
Beberapa hari kemudian, Sinta sudah diperbolehkan pulang oleh tim dokter. Begitu masuk ke rumah, kedua mata Sinta terpaku pada pintu kamar calon bayinya yang ada di lantai dua. Spontan, mata Sinta langsung basah. Sebenarnya ia ingin mampir ke makam bayinya, tetapi Ariel tidak ingin membawanya ke sana karena takut ia akan lebih sedih lagi.
"Ayo ke kamar, Sayang," ajak Ariel seraya menarik lengan istrinya.
"Mas, aku mau liat kamar bayi kita dulu," kata Sinta.
"Oke. Tapi kamu lama-lama di sana. Mungkin, kita bisa beresin semua kalau kamu nggak kuat ngeliatnya," kata Ariel memberi saran.
Sinta menggeleng keras. "Nggak, Mas. Aku nggak papa."
Dengan langkah berat, Sinta pun berjalan menaiki anak tangga. Ia merasa lemas begitu ia tiba di depan pintu kamar bayi, apalagi ketika Ariel membuka pintu tersebut. Hatinya seperti dirobek seketika. Ia sudah membeli banyak sekali mainan, buku dan baju-baju menggemaskan untuk bayinya.
"Ya Allah," gumam Sinta. Ia terisak ketika berdiri di depan boks bayi. Dengan lemah, ia mengangkat guling kecil yang tergolek di sana. Seharusnya, ini menjadi tempat tidur bayinya. Seharusnya, bayinya ada di sini sebentar lagi.
Karena Sinta menangis lebih keras, Ariel pun memutuskan untuk membawa Sinta keluar. Ia hendak meletakkan kembali guling kecil itu ke dalam boks, tetapi Sinta memeluknya begitu erat. Jadi, ia pun membiarkannya saja lalu ia merangkul Sinta keluar.
Isak tangis Sinta yang cukup keras rupanya didengar oleh Elin. Mereka bertemu di depan kamar tersebut. Elin menatap Sinta sedih, pasti Sinta sangat terpukul. Sinta bahkan memeluk guling bayinya begitu erat seolah itu adalah bayinya sendiri.
"Mbak, udah pulang," ujar Elin.
Sinta mengangguk, meskipun ia masih menangis. "Aku mau ke kamar dulu."
"Iya. Ayo, Sayang." Ariel pun membawa Sinta pergi dari hadapan Elin.
Elin masih mematung di tempatnya berdiri. Sudah berhari-hari sejak ia keluar dari rumah sakit, tetapi ia masih mendapatkan tatapan tajam dari Ariel ketika mereka bertemu. Ariel bahkan tidak banyak bicara dengannya. Jadi, elin juga lebih banyak berada di kamar untuk mengerjakan naskahnya. Ia akan kembali bekerja lusa, jadi ia harus mempersiapkan banyak hal.
Selama beberapa hari pertama di rumah, Sinta masih banyak menangis. Apalagi jika ia masuk ke kamar bayinya yang kosong. Ia langsung meratapi nasib bayinya yang begitu malang. Itu membuat Ariel begitu tersiksa. Ia selalu ingin membuat Sinta bahagia dengan menikahinya, tetapi sekarang Sinta justru terus berduka.
Ariel tidak ingin meninggalkannya Sinta sendirian di rumah, jadi ia mulai menyewa seorang perawat untuk menjaganya di siang hari. Ia juga rutin membawa Sinta ke dokter serta psikiater karena tak ingin istrinya semakin terpuruk. Beruntung, setelah beberapa minggu berlalu, kondisi Sinta semakin membaik. Ia tidak banyak menangis lagi meskipun ia belum pulih sepenuhnya.
Dan hari itu, ketika 6 bulan berlalu sejak kecelakaan terjadi, Sinta sedang menyiapkan sarapan untuk Ariel dan Elin. Terkadang, Elin tidak ikut sarapan karena ia lebih suka makan di kantornya. Itu yang Sinta tebak, padahal sebenarnya, Elin menghindari momen berkumpul bersama dengan Ariel dan Sinta. Selain karena terkadang ia merasa cemburu akan perhatian Ariel pada Sinta, ia juga merasa ia tak tahan jika Ariel memberinya tatapan sengit.
"Pagi, Mbak," sapa Elin. Ia baru saja meletakkan tasnya di kursi lalu berjalan ke dapur untuk menyeduh teh.
__ADS_1
"Kamu sarapan di rumah aja, aku udah bikin nasi goreng nih," kata Sinta.
"Ehm, oke. Aku bikin teh anget, Mbak mau?"
"Nggak. Aku sama Ariel minum jus jeruk aja," jawab Sinta. Ia mengambil beberapa piring lalu membawanya ke meja makan. Ia hampir membawa wadah nasi gorengnya, tetapi Elin sudah lebih dulu mengangkatnya ke meja makan.
"Pagi, Sayang." Ariel merangkul Sinta lalu mencium pipinya seperti biasa. Ia baru saja turun dari lantai atas untuk sarapan. Ia agak terkejut karena melihat Elin bergabung dengan mereka di meja makan. Biasanya mereka akan menikmati sarapan berdua saja.
"Aku ambilin jus jeruk dulu," kata Sinta seraya melepaskan dirinya dari pelukan Ariel. Ia berlalu ke dapur lalu membuka kulkas. Setelahnya ia pun menuangkan jus jeruk ke dalam dua gelas.
Sementara itu, Ariel tengah mengamati Elin yang sedang menyendok nasi goreng. "Kamu mau pergi?" tebaknya. Biasanya Elin hanya akan ikut sarapan dengan mereka jika ia harus pergi ke luar kota dan tak pulang selama beberapa hari.
