
"Apa yang udah aku lakuin?" Ariel membuang napas panjang setelah ia menutup pintu kamarnya. Dengan gelisah, ia meraba bibirnya. Ia baru saja menempelkan bibirnya ke bibir merah Elin. Dingin, lembut dan tanpa perlawanan meskipun hanya sejenak.
Ariel menggeleng pelan ketika ia menyadari ia sedang berdebar tak keruan. Ia sudah mencoba bersikap seolah tak terjadi apapun di depan Elin, tetapi ia tidak bisa berdusta, ia sangat gugup sekarang.
Ariel mengusap wajahnya dengan gusar. Entah apa yang dipikirkan Elin karena aksinya barusan. Ia merasa tidak nyaman, bersalah sekaligus merasa bodoh. Ia memang pernah menikmati bibir bahkan tubuh Elin, tetapi itu hanya semata-mata karena ia membutuhkannya. Dan sekarang? Apa yang ia lakukan?
Ariel tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan di kepalanya. Ia tak ingin terlena, ia memiliki sebuah perjanjian di atas kertas. Ia tidak boleh melakukan itu lagi pada Elin.
Ariel terduduk di tepi ranjangnya lalu menatap wajah lelap Sinta. Ia juga tidak boleh melakukan itu lagi demi Sinta. Sinta sudah sangat terluka dengan pernikahannya, dengan keputusan mereka untuk menghamili Elin. Jika ia bersikap seperti itu lagi pada Elin, ia hanya akan membuat Sinta semakin merana.
"Maaf, Sayang," ujarnya lirih. Ia mencium kening Sinta sebelum akhirnya berbaring.
Sinta bergerak pelan ketika Ariel memeluk tubuhnya. Ia mengernyit ketika mencium aroma stroberi pada suaminya. "Kamu nggak tidur, Mas?"
"Ehm, tadi kebangun aja. Kamu bobo lagi, Sayang." Ariel mengusap-usap punggung Sinta dengan lembut agar istrinya segera kembali tidur.
"Kamu makan sesuatu, Mas?" tanya Sinta dengan nada curiga. Seingatnya, Ariel tidak begitu suka makanan yang berasa stoberi.
"Ya, tadi ... aku nyicipin kue buatan kamu," ujar Ariel berbohong.
Sinta hanya mengangguk-angguk pelan di pelukan Ariel. Ia masih sangat mengantuk dan lemas karena sedang sakit. Jadi, dengen belaian lembut Ariel, ia kembali tertidur dengan cepat.
Sementara itu, Ariel masih terjaga, ia tidak bisa tidur karena ia masih mengenang apa yang ia lakukan di dapur pada Elin. Ariel mencoba menepis apa yang terus ia bayangkan, tetapi ia tak bisa. Ia menyugar rambutnya dengan gelisah.
'Nggak mungkin, aku nggak mungkin jatuh hati sama Elin.' Batin Ariel bergejolak. Tidak mungkin karena sebuah kecupan ia mulai menyukai elin. Namun, sesungguhnya hubungan mereka sudah lebih jauh daripada sebuah kecupan. Dan Ariel tidak bisa mengerti dengan perasaannya yang tak keruan malam itu.
***
Keesokan harinya, Ariel benar-benar tidak berangkat kerja meskipun Sinta sudah jauh lebih sehat. Ariel selalu seperti ketika Sinta tidak enak badan, ia akan memilih bekerja di rumah selama 1 atau 2 hari. Dan pagi itu, ia hendak menyiapkan sarapan untuk Sinta.
__ADS_1
"Aku udah bisa masak, Mas. Kalau kamu yang masak nanti jadinya pasti aneh," ledek Sinta seraya berusaha turun dari ranjang.
"Nggak, Sayang. Kamu di sini aja. Nanti makanannya aku bawain ke kamar. Oke?"
Sinta mencebik. "Emang kamu bisa masak? Beli aja deh daripada nanti dapur nggak keruan."
Ariel mencubit gemas hidung istrinya. Ia memang tidak berbakat dalam memasak, paling-paling ia hanya bisa membuat bubur, itu pun terkadang ia akan menggosongkan bagian bawah panci dan rasanya agak sangit.
"Roti bakar aja. Kamu mau? Aku bisa kalau itu. Nanti aku buatin susu juga," ujar Ariel.
"Ya udah terserah kamu aja," kata Sinta sepakat. "Ehm, apa Elin nggak masak? Nanti dia sarapan apa?"
"Nggak tahu, nanti aku liat sekalian," jawab Ariel gugup. Mendengar nama Elin membuatnya sedikit berdebar, bayangan adegan semalam kembali hadir tiba-tiba.
Ariel menuruni anak tangga dengan langkah perlahan. Ia memicingkan mata karena hendak melihat adakah orang di dapur. Jika ia hanya berdua saja dengan Elin, ia tak tahu apa yang akan terjadi. Ariel membuang napas panjang ketika ia menemukan Elin sedang berkutat di dapur.
