
Elin tak berkutik dengan ucapan Sinta. Yah, setelah bayinya lahir ia akan disembunyikan oleh Ariel. Ia sudah mendengar bahwa Ariel tengah menyiapkan rumah untuknya nanti. Ia mungkin tak akan mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan bayi itu ketika ada sang ibu.
"Kamu tidur aja kalau mau tidur. Jangan lupa, nanti siang kamu bersih-bersih rumah," kata Sinta seraya berdiri puas. Ia sangat senang melihat wajah Elin memucat. Ia tak tahu bahwa rasa kesal Elin sudah bertumpuk-tumpuk hari itu.
Elin menelentangkan dirinya. Dengan lembut ia mengusap perutnya. Jika ibunya datang setelah bayi ini lahir, semua akan aman. Namun, akan jadi masalah jika ibunya datang lebih cepat. Tidak! Ia tak boleh ketahuan, pikir Elin.
Elin pun berniat mengecek rencana ibunya untuk datang ke Indonesia. Ia tak ingin ibunya melihat ia dalam keadaan hamil anak Ariel. Ia pasti akan dianggap sebagai anak durhaka tak tahu terima kasih.
Elin menatap jam di dinding, barangkali Gladis sudah bangun tidur atau mungkin Gladis sedang belajar di sana karena anak itu tidak mengenal waktu dan hanya menghabiskannya dengan berkutat bersama pelajaran dan buku.
Elin: Denger-denger Mama mau pulang ke Indonesia. Kapan? Kamu tahu, Dis?
Elin menunggu beberapa saat hingga pesannya untuk Gladis berubah menjadi 2 centang biru. Gladis mengetik di seberang.
Gladis: Mungkin 6 bulan lagi sekalian aku juga mau liburan di Indonesia. Mama kan nunggu aku libur kuliah. Kenapa, Kak?
Elin: Tanya aja.
Gladis: Nanti aku bawain oleh-oleh. Tenang aja.
Elin: OK.
Elin bernapas lega. Setengah tahun lagi, sementara bayinya akan lahir sekitar 3,5 bulan lagi. Itu aman. Ibunya tak akan tahu ia sedang mengandung anak Ariel.
Setidaknya, itulah yang diharapkan oleh Elin. Meskipun sebenarnya, setengah hati Elin juga ingin agar orang tuanya tahu. Barangkali, ia akan diterima. Barangkali, ia akan diakui sebagai menantu. Namun, membayangkan itu hanya membuat Elin tertawa getir. Karena ia tahu betul sifat ibu dan ayahnya. Ia tak akan pernah diterima. Jadi, ia hanya bisa berharap saja agar ia tidak ketahuan.
***
Hingga malam menjelang, Ariel tak melihat Elin. Ia masih ingin bicara dengan Elin tentang apa yang ia katakan pagi tadi. Setidaknya, ia ingin membuat Elin merasa jauh lebih baik dan tidak mendiamkan dirinya.
__ADS_1
"Elin nggak turun?" tanya Ariel ketika ia dan Sinta bersiap untuk makan malam.
"Nggak tahu. Tadi katanya mau makan di kamar. Jadi udah aku siapin makanannya. Itu udah nggak ada, udah diambil mungkin," jawab Sinta.
"Ehm, gitu."
"Kenapa sih, Mas?" tanya Sinta bosan. Ia duduk di kursi lalu mulai mengambil nasi untuk Ariel. "Udah ayo makan."
"Iya, Sayang." Ariel tak ingin ada keributan, jadi ia memilih menuruti Sinta. Mungkin nanti ia bisa bicara dengan Elin.
"Miko dapat shift pagi terus ya, Mas?" tanya Sinta untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Iya, soalnya dia ambil kuliah malam," jawab Ariel. Ia menatap Sinta bingung, tak biasanya Sinta peduli dengan orang-orangnya. "Kenapa kamu tumben tanyain Miko?"
"Nggak kok. Penasaran aja. Yang lain ada ganti shift kok dia sendiri enggak," tukas Sinta. "Tadi kamu kan nggak jadi sarapan, Mas. Jadi aku kasih ke Miko aja roti bakarnya. Sayang dibuang. Aku sempat ngobrol dikit sama dia."
"Oh, gitu. Maaf ya, tadi nggak jadi makan sarapan buat kamu," kata Ariel.
"Makasih, Sayang."