"Ehm, aku nggak pulang nanti. Mungkin tiga atau empat hari baru pulang," kata Elin. Ia menatap Ariel was-was. Ariel cukup protektif padanya jika ia harus ke luar kota, dan ini adalah pertama kalinya ia pergi ke luar kota setelah ia mengalami kecelakaan. Ia juga tak memiliki mobil lagi, jadi ia hanya mengandalkan teman atau angkutan umum.
"Kamu bakal nginep di luar?" tanya Ariel.
Elin mengangguk. "Ada proyek film dan aku harus datang untuk liat syutingnya. Ada banyak temen, tenang aja."
Elin mengangguk lagi. Ketika itu, Sinta sudah datang dengan dua gelas jus jeruk. Ia meletakkan keduanya lalu menatap Elin. "Ada progres apa kamu sama Galang?"
"Nggak ada, Mbak. Kami kan cuma partner kerja. Aku udah selesai sarapannya, Mbak. Aku berangkat sekarang ya."
"Kamu pergi sama siapa?" tanya Sinta.
"Sendiri. Aku nyewa ojol buat ke kantor, nanti dari sana aku bareng yang lain," jawab Elin. Ia berdiri untuk membawa piring kosongnya ke dapur. Ia sengaja makan dengan porsi kecil dan sangat cepat karena ia tak mau melihat Ariel dan Sinta berduaan.
"Hati-hati," kata Sinta pada Elin yang baru saja mencangklong tasnya.
"Iya, Mbak." Elin melirik Ariel. Pria itu bahkan tidak menatapnya. "Aku pergi dulu, Kak."
"Ya." Ariel merespon singkat kata pamit Elin.
Sinta menatap suaminya dengan penuh perhatian. Ia sudah melihat bagaimana Ariel memperlakukan Elin selama beberapa bulan terakhir sejak kecelakaan itu terjadi. Walaupun Ariel selalu berkata bahwa ia sudah ikhlas akan semuanya, Sinta tahu Ariel masih menyalahkan Elin atas kejadian naas tersebut.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu mau kayak gini sama Elin, Mas?" tanya Sinta memecah keheningan.
"Maksud kamu?" Ariel menatap Sinta penuh tanya.
"Kamu tahu maksud aku, Mas. Elin ... kecelakaan itu bukan salah Elin, Mas. Kamu nggak boleh cuekin Elin terus. Dia jadi nggak betah di rumah kalau aku perhatiin," ujar Sinta.
"Dia kan emang gitu, lebih suka di luar daripada di rumah. Seneng-seneng kali sama pacarnya, atau sama temen-temennya," kata Ariel dengan nada mencela. "Bahkan dia bisa nginep berhari-hari di luar sana."
"Itu kan karena dia kerja, Mas," kata Sinta. "Aku mau kamu maafin Elin, Mas. Plis, aku nggak suka ada ketegangan di rumah."
Ariel mengusap pipi Sinta dengan lembut dan tersenyum. "Kamu tenang aja, Sayang. Aku kerja dulu ya."
Ariel mendaratkan ciuman di bibir Sinta ketika berpamitan. Seperti biasa, ia pun meninggalkan rumah dan segera ke kantor. Sementara itu, Sinta membersihkan alat makan mereka. Ia tidak memiliki banyak pekerjaan di rumah karena Ariel menyewa seseorang untuk bagian bersih-bersih dan mencuci. Dulunya Sinta sering membuat kue-kue kering premium dan dijual secara online, tetapi setelah ia hamil, Ariel memintanya untuk tidak bekerja lagi. Dan sekarang, karena ia sudah cukup sehat, Sinta berniat untuk mencoba berjualan lagi.
Sinta baru saja hendak membuka media sosial tempatnya berjualan, tetapi tiba-tiba ia mendapat telepon dari Maria, ibu mertuanya. Sinta duduk kembali di ruang makan dengan gusar karena jika Maria menelepon, ia tak hanya akan menanyakan kabar, tetapi ia pasti ditanyai tentang kapan ia bisa hamil lagi.
"Halo, Ma." Sinta menyapa Maria dengan gugup.
"Halo, Sin. Mama nggak bisa tidur lagi nih. Tadi udah merem terus Mama mimpi," kata Maria.
"Ah, Mama sehat kan di situ? Gimana Papa sama Gladis?" tanya Sinta.
"Alhamdulillah. Gladis seperti biasalah, prestasinya nggak usah diragukan. Papa sehat, itu udah tidur," ujar Maria. "Ehm, Sin, kamu udah isi lagi belum? Mama tuh ngimpi gendong bayi kecil. Ini sama persis kayak waktu kamu ternyata hamil itu. Apa kamu udah hamil lagi? Mama nyampe deg-degan ini pengen denger kabar bahagia."
Sinta menggigit lidahnya karena ia sadar, kabar bahagia itu tidak akan pernah datang. Ia ingin berbohong pada mertuanya, tetapi ia tak bisa. "Ehm, belum, Ma. Aku belum hamil lagi."
"Kamu serius? Coba dicek, mimpi Mama tuh jelas banget. Mama udah ngarep banget punya cucu lagi, kalau kamu nggak hamil-hamil rasanya kok kecewa banget ya."
"Maaf, Ma," ujar Sinta lirih.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Jangan lupa usaha terus kamu sama Ariel, Mama tunggu kabar baiknya!"
Sinta membuang napas panjang begitu panggilan mertuanya terputus. Ia menunduk dalam-dalam lalu mulai menangis. "Kabar bahagia itu nggak akan pernah ada."
__ADS_1