
"Mas, udah dong manjatnya. Ini udah lumayan buahnya," kata Sinta seraya menengadah ke cabang pohon di mana Ariel sedang memilih beberapa buah mangga untuk ia petik lagi.
"Iya bentar, itu ada lagi yang masak," ujar Ariel. Ia menjulurkan tangannya ke arah beberapa buah yang tak jauh darinya. Bibir Ariel menyunggingkan senyum tipis. Ia ingat, bertahun-tahun yang lalu ia sering memetikkan buah untuk ibu dan adik-adiknya. Elin dan Gladis akan berebut buah yang ia lemparkan dari atas sementara ibu mereka akan meneriakinya agar ia berhati-hati.
"Pelan-pelan, Mas!" pekik Sinta saat Ariel melompat turun dari pohon. "Ya ampun, kamu ini!"
Sinta memukul lengan Ariel ketika pria itu justru tertawa karena melihat Sinta begitu cemas. "Aku tuh jago manjat, kamu nggak usah khawatir gitu dong."
"Iya kan lumayan tinggi, Mas. Aku nggak kamu kenapa-kenapa," kata Sinta cemberut.
"Tenang aja. Ini biar aku bawa ke dalam, nanti kita pilih mana yang udah masak sama yang mengkal."
Sinta mengangguk. Ia mengikuti langkah Ariel ke dapur melalui pintu belakang rumah besar itu. Sinta tidak pernah tinggal di sana karena setelah menikah ia langsung tinggal di rumah Ariel yang ada di luar kota.
"Mas, rumahnya nggak ada niatan mau dikontrakin apa gimana nih?" tanya Sinta yang sedang mengamati Ariel memilah buah.
"Nggak. Kata Mama ini buat tempat kumpul aja kalau besok bertahun-tahun lagi semua anaknya udah nikah dan pada punya rumah sendiri," jawab Ariel. Ia mencoba memotong satu buah mangga. "Enak banget. Pantes Elin kangen sama buah di sini."
Sinta melirik Ariel ketika menyebut nama Elin. "Sejak kapan Elin tinggal sama kalian, Mas?"
"Sejak bayi," jawab Ariel. "Dulu Mama nggak hamil-hamil lagi terus ngadopsi Elin. Baru empat tahun kemudian Mama melahirkan Gladis."
"Oh gitu. Tapi kalian akrab banget apa gimana sejak dulu?" tanya Sinta.
"Ya biasa kayak sodara aja. Tapi aku kan pas ambil S2 sama S3, aku di luar negeri, Elin baru masuk SMA kayaknya. Pas aku pulang, Elin udah mulai kuliah. Elin tuh jarang di rumah karena banyak kegiatan di luar, dia bukan anak yang gampang diatur terus doyan di rumah," ujar Ariel.
"Jadi, kamu jarang bareng sama Elin?"
__ADS_1
Ariel mengangguk. "Waktu kecil ya bareng terus. Kalau sekarang ... baru sejak dia ikut bareng kita jadi sering ketemu," jawab Ariel. Ia menyodorkan potongan buahnya ke depan bibir Sinta. "Cobain aja ini enak banget."
"Makasih." Sinta mengunyah dengan senang.
"Aku mau liat-liat kamar dulu, kamu makan aja. Aku mau ambil beberapa buku lama aku," kata Ariel seraya berdiri.
"Oke, Mas. Nanti aku nyusul ke atas."
Sinta menghabiskan siang itu dengan berselancar di dunia maya. Ia memposting beberapa hasil jepretan kue buatannya ke akun jualannya. Ia juga membalas beberapa sapaan customer. Sinta tak sadar waktu sudah berlalu cukup lama.
"Mas Ariel masih di atas," gumamnya. Ia pun bergegas menaiki anak tangga. Ia sudah cukup lama tidak datang ke rumah ini sejak ia menikah dengan Ariel. Jadi, beberapa ruangan membuat ia agak bingung.
"Ini kamar Elin?" gumamnya. Ia hampir kembali menutup pintu kamar itu, tetapi ia kembali membukanya ketika melihat deretan piala dan piagam di sana. "Ini pasti kamar Gladis."
Karena penasaran, Sinta pun memutuskan untuk masuk ke kamar itu. Ia tidak begitu mengenal Gladis karena hanya berkenalan beberapa kali. Lagipula, baginya Gladis lebih mirip dengan ibu mertuanya, Maria, secara sifat. Gladis selalu menatapnya sinis setiap kali bertemu, Gladis juga juga sangat sombong meskipun jauh lebih muda darinya.
"Kamu liat apa?"
"Nggak usah heran, Gladis emang jenius. Dia pinter banget dan aktif di berbagai lomba," ujar Ariel seraya ikut-ikutan menatap etalase piala milik adiknya.
