
Sinta membolak-balik halaman buku harian Elin hingga ia merasa muak. Baginya, Elin sudah seperti seorang penguntit karena diam-diam mengambil foto Ariel, mencetak lalu menyimpannya di media buku seperti ini. Bahkan, ada beberapa halaman yang berisi ungkapan rasa cinta Elin pada Ariel.
Sinta mondar-mandir selama beberapa saat, ia ingin bertanya pada Ariel secara langsung. Ia penasaran apakah Ariel tahu bahwa Elin sudah lama mencintainya. Sinta hampir menekan tombol panggil pada kontak Ariel, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia juga khawatir jika Ariel memiliki perasaan yang sama pada Elin.
"Nggak mungkin!" Sinta memekik geram. "Mas Ariel nggak mungkin suka dengan Elin."
Sinta mengambil buku harian tersebut lalu meninggalkan kamar. Ia tak peduli jika ranjangnya masih berantakan dengan novel-novel milik Gladis. Ia hanya ingin bicara langsung dengan Elin.
Tanpa mengetuk pintu, Sinta menerobos masuk ke kamar Elin. Sontak, Elin yang hendak mengirimkan email berisi surat pengunduran dirinya pun terkaget. Elin berdiri pelan untuk menyambut kedatangan Sinta. Sejak Sinta marah padanya karena ia dianggap mencuri perhatian Ariel, ia belum banyak bicara dengan Sinta. Dan sekarang, Sinta terlihat sangat marah padanya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Elin gugup.
Sinta tersenyum miring. Ia mengangkat buku harian bersampul abu-abu itu. Kedua mata Elin langsung melotot pada buku tersebut. Tentu saja ia tidak tahu bagaimana buku itu bisa berada di tangan Sinta. Yang jelas, ia kaget setengah mati.
"Kamu tahu buku apa ini kan?" tanya Sinta. Di depannya Elin hanya membeku. Kedua tangan Elin berpegang pada sandaran kursi di belakang punggungnya. "Jadi, udah sejak lama kamu suka sama Mas Ariel?"
"Aku ... bisa jelasin," kata Elin seraya mengulurkan tangannya ke arah buku harian. Sinta menarik cepat sehingga ia tidak bisa meraihnya.
"Aku udah berpesan sama kamu, kamu nggak boleh jatuh sama Mas Ariel setelah kamu menikah dengan dia. Tapi ... kamu ternyata ... kamu punya perasaan lebih untuk Ariel. Apa mau kamu? Kenapa kamu menerima perjanjian itu? Kamu mau bikin Mas Ariel suka juga sama kamu?"
__ADS_1
Sinta sangat marah sekarang. Jika Elin sama sekali tidak memiliki perasaan pada Ariel, mungkin ia bisa bersabar hingga hari kelahiran bayi itu. Namun, jika Elin ternyata mencintai Ariel, ia sendiri yang takut. Ia tak ingin Ariel berpaling darinya.
Elin menggeleng keras di depan Sinta. "Nggak, Mbak. Nggak kayak gitu," tuturnya gemetar. "Kak Ariel nggak pernah cinta sama aku. Tenang aja, Kak Ariel cuma cinta sama Mbak. Aku tahu itu."
"Bagaimana aku bisa percaya? Kamu benar-benar mencintai Mas Ariel sampai kamu nulis jurnal kayak gini! Kamu mengerikan!" hardik Sinta. Ia membuka halaman buku harian Elin. "Sejak kamu SMP, kamu udah suka sama Mas Ariel. Dan sampai sekarang? Kamu masih suka kan sama suami aku?"
Air mata Elin meluruh seketika. "Balikin bukunya. Plis. Kak Ariel nggak tahu apa-apa tentang perasaan aku, jadi ... aku mau buang buku itu. Aku mau bakar aja."
"Kamu mau ngilangin bukti?" tanya Sinta dengan nada mencela. "Jawab jujur pertanyaan aku! Apa kamu masih menyimpan perasaan untuk Mas Ariel makanya kamu mau menikah siri dengannya?"
Elin menelan keras. Jika ia mengangguk, Sinta pasti akan lebih marah, tetapi jika ia menyanggah, Sinta mungkin tak akan percaya padanya.
