
"Kamu udah masukin semua barang kamu?" tanya Ariel ketika mereka sudah bersiap untuk meninggalkan motel.
"Udah kok," jawab Elin datar. Ia masih duduk di tepi ranjang sementara Ariel memasukkan bajunya ke dalam tas kecil yang ia beli di sana. "Apa setelah ini, aku harus terus tinggal di rumah?"
Ariel menatap Elin sembari menarik resleting tasnya. "Lebih baik kayak gitu. Kalau kamu keluar, aku khawatir ada orang yang curiga. Aku janji nggak bakal bikin kamu bosan di rumah. Aku bakal sering temenin kamu."
"Mbak Sinta nggak bakal marah?" tanya Elin lagi.
"Sama seperti kamu yang cemburu sama aku dan Sinta, aku yakin Sinta juga pasti cemburu kalau aku temenin kamu," kata Ariel seraya mendekati ranjang. Ia merangkul Elin dan merengkuh wajahnya. "Tapi semuanya bakal terbiasa. Kamu jangan khawatir. Kamu tahu Sinta wanita yang baik."
Elin tertawa dalam hati. Yah, sebelumnya ia selalu mengira Sinta adalah wanita yang baik. Namun, belakangan ini Sinta agak kejam padanya. Sekarang setelah ia dan Ariel mengingkari perjanjian itu, ia yakin kebaikan dalam diri Sinta tak akan tersisa lagi.
"Kalau gitu, aku mau Kakak jagain aku baik-baik," kata Elin.
"Apa?" tanya Ariel tak mengerti.
"Aku cuma ... aku takut Mbak Sinta bakal benci sama aku. Dan aku tahu, Kakak pasti bakal belain Mbak Sinta kalau ada apa-apa. Aku ...."
"Dia nggak benci sama kamu, El." Ariel mengeratkan rangkulannya. "Aku bisa jaga kamu, jangan khawatir. Oke? Kita ke pelabuhan sekarang?"
"Kakak bakal adil sama aku kan?" tanya Elin ragu.
"Tentu aja, kamu bisa pegang kata-kata aku." Ariel mendaratkan kecupan di bibir Elin sekali. "Aku bisa bikin kamu bahagia hingga kamu melahirkan nanti. Dan mungkin, kamu juga nggak perlu pergi setelah melahirkan. Kita bisa ngerawat bayi ini bareng-bareng."
Kedua mata Elin mengembun. Sekarang, ia bisa merasakan kedutan-kedutan kecil di perutnya yang lebih sering. Jika ia memiliki kesempatan untuk merawat bayi itu, maka itu jauh lebih baik. Apakah cukup egois jika ia juga menginginkan bayi itu?
__ADS_1
"Jangan nangis," bisik Ariel seraya mengusap pipi Elin dengan ibu jarinya. Dengan lembut, Ariel pun mencium bibir Elin.
"Aku mau tahu," ujar Elin ketika Ariel berhenti menciumnya. Ariel mengangguk pelan. "Kenapa Kakak cium aku? Kakak cuma mau bujuk aku agar aku mau pulang atau ... Kakak bersungguh-sungguh menginginkannya?"
Ariel berdebar seketika. Ia begitu terlena hingga ia bisa melakukan banyak hal yang tak pernah ia bayangkan pada Elin, termasuk mencium dan bercinta dengannya. Elin sangat cantik, berani dan menggairahkan. Sungguh bohong jika Ariel tidak menginginkan Elin.
"Aku menginginkan kamu," bisik Ariel. Ia mungkin sudah bertindak lebih liar jika ia tidak ingat mereka harus segera ke pelabuhan. Berciuman dengan Elin mampu membangkitkan senjatanya yang tidur tenang beberapa saat yang lalu. "Kita bener-bener harus pulang, El."
"Oke, ayo." Elin mendekap tubuh Ariel sekali lagi. Ia agak takut jika ia pulang, Ariel akan kembali memperlakukan dirinya seperti tak pernah ada. Setelah 2 malam panas yang mereka lalui dengan Ariel, ia tentu tak mau diperlakukan seperti itu lagi.
***
Di tempat lain, Galang juga baru bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Nareswari. Ia baru saja memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Kedua matanya tiba-tiba terpaku pada sosok Ariel dan Elin yang berjalan berdua menuju parkiran mobil. Galang sontak bergerak memutari mobilnya dan sedikit merunduk agar ia tak terlihat oleh keduanya.
