karena sebenarnya ia sungguh ingin menyelesaikan masalah ini dengan Elin. Ia tak ingin Elin lebih terluka karena dirinya.


Dengan gusar, Ariel pun membaringkan dirinya di sebelah Sinta. Seperti biasa, Sinta mendekapnya erat-erat seolah tak ingin ia pergi. Sementara dirinya tak bisa lekas tidur. Bayangan Elin yang menangis terus terngiang di benak Ariel malam itu.


__ADS_2