Elin mengusap pipinya yang basah. "Cinta aku nggak pernah terbalas," ujarnya. "Kak Ariel hanya cinta sama kamu, Mbak. Dia nggak bakal membagi hatinya untuk aku. Dia cuma nganggep aku sebagai adik. Jadi, balikin bukunya! Aku mau buang buku itu biar Kak Ariel nggak pernah tahu."
"Aku mau kamu pergi!" teriak Sinta. Di depannya, Elin menatap Sinta tak percaya. "Seharusnya, kamu nggak pernah tinggal di sini! Kamu tinggal di sini supaya kamu bisa dekat dengan Mas Ariel kan? Padahal, kamu bisa ngontrak. Seharusnya aku tahu, kamu punya niat nggak bagus di sini!"
"Mbak Sinta jangan salah paham," kata Elin yang merasa pembicaraan ini sudah semakin tak keruan. "Aku pasti bakal pergi. Setelah bayinya lahir, aku emang mau pergi."
"Bagus! Jangan pernah kamu nongol lagi di depan Mas Ariel!" bentak Sinta.
__ADS_1
Elin kembali meneteskan air mata karena bentakan Sinta. "Aku udah bertahun-tahun nyimpen perasaan aku sama Kak Ariel. Aku nggak pernah pengen Kak Ariel tahu. Mbak Sinta tenang aja, kalau emang aku punya niat buruk buat Kak Ariel, udah dari dulu aku bakal ngelakuin itu. Bahkan sebelum Kakak nikah sama Mbak.
"Tapi aku sadar diri, aku adalah anak yang diangkat oleh orang tua Kak Ariel. Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah bisa sama Kak Ariel. Mbak nggak usah marah-marah. Aku sama sekali nggak pengen rumah tangga Kak Ariel berantakan. Aku selalu pengen liat Kak Ariel bahagia sama kamu, Mbak. Jadi, plis, kita buang aja buku itu," pinta Elin.
Sinta mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa lagi mempercayai Elin sekarang. "Aku simpan kata-kata kamu, begitu bayinya lahir, kamu harus pergi dari sini meskipun Ariel menahan kamu. Paham?"
"Ya. Aku bakal pergi," tukas Elin. Hatinya terasa begitu pedih ketika ia mengatakan hal tersebut. Namun, ia tahu, jika ia terus berada di sini, ia sendiri yang akan semakin terluka. "Mbak Sinta dapat buku itu dari mana? Kenapa buku itu bisa ada sama kamu, Mbak?"
Sinta tersenyum miring. "Bukan urusan kamu! Yang jelas, aku udah tahu rahasia busuk kamu! Aku sendiri yang bakal bakar buku ini. Aku juga nggak mau Mas Ariel tahu," kata Sinta. Ia menatap ke sekeliling kamar Elin. "Apa masih ada lagi buku semacam ini? Apa kamu menyimpan folder tertentu di laptop dan ponsel kamu?"
Elin menggeleng pelan. Ponselnya memang telah rusak ketika kecelakaan dan tak bisa dipulihkan. Namun di laptopnya, ia masih menyimpan beberapa foto Ariel dengannya.
"Jangan manja-manja lagi sama Mas Ariel dengan alasan kamu sedang hamil! Aku bakal marah jika kamu ngelakuin itu. Ingat, kamu hamil hanya karena sebuah perjanjian. Kamu memang istri kedua Mas Ariel, tapi kamu tidak berhak atas cinta Mas Ariel!"
Elin merasa jantungnya seperti tengah diremas. Ia tak bisa bernapas lega karena rasa sakit yang menjalari hatinya. Ia menatap Sinta yang baru saja membalik badan lalu keluar dari kamar. Tubuh Elin langsung merosot ke lantai. Ia tidak tahu bagaimana Sinta bisa mendapatkan buku hariannya. Ia yakin sudah menghilangkan buku itu di suatu tempat, ia sendiri lupa. Namun, dulu ia tidak pernah bisa menemukan buku itu.
Elin kemudian ingat, Ariel dan Sinta baru saja mengunjungi rumah orang tua mereka. Jadi, kemungkinan Sinta mendapatkan buku itu di sana, tetapi di mana? Jika di kamarnya ia sendiri tak menemukan buku itu, apakah buku itu ada pada Ariel, ibunya, ayahnya atau Gladis?
Elin memijat keningnya gusar. Elin ingat, Gladis yang paling sering masuk ke kamarnya dan mengambil benda-benda yang ia sukai.
__ADS_1
"Apa Gladis tahu?" gumam Elin seraya meremas ujung gaunnya.