
"Kakak nggak usah sok peduli sama aku! Kakak cuma peduli sama bayi ini kan? Kakak khawatir kalau bayinya kenapa-kenapa!"
Ariel membuang napas panjang. "Aku juga khawatir sama kamu. Sangat!" Ariel meraih tangan Elin lalu menariknya. "Nggak usah bicara sembarangan, aku benar-benar cemas ketika kamu pergi. Kita ke kamar kamu sekarang. Aku beneran nggak mau kamu sakit."
Elin masih cemberut, tetapi ia menurut karena memang ia sudah sangat kedinginan. Sembari berjalan di sebelah Ariel, ia melirik pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ariel terlihat begitu berantakan. Kemeja putihnya mencuat begitu saja dari celana panjang di bagian belakang. Bahkan rambut Ariel tampak tidak disisir rapi.
"Jauh banget motelnya, kamu jalan-jalan di pantai sendirian atau kamu emang janjian sama Galang?" tanya Ariel.
"Aku nggak janjian. Pak Galang tiba-tiba aja muncul. Dia lagi ada kerjaan," jawab Elin. "Aku suntuk, jadi aku keluar tapi nggak sadar aku udah jalan jauh sampai pantai."
"Harusnya kamu bawa jaket, dingin banget di sini," ujar Ariel ketika mereka memasuki lobi motel.
Elin menarik lengan Ariel kini. Ia menekan tombol naik di lift lalu menunggu benda kotak itu membuka pintunya. Elin menekan tombol 7 di sana lalu bersama Ariel, ia pun berada di lift sama beberapa detik. Elin berdebar keras ketika pintu lift terbuka, ia akan ke kamarnya bersama Ariel. Apakah Ariel akan bermalam di sana? Apakah mereka akan tidur 1 ranjang?
"Kakak nggak mau nyewa kamar lain?" tanya Elin. Ia menoleh pada Ariel ketika mereka tiba di depan pintu. Dengan gugup Elin membuka pintu kamar.
"Aku bisa tidur di sofa," kata Ariel setelah memperhatikan isi kamar.
Elin hanya mengangkat alisnya. Yah, ini tidak seperti yang ia bayangkan barusan! Dan ia menyesal sudah membayangkan hal-hal kotor di benaknya.
"Kamu beneran tinggal di sini selama 5 malam 5 hari?" tanya Ariel seraya duduk di kursi yang tadinya dipakai Elin untuk bekerja.
"Ya. Aku menyewa untuk 7 hari. Aku mau pergi setelah ini," jawab Elin.
"Ke mana?"
"Aku nggak tahu. Belum kepikiran. Tapi aku nggak mau pulang." Elin duduk di tepi ranjang hingga ia bisa berhadap-hadapan dengan Ariel.
__ADS_1
"Kamu harus pulang, kamu tahu itu. Kita punya per ...."
"Aku tahu kita punya perjanjian!" potong Elin. Ia menggeleng pelan. "Tapi rasanya, aku nggak bisa tinggal bersama Kakak dan Mbak Sinta lagi. Aku ... jangan khawatir, aku bakal kasih bayi ini setelah dia lahir."
Ariel menatap Elin dengan perasaan tak menentu. Bibirnya bergetar pelan, tetapi ia tak tahu harus bicara apa untuk membujuk Elin atau membuatnya merasa lebih baik.
"Bayinya perempuan. Aku udah ke dokter tadi siang," kata Elin. Ia mengeluarkan selembar foto hasil USG lalu mengulurkannya pada Ariel. "13 sentimeter, 155 gram. Dia sehat."
Ariel menatap foto janin itu dengan saksama. Kedua matanya mengembun seketika karena ia ingat wajah bayinya yang telah tiada. Ia sama sekali tidak bisa melupakan bayi mungil tak bernyawa yang hanya bisa ia peluk selama beberapa kali. Bayi itu tidak bernapas, begitu pucat dan dingin. Ia bahkan belum sepakat untuk memberikan nama pada bayi itu. Namun, ketika dikebumikan, Ariel langsung memanggilnya Arinta.
"Alhamdulillah, aku senang kalau dia baik-baik saja dan begitu sehat," ujar Ariel. Ia meletakkan foto itu di atas meja lalu kembali menatap Elin. "Bagaimana kondisi kamu? Kamu juga baik-baik aja? Kamu sudah makan?"
Elin mengangguk walaupun sekarang perutnya terasa kosong kembali setelah lelah berjalan-jalan.
"Aku lapar," kata Ariel. "Aku juga belum mandi dan nggak bawa baju ganti."
"Kakak bisa pesan layanan kamar. Tapi ini udah malem banget."