"Apa yang kamu sembunyikan, El?" gumam Galang lagi.
Kali ini Galang dibuat kaget dengan aksi Ariel yang merangkul Elin rapat-rapat. Mereka bertatapan ketika mengobrol sembari berjalan dan tersenyum satu sama lain. Dari kejauhan pun, Galang bisa menafsirkan bahwa gestur keduanya tidak tampak seperti adik dan kakak.
"Itu nggak wajar," ujar Galang seraya menegakkannya dirinya. Ariel dan Elin sudah masuk ke mobil. Jadi, ia pun menyusul. Ia menggunakan mobil ibunya, jadi Elin tak akan tahu jika ia mengikuti mereka.
Rupanya, tujuan mereka sama yakni pelabuhan. Galang sudah membeli tiket ketika ia datang ke Pulau Nareswari, jadi ia berhenti di dekat pembelian tiket. Ia menunggu beberapa saat hingga mobil mereka berada di antrian untuk masuk kapal. Galang yakin 100% bahwa Elin memang hanya berdua saja dengan Ariel.
Sebenarnya, Galang tak ingin curiga dengan Elin dan Ariel karena mereka adalah saudara. Namun, mereka berada dalam 1 kamar yang sama dan ia ingat, Elin bukanlah saudara kandung Ariel. Entah kenapa di kepala Galang kini penuh dengan banyak spekulasi yang menurutnya sendiri tak masuk akal.
"Nggak mungkin kan Elin hamil dan nikah sama kakak angkatnya sendiri," gumam Galang.
__ADS_1
Hingga mobil mereka keluar dari kapal Galang masih mengikuti mobil merah Ariel. Ia langsung tahu tujuan mobil Ariel tak lain adalah ke rumahnya. Galang pernah datang ke rumah Ariel, jadi ia tidak sulit mengikuti mereka. Ia menghentikan mobilnya di dekat tikungan rumah Ariel.
"Bego banget sih. Ngapain aku ngikutin Elin kayak gini? Ini bukan urusan aku," ujar Galang. Ia tak ingin membuang waktu dan langsung melajukan mobilnya menjauh dari perumahan Ariel. Ia hanya bisa mendoakan Elin agar gadis itu baik-baik saja dengan segala urusan miliknya.
***
Sementara itu, di dalam rumah Sinta baru saja mondar-mandir. Ia sudah mendengar bahwa Ariel dan Elin akan segera pulang. Jadi, ia sudah mempersiapkan banyak hal. Ia begitu resah selama 2 hari terakhir karena Ariel tidak pulang. Apalagi ia mendapat beberapa pertanyaan dari Budhe Sarti. Ia harus berbohong dengan mengatakan bahwa Elin sedang pulang kampung.
Jantung Sinta berdebar semakin keras ketika ia mendengar suara mobil Ariel memasuki halaman rumah mereka. Ia membuang napas panjang sebelum akhirnya membuka rumah dan berdiri di ambang pintu untuk menyambut keduanya.
Sinta menatap ke mobil Ariel ketika Elin baru keluar dari mobil sementara Ariel mengambil tas dari bagasi belakang. Kedua matanya bertatapan dengan Elin, tetapi kemudian Ariel memotong pandangannya karena ia berdiri di depan Elin.
"Kalian udah pulang?" Sinta mendekati Ariel lalu memeluk lengannya. Ia menatap Elin yang berdiri di belakang Ariel. "Kamu udah puas bermain-main?"
"Aku nggak main-main," kata Elin datar. "Aku bisa pergi lebih jauh jika aku ingin. Tapi Kakak pengen aku pulang, jadi aku pulang."
Sinta tersenyum miring. Ia bisa merasakan kelicikan dalam nada suara Elin barusan. Jika saja Elin tidak sedang mengandung, ia sungguh ingin menjambak rambutnya. Sungguh mengesalkan! Ia yakin Elin sudah tidur dengan Ariel selama 2 malam terakhir dan itu membuatnya teramat sakit.
"Ayo masuk, kasihan Elin. Dia butuh istirahat," kata Ariel yang merasakan ketegangan di antara 2 istrinya.
***
Haii, aku mau promo karya kece nihhh. Jangan lupa mampir yaaa.
__ADS_1