Sinta begitu senang karena malam itu ia hanya makan berdua saja dengan Ariel. Setelah makan malam, Ariel terlihat menekuni pekerjaannya di depan laptop. Karena hari ini ia hanya berangkat setengah hari, pasti ada banyak hal yang perlu ia kerjaan.
Sinta pun memanfaatkan ini dengan bersiap di kamar mandi. Ia sudah mandi sore, tetapi karena malam ini Ariel akan tidur dengannya ia kembali membersihkan dirinya dan berdandan secantik mungkin. Ia juga mengenakan pakaian dalam yang seksi agar Ariel tidak berpaling darinya.
Namun, ketika Sinta keluar dari kamar mandi, ia melihat Ariel hendak keluar kamar. "Mas, kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke kamar Elin malam ini," kata Ariel. Ia kembali menutup pintu karena melihat Sinta sudah cemberut.
"Semalam kamu kan udah sama Elin. Apa kamu mau tidur lagi sama dia?" tanya Sinta dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Aku udah bikin Elin marah tadi pagi, jadi aku mau minta maaf," kata Ariel.
"Bohong kamu, Mas. Aku liat bercak merah di leher Elin. Kamu udah asyik-asyik sama Elin kan tadi pagi? Apa masih kurang?" tanya Sinta dengan berkacak pinggang.
Ariel membuang napas panjang. "Aku cuma mau minta maaf. Kamu liat kan, Elin nggak mau nongol pas aku di rumah. Itu karena dia lagi marah sama aku. Jadi, aku mau nemenin dia malam ini. Aku harap kamu ngerti, Sin."
"Nggak! Aku nggak ngerti! Aku nggak terima, Mas."
"Elin cuma tidur seminggu sekali sama aku!" hardik Ariel. "Selebihnya buat kamu. Kenapa sih kamu ini nggak bisa ngerti?"
Sinta menelan keras mendengar Ariel meneriakinya. Ia benar-benar marah sekarang. Elin sudah berhasil membuat Ariel mengabaikannya, Ariel juga lebih memilih bersama dengan Elin! Itu sangat menyebalkan.
"Aku udah bicara nggak enak sama Elin makanya aku harus minta maaf. Kamu masih nggak ngerti?" tanya Ariel.
"Kamu benar-benar berubah, Mas," kata Sinta. Ariel membuang napas panjang di depannya. "Elin terus! Elin lagi dan lagi! Kamu udah semaleman sama dia, pagi tadi dia juga sama kamu. Dan sekarang, kamu juga mau sama Elin? Kamu lupa, aku istri pertama kamu!"
"Karena kamu istri pertama aku, makanya kamu harus bisa ngerti, Sayang," kata Ariel. "Seharusnya kamu tahu, aku lebih banyak sama kamu."
"Aku nggak mau kamu keluar dari kamar ini, Mas. Aku mau kamu di sini sama aku malam ini," kata Sinta dengan kedua lengan di depan dadanya.
"Maaf, tapi aku nggak bisa. Aku harus minta maaf sama Elin. Besok pagi aku ke sini," kata Ariel seraya membuka pintu.
"Mas!" seru Sinta memanggil. Ia mengacak rambutnya frustasi. Dengan kesal ia mendudukkan dirinya di atas ranjang. "Bisa-bisanya Mas Ariel milih sama Elin! Awas kamu Elin. Dasar penggoda! Kamu pasti hanya ingin merebut perhatian Mas Ariel dari aku. Kenapa Elin harus pura-pura marah dengan Mas Ariel?"
Sementara itu, Ariel berhenti di depan pintu kamar Elin. Ia hendak mengetuk, tetapi akhirnya ia langsung masuk saja. Kamar Elin sudah gelap dan Elin terlihat sudah tidur nyenyak. Dengan hati-hati, Ariel pun duduk di tepi ranjang Elin. Ia menyibak selimut Elin lalu turut berbaring di belakang punggung istri keduanya itu.
Dengan lembut Ariel melingkarkan lengannya ke tubuh Elin. Ia membuang napas panjang lewat mulutnya karena ini ia berdebar keras. Ia ingin bicara dengan Elin, tetapi ia juga tak ingin mengganggu tidur Elin. Jadi ia hanya diam memeluk tubuh Elin.
Tak lama, Elin pun membuka mata. Ia merasakan tangan besar Ariel menyentuh perutnya. Ia begitu kaget karena tadi malam ia sudah ditemani Ariel dan kini ... ia membalik badan.
__ADS_1
"Kenapa Kakak di sini?"