
Elin mencium aroma kue ketika ia turun ke lantai bawah. Namun, kali ini ia mencium aroma yang begitu sedap alih-alih aroma sangit seperti siang tadi. Elin hanya menebak, Sinta mungkin membuat ulang kue untuk Ariel.
Yah, sebentar lagi Ariel akan pulang. Tak sampai sejam lagi karena baru saja Ariel mengirimkan pesan bahwa ia sudah di jalan untuk pulang lebih cepat. Jadi selagi Sinta masih berkutat di dapur, Elin pun mandi dan mengganti pakaiannya serapi mungkin untuk menyambut Ariel.
Elin duduk di sofa, membuka ponselnya untuk membaca beberapa artikel. Ia menoleh ke dapur dan melihat Sinta baru keluar dari sana. Sinta sudah mengganti baju yang ia pakai siang tadi, padahal Sinta belum mandi sore.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Sinta. Sebenarnya Sinta lebih senang jika ia yang menyambut kepulangan Ariel. Dulu, Ariel selalu memeluk dan menciumnya ketika pulang bekerja. Namun kini, itu seperti sebuah kompetisi. Siapa yang lebih dulu dijumpai Ariel di depan pintu, maka dialah yang akan mendapatkan hadiah itu.
"Aku cuma duduk-duduk," kata Elin. Ia tak tahu apakah Ariel juga mengirim pesan pada Sinta bahwa ia akan pulang cepat atau tidak. "Mbak Sinta mandi aja dulu."
Sinta mendengus karena ia harus mengalah pada Elin sore ini. Ia memang masih belepotan dengan beberapa krim dan tepung di wajah dan tangannya. Jadi, mandi memang saran terbaik.
Tak lama, ketika Sinta turun kembali usai mandi, ia mendengar suara bel berdenting. Karena sore hari waktunya para penjaga pulang, maka mereka tak akan lagi ada di depan rumah. Miko pun pasti sudah pulang, pikir Sinta resah. Ia merutuk karena kini ia sedang menunggu kepulangan Ariel, tetapi ia justru memikirkan Miko.
Sinta hampir sampai di dasar anak tangga ketika Elin dengan ceria berjalan menuju pintu depan. Sinta mengepalkan tangan karena walaupun ia sudah buru-buru mandi, ia tak bisa menjadi istri yang menyambut suaminya pulang bekerja hari ini.
Sementara itu, Elin dengan senyuman lebar membuka pintu. Ia masih tersenyum ketika ia bisa melihat sosok di depannya.
"Elin?"
Senyum Elin sepenuhnya padam ketika yang ia lihat bukanlah Ariel, tetapi Maria, ibunya. Elin mundur selangkah ketika ia merasakan tatapan sang ibu tertuju pada perut besarnya.
"Elin, kamu ... kenapa kamu bisa hamil?" tanya Maria kaget.
Elin menyentuh perutnya kaget. Ia kembali mundur ketika tiba-tiba Sinta mendekat. Sama seperti Elin, ia begitu kaget melihat sang mertua datang tanpa diundang dan tanpa pemberitahuan.
__ADS_1
"Ma ... Mama," kata Sinta gugup.
Maria kini menatap tubuh ramping Sinta. Ia membelalak karena seharusnya perut besar itu ada di tubuh Sinta alih-alih putrinya..
"Apa maksud semua ini? Bukannya kamu bilang ... kamu akan segera melahirkan cucu Mama?" tanya Maria bingung. "Kenapa malah Elin yang hamil?"
Elin kembali mundur. Ia merasakan perutnya mengeras saat ini. Ia mungkin terlalu kaget hingga bayinya ikut khawatir. "Mama ... sebenarnya ...."
Elin dan Sinta bertukar tatap. Sinta sudah lebih dulu menangis karena takut ia akan disingkirkan dari keluarga ini jika Maria tahu ia adalah wanita cacat. Sementara Elin jelas bertanya-tanya dalam hati kenapa ibunya bisa muncul secara mendadak.
"Mama tanya sama kalian!" hardik Maria. "Mana Ariel? Kenapa ... kenapa ada kebohongan di sini?"
"Mama duduk dulu," kata Sinta dengan gusar.