"Dia suka baca juga," ujar Sinta ketika melihat setumpuk novel di dalam kardus kecil. Ia duduk di tepi ranjang lalu melihat-lihat novel remaja tersebut.
"Suka, tapi kebanyakan dia ambil dari koleksi Elin. Mungkin itu nyampur sama punya Elin," kata Ariel seraya mengintip ke kotak kardus Gladis.
"Aku pinjem boleh kali ya? Bagus-bagus daripada aku gabut di rumah," ujar Sinta sembari membolak-balik beberapa halaman buku.
"Boleh dong. Nanti aku chat Gladis atau kamu sendiri aja yang chat," kata Ariel. "Dibawa aja semua. Ini cuma dikit, punya Elin ada banyak di kamarnya. Kamu mau liat?"
__ADS_1
"Nggak, Mas. Ini aja udah banyak. Selusin lebih," jawab Sinta.
"Oke. Nanti biar aku bawa ke bawah. Kita siap-siap pulang sekarang ya," ajak Ariel.
"Ngapain pulang sekarang? Ini kan masih siang, Mas. Nanti sore aja pulangnya. Aku belum selesai liat-liat rumah," kata Sinta dengan nada manja.
"Tapi kita ninggalin Elin di rumah. Nggak enak juga kalau Budhe Sarti kelamaan di rumah kita, ini kan hari libur Budhe. Kamu nggak kasian, kalau kita pulang sore, malem baru nyampe rumah," kata Ariel mengingatkan.
Sinta mendadak cemberut. "Rupanya kamu kepikiran Elin, padahal kita baru hari ini pergi berdua," kata Sinta. Ariel menatap Sinta kaget. "Elin kan ada yang jagain, Mas. Lagian dia juga nggak papa kan. Bukannya lagi sakit."
"Iya aku tahu. Tapi dia dari beberapa hari yang lalu udah nungguin mangganya, Sayang." Ariel mengusap punggung Sinta dengan lembut. "Aku nggak cuma mikirin Elin, aku juga nggak enak sama Budhe Sarti."
Sinta mendengus. "Kamu kan udah bayar mahal Budhe Sarti, Mas. Kenapa juga harus cemas. Aku capek mau tiduran bentar, Mas. Di sini nggak papa deh. Boleh kan aku tidur bentar, Mas?"
Sinta membaringkan dirinya di atas ranjang Gladis. Ia masih ingin berduaan dan tak ingin Ariel cepat pulang hanya demi Elin.
"Kamu bisa tidur di mobil kalau capek, Sayang. Ini udah mau jam 1.00. Kita bakal nyampe malam kalau nanti-nanti. Yuk," kata Ariel seraya memijat betis Sinta. "Sayang, jangan tidur dong."
"Tiduran dulu, Mas. Apa kamu nggak capek nyetir bolak-balik?" tanya Sinta. Ia meraih tengkuk Ariel ketika pria itu menundukkan badannya.
"Ya capek, tapi ... kita harus pulang, Sin." Ariel merasakan tangan Sinta menarik tengkuknya lebih kuat, tetapi tetap lembut. Melihat Sinta berbaring dengan tatapan bergairah, membuatnya ikut terbakar.
"Di sini sepi banget, Mas. Kita cuma berdua lho. Kamu nggak mau?" goda Sinta seraya mengalihkan sentuhannya di punggung Ariel.
"Istri aku nakal juga kalau lagi gini," ujar Ariel seraya tertawa kecil. "Aku jadi nggak pengen, pulang pengen main-main sama kamu."
Sinta tersenyum puas. Ia merasakan ciuman Ariel kini. Tentu saja, ia tak ingin melewatkan kesempatan berdua saja dengan Ariel. Apalagi ia sedang jauh dari madunya. Ia ingin Ariel hanya fokus padanya, pada tubuhnya! Jadi, ia segera beraksi ketika Ariel lengah. Ia ingin membuktikan pada Ariel, bahwa ia masih bisa memanjakan seorang suami meskipun ia sudah cacat.
__ADS_1
Aksi Sinta berhasil membuat Ariel lupa segalanya siang itu. Ariel tak ingat bahwa Elin sedang menunggunya di rumah. Ia bahkan tidak menelepon Elin atau Budhe Sarti. Ia hanya menikmati Sinta yang sedang membuatnya panas dingin dengan bergoyang tak keruan di atas tubuhnya.
Ariel tak tahu berapa lama waktu mereka melakukan penyatuan, tetapi ia merasa sangat senang. Sinta selalu bisa memuaskannya dan ia selalu ingin lebih. Mereka baru memutuskan pulang, setelah beberapa menit beristirahat usai aksi panas mereka berdua.