"Yang hangat mungkin," jawab Elin.
"Oke. Kamu tunggu di sini. Jangan lupa, kamu harus buka pintunya kalau aku ketuk. Dan, aktifkan ponsel kamu." Elin tidak merespon ucapan Ariel. "Plis, kamu nggak mau bikin Mama sama Papa ikut cemas kan kalau nggak bisa dihubungi?"
"Oke," jawab Elin.
Ariel mengangguk lalu ia mengusap puncak kepala Elin dan mendekap Elin yang masih terduduk di tepi ranjang. "Kita belum selesai bicara, kita harus makan sesuatu dulu supaya bisa bicara dengan tenang. Oke?"
Elin mengangguk dengan jantung berdebar tak keruan. Ia menatap Ariel yang tak lama lenyap di balik pintu. Ariel akan datang lagi ke kamar ini. Untuknya. Mau tak mau, Elin tersenyum tipis. Entah bagaimana, ia tetap menyukai hal itu.
__ADS_1
***
Ariel kembali dengan banyak makanan. Ada ayam bakar plus nasi putih hangat, wedang jahe dan beberapa jajanan yang dibeli di minimarket. Ariel juga membeli beberapa setel pakaian untuknya. Entah di mana Ariel membelinya, pikir Elin.
"Aku senang kamu udah bisa makan kayak gini," ujar Ariel. Ia melihat Elin meremas kertas pembungkus nasi dan ayam yang telah bersih tak bersisa.
"Aku gampang laper sekarang. Tadi udah makan sebenarnya," jawab Elin. Ia bahkan sudah bertambah berat badan. Dokter berkata bahwa ia bisa mengalami lonjakan berat badan setelah 3 bulan pertama ia kehilangan berat badannya.
"Nggak apa, yang penting kamu sehat. Bayi kita juga," ujar Ariel.
Elin melebarkan matanya ketika Ariel menyebut bayi itu sebagai bayi kita. Apakah ia salah dengar lagi? Atau memang Ariel berkata demikian?
"Aku mau mandi dulu, aku seharian nggak mandi. Ini udah mau tengah malam," ujar Ariel.
"Ya, aku buang sampahnya sama cuci tangan duluan," kata Elin seraya mengumpulkan sampah ke dalam kantong plastik.
"Kamu cuci tangan aja. Biar aku yang buang. Kamu udah ngantuk banget kan?"
Elin mengangguk. Ia memang sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Ia pun lekas mencuci tangan, menggosok gigi dan membasuh wajahnya, lalu kembali ke kamar. Di sana ia dibuat berdebar lantaran Ariel baru saja mencopot kemeja dan singletnya hingga menampakkan dada bidang serta punggung lebarnya. Wajah Elin memanas seketika.
Elin membaringkan dirinya di ranjang dengan posisi memunggungi Ariel. Ia sudah berdebar tak keruan karena pemandangan beberapa detik itu. Tak lama, ia mendengar suara air yang beradu dengan tubuh Ariel. Yah, Ariel pasti sedang mandi. Imajinasi Elin seketika bekerja.
"Apa yang aku pikirin?" Elin menoleh ke arah daun pintu kamar mandi yang ternyata tidak tertutup rapat. Ah, ia tak tahu apakah Ariel sengaja atau tidak, tetapi ini mengganggunya. Karena tak ingin berimajinasi liar, Elin pun memasang headset di ponselnya. Ia menyetel lagu-lagu kesukaannya untuk meredam pemikiran gila di kepalanya. Lagipula, Ariel akan tidur di sofa. Untuk apa ia memikirkan hal-hal yang tak masuk akal!
Elin mencoba untuk tidur, tetapi ia tak bisa. Kantuknya seolah menguap begitu saja meskipun ia sudah mendengarkan lagu-lagu. Ia bahkan semakin berdebar ketika mencium aroma segar shampo Ariel. Pria itu pasti sudah selesai mandi, pikir Elin.
Mau tak mau Elin pun membuka mata meskipun ia tak berani menoleh. Rasanya sungguh tak aman berada 1 ruang dengan Ariel. Elin semakin berdebar ketika merasakan aroma segar itu semakin tajam di hidungnya. Apakah Ariel sedang mendekat atau sedang menyisir rambut?
__ADS_1
Pertanyaan itu terjawab ketika Elin merasakan sisi kasurnya melesak di bagian belakang punggung. Jantung Elin seolah mau meletup sekarang, ketika tangan dingin Ariel mendarat di perutnya dari arah belakang. Tak lama, Elin merasakan punggungnya nya sudah ditempeli oleh dada keras Ariel. Oh, ini sungguh gila!
"Sofanya sempit, aku tidur di sini aja."