Maria menatap sengit Sinta. Ia paling tidak suka bicara dengan Sinta, apalagi dibohongi oleh Sinta. Ia mengira, ia akan melihat Sinta dalam keadaan hamil besar. Ah, pantas saja selama ini Sinta ataupun Ariel tidak pernah mengirimkan foto kehamilan. Rupanya, ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Mas Ariel belum pulang," jawab Sinta. Ia menoleh pada Elin yang memucat. "Sebentar lagi pasti Mas Ariel datang."
Maria menatap Sinta sengit. "Kamu angkat tas Mama!"
Maria melangkah masuk ke rumah, karena ia begitu marah sudah dibohongi Sinta, ia jadi sedikit lupa dengan Elin. Ia pun menoleh pada Elin yang merapat ke tembok.
"Apa yang terjadi sama kamu, El? Kenapa kamu bisa hamil? Kamu bahkan belum menikah," kata Maria. "Apa kamu juga bohongi Mama? Kamu ... siapa yang menghamili kamu?"
Elin menggeleng padahal ia hanya tinggal berkata bahwa itu bayi Ariel. Namun, itu adalah pengkhianatan. Ia tak akan mendapatkan restu. Ia yakin ibunya akan lebih marah jika tahu ia hamil anak Ariel dibandingkan dengan ia hamil anak pria lain.
__ADS_1
"Mama duduk dulu, ayo," kata Sinta yang telah mengangkat masuk tas Maria. Dari luar, Sinta bisa mendengar suara deru mobil Ariel. "Mas Ariel udah pulang. Kita ngobrol bareng."
"Ngobrol? Setelah semua kebohongan kamu?" tanya Maria ketus. Ia merasa kepalanya berputar begitu keras. Karena di satu sisi ia memikirkan kehamilan Elin dan ia juga memikirkan kebohongan Sinta dan Ariel. Ia tak bisa menebak apa yang terjadi di sini. "Sebenernya ... ada apa ini? Kenapa kamu nggak hamil dan justru Elin yang hamil?"
Pertanyaan itu terdengar oleh Ariel yang baru saja mencapai teras. Dengan cepat, ia pun masuk. Ia membelalak karena melihat ibunya ada di sana.
"Mama ... Mama kok udah di sini?" tanya Ariel.
"Mama sengaja pulang ke Indonesia lebih cepat untuk menyambut cucu Mama," kata Maria dengan nada getir. Ia menunjuk ke arah Sinta. "Kamu bilang bulan ini cucu Mama akan lahir, tapi ... kenapa perut Sinta kempes? Apa bayinya udah lahir atau ... kalian hanya berdusta?"
Ariel menatap Sinta yang menangis karena takut. Ia yakin, Sinta begitu cemas jika Maria tahu Sinta tak akan bisa memberikan keturunan. Ia lalu menatap Elin yang hanya menunduk. Ia bisa melihat gestur takut Elin yang meremas gaunnya.
"Mama tenang dulu, nggak usah teriak-teriak," kata Ariel seraya merangkul bahu ibunya.
"Tenang? Adik kamu bahkan hamil! Dia hamil anak siapa?" tanya Maria dengan tatapan mencela ke arah Elin.
Ariel menarik lengan ibunya yang menunjuk ke arah Elin. Jelas, Elin langsung gemetar karena pertanyaan ibu mereka. "Ma, aku bisa jelasin?"
"Apa yang mau kamu jelaskan? Kamu menyembunyikan adik kamu yang sedang hamil dan kamu berbohong sama Mama kalau kamu bakal segera punya anak. Istri kamu ... dia nggak hamil! Kamu bohong padahal Mama datang untuk cucu Mama!"
"Iya, Ma. Aku ... aku nggak bohong," kata Ariel. Ia menatap kedua istrinya bergantian. Sinta menggeleng keras karena ia tak ingin kalah dari Elin. Ia takut jika ia akan semakin dibenci mertuanya dan barangkali Elin akan diterima karena bisa memiliki bayi.
"Nggak bohong? Lalu, kenapa perut Sinta kempes begitu? Mana cucu Mama?" tanya Maria bingung.
Ariel menelan keras. Ia membuang napas panjang lalu berkata, "Aku bilang ... cucu Mama udah mau lahir, itu bener, Ma. Aku nggak bohong. Tapi ... bayi itu nggak lahir dari Sinta. Elin yang akan melahirkan bayi aku."
__ADS_1
"Apa?" Kedua mata Maria hampir keluar. Ia menatap Elin dan Ariel tak percaya. "Kamu hamil anak Ariel?"