"Kamu masak?" tanyanya seraya membuka lemari penyimpanan roti. Ia memasukkan roti ke alat pemanggang.
Ariel menoleh pada Elin yang terlihat pucat. Elin selalu pucat setiap pagi, mungkin karena belum makan atau mungkin karena ia muntah-muntah. "Kamu masih mual muntah?"
"Mual aja tadi," jawab Elin tanpa menatap Ariel.
"Harusnya kamu bilang kalau kamu pengen sesuatu. Nanti kamu capek kalau masak. Aku kan juga nggak kerja hari ini," ujar Ariel.
"Nggak papa, daripada di kamar gabut. Mbak Sinta juga nggak masak jadi aku bisa pakai dapur bentar," tukas Elin. Ia mengambil 1 mangkuk kecil lalu mengisinya dengan bubur. "Kakak mau? Ini ada banyak, buat Mbak Sinta juga cukup."
"Ya, nanti deh." Ariel dikagetkan dengan roti bakar yang mencuat dari alat panggangan. Ia mengambil 2 lembar roti tersebut lalu menyiapkannya di piring. Ia melirik Elin yang sedang mengatur topping di atas bubur buatannya.
Ragu-ragu, Ariel mendekat ke arah Elin. Rasanya, ia ingin bicara tentang apa yang ia lakukan semalam. Ia tak ingin Elin salah paham.
__ADS_1
"El, aku ngomong," kata Ariel. Elin menoleh sekilas padanya lalu kembali menunduk dan menaburkan kacang goreng di atas bubur. "Ini tentang yang semalam. Jadi, sebenernya aku ...."
"Kakak nggak usah jelasin. Aku ngerti kok," potong Elin cepat. Elin mengambil sendok dari rak lalu mengangkat mangkuknya. "Ah! Panas!" pekiknya.
"Hati-hati dong," ujar Ariel panik. Ia menarik tangan Elin lalu membawanya ke wastafel. Ia mengalirkan air dingin ke kedua telapak tangan Elin yang kepanasan.
"Ini nggak papa kok. Cuma panas dikit," kata Elin dengan suara bergetar. Ia jelas berdebar karena Ariel memegangi erat tangannya.
"Nanti merah kalau nggak ditangani, tangan kamu kan buat nulis. Jangan sampai sakit," kata Ariel. Ia menoleh ke bubur Elin yang masih mengepulkan uap panas. Mungkin pembicaraan yang ia bawa tadi sudah membuat Elin gugup.
"Ini udah nggak panas, Kak. Serius." Elin menarik tangannya, kali ini Ariel melepaskan.
Ariel mengambil piring lalu dengan hati-hati memindahkan bubur Elin ke meja makan. "Pakai alas piring biar nggak panas." Elin mengangguk. Ia masih bersandar di wastafel. "Ya udah, kamu makan dulu. Kamu mau minum apa biar aku buatin."
"Nggak usah, air aja," ujar Elin seraya berlalu dari dapur.
Ariel menatap cemas punggung Elin. Ia membuang napas panjang lalu teringat bahwa ia harus menyiapkan sarapan untuk Sinta. Ia segera meletakkan piring berisi roti bakar di atas baki. Ia menyiapkan beberapa selai kesukaan Sinta di sana karena ia tak tahu mana yang diinginkan oleh istrinya itu.
"Aku ambil buburnya ya," kata Ariel pada Elin.
"Ya." Elin menjawab singkat.
Ariel masih merasakan ganjalan dal hatinya karena ia belum menyelesaikan ucapannya tentang kejadian tadi malam. Haruskah ia melupakannya begitu saja? Elin bahkan tidak ingin membicarakannya.
Ariel segera mengambil mangkuk, mengisinya dengan bubur lalu menaruh beberapa topping kesukaan Sinta di sana. Ia lantas mengangkat baki tersebut. "Aku naik dulu. Bentar lagi mungkin Budhe Sarti datang. Nanti diajak sarapan bareng aja."
"Oke. Kakak jangan lupa sarapan juga," ujar Elin mengingatkan.
Ariel meninggalkan ruang makan dengan cepat. Ia ingin menemani Elin makan di bawah, tetapi ia juga harus membawakan sarapan untuk Sinta ke kamar.
__ADS_1
"Wah, Mas. Kamu beli bubur ayam juga?" tanya Sinta ketika melihat menu sarapan yang dibawakan oleh Ariel.
"Nggak beli kok. Tadi Elin masak itu." Ariel merasakan tatapan tak enak dari Sinta. Sinta bahkan terlihat cemberut. Ia tidak tahu bahwa kemarin Sinta dan Elin sempat berseteru. "Kenapa, Sayang? Kamu nggak mau makan masakan Elin?"